fbpx
Suara Peternakan

Sapi Impor Asal Brasil, Halalkah?

SuaraPeternakan.com – Para pengusaha sapi di Brasil sangat memperhatikan kehalalan daging sapi. Kerjasama perdagangan khususnya dibidang peternakan, antara Indonesia dengan Brasil. Mereka tahu aspek kehalalan merupakan hal yang sangat penting jika ingin menjalin kerja sama dengan Indonesia.

Sekretaris Jenderal Perhipunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Rochadi Tawaf menilai, aspek kehalalan peternakan sapi di Brasil sudah cukup baik. Menurut dia, para pengusaha dan peternak sapi di Brasil cukup memperhatikan aspek kehalalan, salah satunya dengan mendatangkan juru sembelih halal (juleha) dari negara-negara Muslim.

Dikutip dari republika.co.id, Brasil memilih tenaga kerja Muslim dari lokal dan mendatangkan juleha dari luar negeri seperti Pakistan dan Indonesia.

Brasil merupakan pemain impor daging setelah Australia, Selandia Baru, India.

Rochadi Tawaf mengatakan, dengan makin kompetitifnya harga antara negara pengimpor, pihaknya mempertanyakan keberpihakan pemerintah terhadap peternak lokal. Menurutnya, si satu sisi kebijakan impor daging memang menguntungkan konsumen namun memberatkan peternak lokal.

Tidak ada batasan impor daging ke indonesia, seperti masuknya daging kerbau India saja harganya sudah Rp 80 ribu, sehingga memungkinkan peternak lokal tertekan.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian (Kementan), kebutuhan konsumsi Indonesia terhadap daging mencapai 686.270 ton atau 66 persen lebih dari kebutuhan nasional, yang mana sisanya diisi oleh pasokan impor. Sedangkan, berdasarkan acuan tersebut, produksi daging sapi lokal pada 2019 diproyeksi hanya sebesar 429.412 ton, sehingga defisit kebutuhan daging mencapai 256.860 ton.

Berdasarkan Undang Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan terdapat poin yang menyebutkan aturan, para peternak lokal dilarang menggunakan hormon sintetik maupun hormon natural. Padahal, kata dia, larangan peraturan hormon tersebut bisa diubah dengan adanya perkembangan teknologi.

Dia menyebut, budidaya ternak dengan menggunakan hormon akan menambah produktivitas produksi 1,5-2 kilogram (kg) bobot hewan ternak per hari. Sedangkan, tanpa menggunakan hormon, hewan ternak hanya mampu bertambah bobotnya sekitar 0,7 kg. Hal tersebut dinilai diskriminatif dan tidak menguntungkan peternak lokal.

Menurut dia, pemerintah belum secara eksklusif menggenjot peningkatan produksi ternak sapi maupun kerbau di Indonesia. Hal itu, kata dia, terlihat dengan kebijakan impor yang acuannya hanya berdasarkan rasio harga, bukan ke pendekatan produksi.

Alasan Pemerintah Impor Daging Sapi dari Brasil

Alasan pemerintah memilih untuk melakukan impor dari Brasil lantaran negara tersebut telah masuk zona bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hal ini menjadi salah satu syarat yang ditentukan pemerintah untuk impor daging.

Harga daging sapi dari Brasil juga lebih kompetitif. Harga ini juga menjadi faktor penting lantaran selain untuk memenuhi kebutuhan daging. Langkah impor tersebut diharapkan bisa menekan harga daging sapi di dalam negeri yang saat ini masih berada di atas Rp 100 ribu per kg.

Impor daging sapi tersebut, merupakan salah satu alternatif untuk menstabilkan harga daging sapi jelang puasa dan Lebaran.

Sumber: Republika.co.id

(Visited 35 times, 1 visits today)

Related Articles