fbpx
Suara Peternakan

Sejarah Dibalik Kornet Sapi

Suarapeternakan.com  –  Daging Kornet atau cornet beef tidak asing lagi bagi pecinta gading sapi. Daging Kornet adalah daging sapi yang diawetkan dalam air garam kemudian dimasak dengan cara direbus. Potongan daging yang digunakan mengandung serat memanjang seperti brisket.

Melansir dari Wikipedia, di Denmark kornet dikenal dengan nama saltkød atau sprængt oksebrystSaltkød digunakan sebagai cold cut (pålæg) dalam sandwich smørrebrød atau Dyrlægens natmadSprængt oksebryst disajikan hangat dan dingin dengan kentang rebus, saus horseradish dan sayuran.

Di Filipina biasanya ditumis dengan bawang merah dan kentang atau dibuat sup, atau sebagai torta (omelet) atau dalam spaghetti Filipina.

Di Indonesia daging kornet sering disajikan sebagai campuran mi instan bersama telur yang dijual di warung-warung kaki lima. Dapat juga dicampurkan dengan telur dan kemudian digoreng.

Kornet, Si Kecil, Praktis, dan Ekonomis :

Corned Beef atau yang biasa dikenal dalam masyarakat kita sebagai kornet sapi adalah salah satu jenis produk olahan daging sapi. Kornet daging sapi dibuat dengan cara mengawetkan daging sapi dalam air garam (brine), yaitu air yang dicampur dengan larutan garam jenuh.

Daging sapi tersebut kemudian dimasak dengan cara di simmering atau direbus dengan api kecil untuk menghindari hancurnya tekstur daging sapi.

Tujuan pembuatan kornet daging sapi tidak lain adalah untuk mendapatkan daging sapi yang berwarna merah, awet dan praktis. Dengan diolah menjadi kornet, daging sapi segar akan dapat disimpan dengan jangka waktu yang lebih lama.

Agar awet, daging sapi segar harus disimpan pada suhu dingin atau suhu beku. Akibatnya, daging sapi akan menjadi tidak praktis apabila akan digunakan. Hal ini tidak terjadi pada kornet, karena pada kornet daging sapi segar yang telah diproses kemudian akan dikalengkan, sehingga dapat disimpan pada suhu kamar hingga sekitar dua tahun lamanya.

Irlandia, Negara Pencipta Kornet :

Nama “kornet” berasal dari bahasa Inggris “corned”, dari kata “corn” yang artinya butiran. Butiran ini berasal dari partikel-partikel garam kasar yang digunakan untuk mengolah kornet.

Cara pengolahan Daging sapi menjadi kornet, diperkirakan muncul pertama kali pada abad 12 di Irlandia. Data ini didasarkan pada baris puisi Aislinge Meic Con Glinne atau The Vision of MacConglinne, yang menyebut suatu daging olahan lezat yang menyerupai kornet.

Pada abad 12 di Irlandia, kegiatan potong sapi dilakukan ketika ternak tidak lagi menghasilkan susu, atau jika sapi pedaging tidak mampu lagi bekerja. Jadi pada saat itu kornet termasuk kedalam hidangan yang cukup langka dan sangat berharga.

Tahun 1740 terjadi bencana perubahan iklim yang sangat ekstrim di Irlandia. Hampir seluruh lahan pertanian mengalami kekeringan dan penduduk Irlandia dilanda wabah kelaparan, termasuk ternak sapi milik mereka. Ternak sapi pedaging dan sapi perah yang dimiliki oleh warga Irlandia kemudian diselamatkan ke Inggris (saat itu Irlandia merupakan jajahan dari Inggris).

Akan tetapi karena kebutuhan akan daging sapi di Inggris terus meningkat, bukannya membantu menyelamatkan warga Irlandia dari kelaparan, pemerintah Inggris justru memaksa warga Irlandia merubah lahan pertanian mereka menjadi peternakan sapi pedaging, yang hasilnya akan diolah menjadi kornet untuk di eskpor ke Inggris.

Penduduk Irlandia yang pada dasarnya bukan peternak sapi, hanya diberikan lahan terbatas untuk menanam kentang bagi keperluan mereka. Kondisi ini secara tidak langsung merubah pola makan penduduk Irlandia, dimana mereka tidak lagi memasukkan daging sapi ke dalam menu mereka.

Kondisi ini terus memburuk, sehingga mengakibatkan terjadi gelombang pengungsian penduduk Irlandia ke Amerika Serikat pada abad 18. Di Amerika, warga Irlandia kembali dapat mengkonsumsi daging sapi yang kemudian mereka olah kembali menjadi kornet.

Warga Irlandia memang lebih familiar dengan kornet, dibandingkan dengan olahan daging sapi asal Amerika yaitu “bacon” karena harganya yang cukup mahal dan memang jarang terdapat di Irlandia. Bacon sendiri adalah sayatan daging tipis dan panjang, yang berasal dari bagian punggung babi.

Kornet di Era Modern :

Walaupun berasal di Irlandia, kornet tidak lagi hanya dianggap sebagai hidangan nasional Irlandia. Pada saat ini konsumsi kornet erat hubungannya budaya Irlandia-Amerika seperti pada perayaan Saint Patrick’s Day, tanggal 17 Maret, yang merupakan salah satu hari libur keagamaan (katolik) di Irlandia.

Di Indonesia terdapat juga beragam Kornet kalengan. Biasanya terbuat dari daging sapi, tepung terigu, gula, garam, dan bumbu. Selain itu, pembuatan kornet juga membutuhkan polifosfat dan natrium nitrit.

Polifosfat digunakan untuk membantu proses pembuatan kornet dan meningkatkan kualitasnya. Sementara natrium nitrit berfungsi untuk menghentikan pertumbuhan mikroorganisme, mengawetkan, serta memberi rasa khas dan warna merah atau pink pada kornet. Makanya kornet kalengan memiliki masa simpan lebih lama dibanding kornet frozen food dan tidak perlu disimpan di kulkas jika belum dibuka.

Daging kornet kalengan biasanya sudah matang dan siap disantap, sehingga cocok untuk menu sahur. Apalagi kornet tinggi protein, sehingga dapat memberi asupan nutrisi yang bagus.

Kornet membuat mie instan, nasi goreng, dan spaghetti terasa lebih nikmat. Olahan daging sapi ini bisa dicampur dengan telur dan dimasak menjadi omelet, atau dihaluskan dengan kentang sebagai perkedel. Kalau mau yang lebih praktis, tinggal campurkan kornet, nasi, dan kecap, lalu aduk-aduk hingga rata.

(Visited 134 times, 1 visits today)

Related Articles