fbpx
Suara Peternakan

Teknologi Kompor Biogas dari Kotoran Sapi

SUARAPETERNAKAN.COM- Memasak dengan menggunakan biogas dari kotoran sapi sangat trend dikalangan para peternak. Selain itu, memasak dengan memakai biogas bisa lebih hemat dibandingkan dengan gas elpiji.

Pengolahan biogas mampu memenuhi kebutuhan dapur peternak. Gas yang dihasilkan digunakan menjadi bahan bakar kompor untuk memasak.

Keberadaan kotoran sapi dilirik seiring langka dan mahalnya harga bahan bakar gas. Proses fermentasi biomassa secara anaerobik oleh bakteri methana yang menghasilkan gas methana.

Dengan adanya teknologi ini, bisa membantu pemerintah dalam mendiversifikasi energi bahan bakar minyak tanah ke energi biogas. Untuk memasak didapur maka dirancang alat biogas skala kecil atau rumah tangga. Efisien, praktis, ramah lingkungan dan aman untuk meningkatkan nilai ekonomis dari kotoran sapi.

Sumber energi alternatif cukup tersedia untuk kelangkaan BBM seperti minyak tanah dan gas. Misalnya dengan energi terbarukan dengan teknologi yang sederhana  dan cocok untuk daerah pedesaan. Energi dengan biogas yang memproses limbah bio atau bio massa di dalam alat kedap udara yang disebut digester.

Biomassa berupa limbah dapat berupa kotoran ternak bahkan tinja manusia, sisa-sisa panenan seperti jerami, sekam dan daun-daunan sortiran sayur dan sebagainya.  Namun, sebagian besar terdiri atas kotoran ternak.

Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. Produksi biogas sisa kotoran ternak juga bisa digunakan sebagai pupuk organik  pada tanaman dan budidaya pertanian. Biogas memberikan solusi masalah penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan.

Dilansir dari berbagai sumber, untuk pembuatan biogas ini yang perlu disiapkan adalah drum bekas yang telah dimodifikasi. Pipa pengalir. dan kantong plastik/drum untuk menampung gas hasil dari Kotoran sapi yang dibusukkan. Pertama, Kotoran sapi dan air dicampurkan dengan  perbandingan 1:1. Lalu dimasukkan ke dalam drum modifikasi. Lalu Setelah dirasa cukup, drum di tutup rapat agar bekteri anaerob dapat berkembang dengan baik dan dapat membantu menguraikan Kotoran sapi menjadi biogas setelah didiamkan selama seminggu. Setelah itu,  buka kran yang ada di atas drum modifikasi untuk mengeluarkan oksigen. Setelah dirasa cukup, untuk mengetes apakah ada gas atau tidak, silahkan nyalakan korek api di dekat kran. Jika menyala, segera salurkan gas tersebut ke plastik/drum penampung gas. Dari penampung gas inilah, gas dapat disalurkan ke kompor. Setelah itu, kita siap untuk memasak.

Usaha untuk selalu sosialisasi ke masyarakat tentang biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi ini akan banyak menemui kendala. Perlunya mengubah  pola pikir masyarakat. Kaena masyarakat terbiasa untuk instan. Melihat sekarang tabung elpiji sudah tersedia di mana-mana dengan harga yang cukup terjangkau.

Temperatur, derajat keasaman (pH), perbandingan air dengan Kotoran sapi, dan ukuran Kotoran sapi yang akan dijadikan umpan dalam  proses. Ini merupakan Variabel yang sangat berpengaruh dalam proses fermentasi Kotoran sapi oleh air menjadi energi biogas dalam alat biogas

Jika daerah perarairan yang banyak ditumbuhi dengan subur oleh Kotoran sapi ingin menjadikan kotoran sapi ini secara terus menerus sebagai bahan baku utama pembentuk biogas. Sebaiknya tabung fermentasi dibuat dari lubang besar yang di cor dan dihubungkan dengan tabung penampung gas yang berukuran lebih besar (200 liter).

Terus elakukan sosialisasi ke masyarakat tentang biogas yang dihasilkan dari Kotoran sapi. Karena ini sangat membantu masyarakat dalam usaha pemanfaatan Kotoran sapi menjadi biogas yang bisa digunakan sebagai bahan bakar secara gratis.

Sisa hasil fermentasi dapat digunakan juga sebagai pupuk organik.

(Visited 34 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *