fbpx
Suara Peternakan

Semut Menghasilkan Mikroba yang Bisa Menjadi Antibiotik Bagi Manusia

SUARAPETERNAKAN.COM- Ilmuwan dari North Carolina State University yang mempelajari efek antibiotik dari lapisan luar tubuh semut. Salah satu spesies yang mereka pelajari, yaitu semut pencuri (Solenopsis molesta). Dengan  memilih 20 spesies semut dalam penelitiannya. Hasilnya, ternyata hanya 12 dari 20 jenis semut yang memiliki fungsi antibakteri, termasuk semut pencuri. Hal itu menunjukkan bahwa tidak semua jenis semut memiliki senyawa antibakteri.

“Salah satu spesies yang kita pelajari, semut pencuri (Solenopsis molesta) memiliki efek antibiotik terkuat dibanding spesies lain yang kita uji – dan hingga kini, tidak ada seorang pun yeng tahu bahwa mereka membuat antibiotik tersebut,” kata Adrian Smith, kepala Laboratorium Penelitian Biologi & Perilaku Evolusioner dari Museum Ilmu Pengetahuan Alam, North Carolina State University.

Dilansir dari BusinessStandard (7/2), penelitian ini juga mengungkapkan beberapa spesies semut yang tidak memiliki pertahanan antimikroba kimia terhadap bakteri, justru malah menawarkan jalur alternatif yang menarik bagi para ilmuwan untuk dipelajari.

Para peneliti menyadari bahwa penelitian ini baru menggunakan satu jenis bakteri saja dan masih harus menguji kemampuan antibakteri semut pencuri terhadap bakteri lain, termasuk terhadap bakteri patogen. Namun demikian, ini merupakan langkah awal yang baik untuk penelitian lebih lanjut mengenai efek spesies semut lain terhadap berbagai macam bakteria.

Semut bisa menjadi sumber antibiotik baru untuk membantu manusia memerangi penyakit. Antibiotik merupakan jenis obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik sebagai antimikroba untuk melawan bakteri. Penggunaan yang berlebihan bisa membuat tubuh menjadi resistan terhadap antibiotik.

Semut pencuri yang dikenal dengan nama Solenopsis molesta. Spesies semut tersebut memiliki efek antibiotik paling kuat dari spesies lainnya yang diuji dan hingga kini, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa mereka mampu membuat antibiotik tersebut.

Menggunakan pelarut untuk menghilangkan seluruh kandungan zat yang ada di kerangka luar tubuh setiap semut. Setelah itu, larutan yang dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam bubur yang berisi bakteri.

Pertumbuhan bakteri dalam bubur dibandingkan dengan pertumbuhan bakteri dalam kelompok yang dikontrol. Jika bakteri dalam bubur mati menyusut, maka artinya zat antibakteri itu bekerja.

Menurut IFL Science (8/2), Penelitian ini dianggap penting dikarenakan menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kurangnya antibiotik yang dikembangkan untuk memerangi ancaman resistensi antimikroba semakin meningkat.

Sebagian besar obat yang ada saat ini merupakan modifikasi golongan antibiotik dan hanya sebagai solusi jangka pendek. Jumlah antibiotik baru yang ditemukan tidak sebanding sementara bakteri terus berevolusi melawan yang sudah kita miliki.

Hal ini memberi tekanan serius pada perburuan cara baru untuk mengobati mikroorganisme dan periset beralih ke cara alami dalam menemukan antibiotik tersebut. Temuan ini telah dipublikasikan pada 7 Februari 2018 dalam jurnal Royal Society Open Science.

*Diolah dari berbagai sumber

(Visited 43 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *