fbpx
Suara Peternakan

Silase Kulit Buah Kakao untuk Pakan Ternak

Suarapeternakan.com – Silase kulit buah kakao merupakan pakan olahan hasil fermentasi secara anaerob dengan penambahan sumber karbohidrat.

 Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia. Kakao termasuk salah satu komoditas andalan daerah, penyumbang utama perekonomian, penopang pembangunan. Hampir 60 % luas pertanaman kakao dijumpai di daerah mamuju, polmas, dan Luwu. Pada ketiga daerah inilah pemerintah daerah mencanangkan pengembangan kakao melalui program pengembangan kawasan yang dikenal dengan istilah Mandalu (mandar-Luwu).

Limbah kulit buah kakao ini memiliki peranan yang cukup penting dan berpotensi dalam penyediaan pakan ternak ruminansia khususnya kambing, terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau rumput-rumputan terganggu pertumbuhannya, sehingga pakan hijauan yang tersdia kurang dan kualitasnya daerah. Akibat yang timbul adalah kekurangan pakan hijauan, mengingat ketersediaan hijauan pakan yang terbatas, maka langkah strategis yang dapat diambil adalah memanfaatkan limbah kulit kakao untuk paka ternak.

Salah satu bentuk pemanfaatan limbah agro industri dan bahan pakan non kompetitif namun berkulitas tinggi adalah pemanfaatan kulit buah kakao. Sejalan dengan berkembangnya produksi kakao di Indonesia maka sejak tahun 1990 telah ditemukan nilai tambah (Value Added) dari produk buak kakao.

Adapun Kulit buah kakao (Shel food husk) kandungan gizinya terdiri dari 88 % BK, 8 % PK, 40 % SK, 50,8 % TDN, dan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40 % (Sunanto,1994). Selanjutnya dikatakan bahwa limbah kulit buah kakao yang diberikan secara langsung pada ternak justru akan menurunkan berat badan ternak, sebab kadar protein kulit buah kakao rendah, sedangkan kadar lignin dan selulosanya tinggi.

Oleh karena itu sebaiknya sebelum digunakan sebagai pakan ternak perlu difermentasikan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin yang sulit dicerna oleh hewan dan untuk meningkatkan nilai nutrisi yang baik tapi ada batasan konsentrasi penggunaannya karena mengandung seyawa anti nutrisi theobromin. Selain sebagai pakan ternak, kulit buah kakao dapat digunakan sebagai pupuk dengan metode pengeringan menggunakan panas matahari, kemudian diabukan dalam tangki pengabuan. Abu yang didapatkan dapat dijadikan sebagai pupuk.

Cara Membuat Pakan Silase Kulit Buah Kakao

Makanan pokok ternak kambing adalah rumput- rumputan dan berbagai jenis daun- daunan. Untuk menggunakan limbah kulit kakao sebagai pakan alternatif maka ada beberapa yang harus diperhatikan dalam hal membuat pakan tersebut.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 20 – 40 % kulit buah kakao sebagai pengganti jagung tidak memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan ternak. Pemberian sampai 100 g tepung kulit kakao pada ternak kambing justru memberi manfaat perhadap pertambahan bobot badan rata-rata 119 g per hari. Pemberian sampai 2 kg tepung kulit kakao pada sapi bali jantan dengan berat awal 240 kg dapat meningkatkan pertambahan berat badan 528 g per hari dibandingkan kontrol.


Pengalaman petani kakao yang berada di Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali, telah memanfaatkan kulit buah kakao yang diperoleh dari kebunnya sendiri, dipergunakan sebagai pakan ternak babi. Dari pengalaman dalam beternak babi dengan menggunakan pakan dari limbah kulit buah kakao yang sebelumnya difermentasi dengan menggunakan EM 4, pertumbuhan babi dapat berkembang dengan cepat.

Dan yang lebih menarik lagi bagai petani kakao tersebut, adalah dengan memberi pakan dari hasil fermentasi limbah kulit buah kakao, kandang babi sama sekali tidak berbau kotoran ternak, sehingga tidak mengganggu lingkungan masyarakat yang ada disekitar tempat tinggalnya.

Cara pengolahannya sangat sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang sulit dijangkau petani, dimana sebagian besar peralatan yang dibutuhkan pasti dimiliki oleh setiap petani. Ada pun langkah-langkah pembuatan pakan tersebut adalah sbb :

  1. Kulit buah kakao yang sudah diambil bijinya dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil. Atau dapat juga menggunakan mesin pencacah.
  2. Kulit yang sudah dipotong – potong tersebut dihaluskan dengan cara ditumbuk dengan menggunakan penumbuk (lesung). Penumbukannya tidak usah terlalu halus, yang penting kulit buah sudah hancur.
  3. Hasil tumbukan tersebut masukkan dalam ember, lalu dicampurkan dengan EM4 yang telah diencerkan.
  4. Ember tersebut ditutup dengan plastik kampil (karung kampil) dan biarkan 3 – 5 hari. Karung kampil harus bersih agar tidak terjadi kontaminasi oleh jenis mikroba lainnya. Dalam waktu 3 – 5 hari bahan tersebut akan sudah terfermentasi. Tanda fermentasi berhasil adalah kulit buah kakao tidak berbau busuk, melainkan berbau seperti tape.
  5. Hasil fermentasi siap digunakan sebagai pakan ternak babi. Bila memiliki banyak kulit buah kakao, maka pengolahan menjadi banyak, dan hasil fermentasi banyak. Untuk itu perlu dilakukan pengawetan hasil fermentasi tersebut, dengan cara, hasil fermentasi tersebut dijemur sampai kering.Bila sudah kering, lalu ditumbuk, agar butir-butir pakan ternak tersebut menjadi lebih kecil. Karena bila sudah kering yang tadinya pakan tersebut lembek, akan menjadi keras, sehingga perlu dihaluskan Untuk menghaluskan dapat dilakukan dengan cara menumbuk, atau menggunakan mesin penggiling.

Dengan membuat pakan seperti ini maka biaya pakan berupa dedak, ataupun makanan yang sudah jadi (polar) dapat dikurangi 50 – 60 %. Adapun umur simpan silase yaitu tahan selama 4 bulan.  

(Visited 112 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *