fbpx
Suara Peternakan

Teknologi Pengolahan Pakan Ternak Ayam di Sulawesi Tengah

SUARAPETERNAKAN.COM – Sulawesi Tengah – Teknologi Pengolahan Pakan Ternak Ayam berbahan baku pakan lokal dengan harga yang murah. Melalui kajian aplikasi teknologi pengolahan pakan ternak unggas khususnya DOC dan parent stock.

Parents stok adalah jenis ayam yang dipelihara untuk menghasilkan Final stock. Final stock adalah ayam yang dipelihara khusus dengan tujuan untuk menghasilkan telur melalui berbagai persilangan dan seleksi.

Dalam upaya pemenuhan kebutuhan pakan ternak di Sulawesi Tengah yang berbasis home industry dengan menggunakan bahan baku pakan lokal.

Melalui pemanfaatan bahan baku pakan lokal sebagai pakan ternak akan mengurangi ketergantungan kita pada pakan impor.

Permasalahan inovasi teknologi dalam pemenuhan pakan ternak unggas berbasis bahan baku lokal skala home industry adalah belum diadopsinya oleh peternak unggas di Sulawesi Tengah sehingga ketergantungan akan pakan ternak impor masih tinggi.

Melihat kenyataan di pasaran bahwa tingginya kebutuhan pakan ternak unggas baik ayam ras pedaging, petelur di Sulawesi Tengah menyebabkan harga ternak ayam dan telur juga ikut naik.

Hal ini tergantung harga pakan ternak impor yang digunakan. Padahal, Sulawesi Tengah memiliki potensi bahan baku lokal sebagai pakan ternak yang bisa di olah dan dikembangkan sendiri. Kebutuhan pakan ternak unggas di Kota Palu dan sekitarnya diperkirakan per bulan mencapai 1,543 kg.

Untuk mengatasi ketersediaan pakan ternak secara terus menerus sepanjang tahun serta untuk mengetahui lebih jauh tentang kajian aplikasi teknologi pengolahan pakan ternak ayam bibit/parent stock, yang di buat dalam bentuk pellet dan diaplikasi langsung di kelompok FKPK Kabonena, maka ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan, yaitu:

a.Penyiapan mesin penggiling pakan (Mill), mesin pencampur (mixer), dan mesin pembuat pellet (pelleting).

b.Penyiapan bahan baku pakal lokal yang akan di olah yaitu jagung, dedak padi, tepung ikan, kedelai giling, tepung daun kelor, tepung kunyit, dan mineral mix.

c.Bahan baku tersebut dikeringkan kemudian di giling dengan menggunakan mesin penggiling

d.Kemudian seluruh bahan tersebut (ransum) dimasukkan dalam mesin pencampur (mixer) atau di campur sendiri

Selanjutnya ransum tersebut dimasukkan dalam mesin pembuat pellet sesuai ukuran yang dikehendaki dengan cara mengganti saringan pencetak pellet. Misalnya pellet bentuk bulat maka saringan mesin di ganti dengan saringan yang berlubang bentuk bulat, atau saringan bentuk butiran beras kalau menginginkan pellet bentuk butiran beras.

f.Pellet yang jadi selanjutnya dimasukkan dalam wadah karung untuk di simpan sebelum digunakan.

Terdapat beberapa keuntungan pakan ternak bila di olah dalam bentuk pellet/bentuk butiran (pelleting) yaitu antara lain dapat meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, memperpanjang penyimpanan pakan, dan terjadinya keseimbangan zat-zat nutrisi dalam pakan.

Di samping itu juga memerlukan lebih sedikit tempat penyimpanan dan biaya transportasi jika dibandingkan dengan bahan-bahan pakan penyusun pellet.

Hasil penelitian kerjasama BPPID Provinsi Sulawesi Tengah dan Lembaga Penelitian Universitas Tadulako Palu, bahwa ayam bibit/parent stock yang di kelolah kelompok FKPK Kabonena membutuhkan ransum dengan kadar protein 18,47%, dan energi metabolis 2.663 kkal Kandungan zat gizi tersebut diperoleh dari campuran jagung, dedak padi, tepung ikan, kedelai giling, tepung daun kelor, tepung kunyit, dan mineral mix.

Pemeliharaan ayam, umumnya apabila pakan disediakan dalam bentuk tepung dan biji-bijian, ayam akan memilih biji-bijinya saja dan tidak dapat mencukupi kebutuhan nutriennya, sehingga pakan perlu di buat dalam bentuk pellet. Selain mudah di konsumsi oleh ayam, pakan bentuk pellet juga dapat mencegah perilaku ayam yang selektif terhadap bahan pakan.

Kandang untuk pemeliharaan ayam bibit/parent stock menggunakan kandang lantai panggung dengan sistem slat (belahan bambu), ukuran kandang 8 m x 5 m menggunakan atap rumbia/genteng/seng/atap lain dengan tinggi lantai 1 m dari permukaan tanah.

Dilengkapi dengan peralatan kandang seperti tempat pakan, tempat air minum, brooder (indukan), timbangan, dan ember. Sedangkan vaksin dan obat-obatan yang disediakan adalah vaksin Hichner B1 diberikan pada umur 4 hari (DOC) untuk pencegahan penyakit ND, vaksin gumboro A diberikan pada umur 7 hari.

Selain itu diberikan vitamin melalui air minum yaitu Fortevit, vitachick, dan vitastress yang diberikan secara bergantian sesuai umur ternak. Untuk fumigasi/pencegahan jamur, kandang di semprot dengan desinfektan sesuai aturan penggunaan.

Penggunaan bahan baku pakan lokal jagung 53%, dedak padi 13%, tepung ikan 11%, kedelai gilimg 10%, tepung daun kelor 5%, tepung kunyit 1%, mineral mix 1% dapat menekan harga pakan sampai Rp 7.820 per kg dibandingkan dengan harga pakan komersial per kg di pasaran yang mencapai Rp 9.500 per kg.

Jadi, pengolahan pakan ayam bibit/parent stock dengan bahan baku pakan lokal tersebut di atas dapat menekan harga pakan atau dapat menghemat biaya pakan sampai 21,48%

Kebiasaan peternak dalam memelihara ayam kampung adalah dengan cara di umbar atau ayam di lepas dan dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri.

Namun cara ini di pandang kurang memiliki nilai ekonomis jika tujuan pemeliharaan untuk mencari keuntungan seperti halnya ayam pedaging/broiler atau ayam petelur.

Pola pemeliharaan ayam secara intensif dalam kandang merupakan cara yang bisa mendatangkan keuntungan untuk sebuah usaha peternakan. Kalau berbicara bisnis ayam tentu terkait dengan sumber pakan/makanan, dan persoalan pakan ini selalu menjadi permasalahan.

Perjumpaan kita kali ini akan membahas tentang teknologi pengolahan pakan ternak ayam berbahan baku pakan lokal hasil penelitian kerjasama Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Daerah (BPPID) Provinsi Sulawesi Tengah dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Di kalangan perunggasan atau kegiatan yang bergerak di bidang usaha peternakan ayam, pada umumnya sudah mengetahui bahwa biaya pakan mencapai 60-70 persen dari seluruh biaya produksi.

Tingginya biaya pakan ini perlu suatu pengetahuan dan pengalaman untuk menekan biaya pakan ayam tersebut. Program peningkatan populasi dan produktivitas ternak ayam perlu diikuti dengan penyediaan pakan yang berkualitas dan cukup tersedia setiap periode produksi melalui pemanfaatan bahan baku pakan lokal atau bahan baku pakan alternative.

Teknologi pengolahan pakan ternak ayam berbahan baku pakan lokal yang murah dan mudah di dapat perlu menjadi fokus perhatian untuk mengurangi ketergantungan makanan ternak pabrikan yang harganya cukup mahal.

Di samping itu, upaya pemanfaatan bahan baku lokal sebagai sumber pakan ternak ayam masih kurang informasinya di tingkat petani/peternak, sehingga hasil kajian aplikasi teknologi pengolahan pakan ternak ayam perlu disosialisasikan kepada petani/peternak.

Pakan ternak memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan pertumbuhan ayam yang di kelola.

Bahan pakan yang bisa diberikan pada ayam antara lain: ikan, kacang kedelai, jagung kuning, dedak padi, dan ampas tahu. Dapat juga menggunakan tepung ikan, tepung daun singkong, tepung singkong kasar, dedak padi, jagung, dedak jagung, talas, ubi kayu, kelor, serta bahan baku lokal lainnya yang cukup tersedia di lokasi.

Pakan ternak yang berbahan baku lokal tersebut bisa menghemat biaya produksi sehingga keuntungan usaha ayam bisa meningkat.

Perlu di ingat bahwa yang terpenting dalam menyusun ransum (campuran dari beberapa bahan pakan) untuk ayam harus memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam. Cara membuat/mengolah pakan ternak ayam pedaging ini cukup mudah, bahkan bisa di olah sendiri di rumah.

Pemberian pakan pada ternak ayam berbeda-beda berdasarkan kelompok umur ayam. Ayam ras petelur memiliki tiga fase pemberian pakan yaitu fase starter (anak ayam/day old chick/DOC), fase grower (dara), dan fase layer (fase bertelur).

Sedangkan untuk ayam pedaging/broiler, terdapat 2 (dua) fase pemberian pakan yang perlu diperhatikan yaitu fase starter yaitu ayam umur 0-4 minggu dan fase finisher yaitu ayam umur 4-6 minggu.

Masing-masing fase tersebut memerlukan ransum dengan kandungan nutrisi yang berbeda. Masing-masing fase pertumbuhan ayam memerlukan jumlah pakan dan kandungan protein dan zat-zat lainnya dalam pakan berbeda-beda. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter misalnya, membutuhkan pakan dengan kandungan protein ransum sekitar 22-24%, sedangkan fase finisher membutuhkan pakan dengan kandungan protein ransum sekitar 18,1-21,2 %. Pakan ayam tersebut dapat di buat dalam bentuk pellet.

Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ransum ayam adalah penggunaan secara maksimal bahan baku pakan lokal yang cukup tersedia di sekitar lokasi peternak atau di daerah tempat tinggal peternak.

Bila seluruh bahan baku pakan itu berasal dari bahan baku baku pakan lokal yang cukup tersedia di lokasi misalnya ikan, kacang kedelai, jagung kuning, dedak padi, ampas tahu, serta tulang sapi dan tulang ayam, dan lain lain sebagai sumber mineral cukup tersedia, maka kita akan mampu menekan serendah mungkin biaya pembuatan pakan atau menekan penggunaan bahan pakan impor.

Pentingnya pengelolaan pakan pada ternak ayam ini dengan memanfaatkan baku pakan lokal diperlukan suatu penelitian dalam bentuk inkubator yang langsung dilakukan di lokasi usaha ternak unggas milik kelompok.

Sumber: balitbangda.sultengprov.go.id

(Visited 83 times, 1 visits today)

Related Articles