fbpx

Potensi Itik Cihateup sebagai Sumberdaya Genetik Unggas Lokal di Indonesia

Itik Cihateup merupakan salah satu sumberdaya genetik unggas lokal Indonesia yang berasal dari Jawa Barat. Itik ini banyak dipelihara di daerah Tasikmalaya dan sekitarnya. Potensi pengembangan itik Cihateup sebagai itik petelur maupun pedaging, dapat memberi peluang usaha bagi masyarakat Jawa Barat.

Ukuran leher, sayap, femur dan tibia lebih panjang dan menjadi ciri khas itik Cihateup dibandingkan dengan itik lainnya yang ada di Indonesia. Itik Cihateup berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hidup dan beradaptasi pada daerah ketinggian 378 m dpl (Wulandari et al. 2005; Matitaputty 2012) dan sering disebut dengan itik gunung.

Produksi telur sekitar 200 butir/ekor/tahun lebih rendah dibandingkan dengan itik Alabio dan Mojosari. Hubungan kekerabatan antara itik Cihateup dengan itik yang ada di Pulau Jawa lebih dekat bila dibandingkan dengan itik Alabio asal Kalimantan Selatan.

Beberapa hasil penelitian secara deskriptif menjelaskan bahwa yang menjadi ciri khas itik Cihateup dari itik lainnya termasuk itik Alabio dan Mojosari adalah ukuran panjang leher, sayap, femur dan tibia yang lebih panjang. Perbedaan ukuran tubuh tersebut diduga karena adanya pengaruh lingkungan pemeliharaan di kawasan pegunungan. Ukuran panjang paha, sayap dan leher serta kemampuan jelajah/jalan maupun terbang yang relatif jauh merupakan ciri khas itik Cihateup.

Sumber : http://medpub.litbang.pertanian.go.id

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Potensi Itik Cihateup sebagai Sumberdaya Genetik Unggas Lokal di Indonesia

Itik Cihateup merupakan salah satu sumberdaya genetik unggas lokal Indonesia yang berasal dari Jawa Barat. Itik ini banyak dipelihara di daerah Tasikmalaya dan sekitarnya. Potensi pengembangan itik Cihateup sebagai itik petelur maupun pedaging, dapat memberi peluang usaha bagi masyarakat Jawa Barat.

Ukuran leher, sayap, femur dan tibia lebih panjang dan menjadi ciri khas itik Cihateup dibandingkan dengan itik lainnya yang ada di Indonesia. Itik Cihateup berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hidup dan beradaptasi pada daerah ketinggian 378 m dpl (Wulandari et al. 2005; Matitaputty 2012) dan sering disebut dengan itik gunung.

Produksi telur sekitar 200 butir/ekor/tahun lebih rendah dibandingkan dengan itik Alabio dan Mojosari. Hubungan kekerabatan antara itik Cihateup dengan itik yang ada di Pulau Jawa lebih dekat bila dibandingkan dengan itik Alabio asal Kalimantan Selatan.

Beberapa hasil penelitian secara deskriptif menjelaskan bahwa yang menjadi ciri khas itik Cihateup dari itik lainnya termasuk itik Alabio dan Mojosari adalah ukuran panjang leher, sayap, femur dan tibia yang lebih panjang. Perbedaan ukuran tubuh tersebut diduga karena adanya pengaruh lingkungan pemeliharaan di kawasan pegunungan. Ukuran panjang paha, sayap dan leher serta kemampuan jelajah/jalan maupun terbang yang relatif jauh merupakan ciri khas itik Cihateup.

Sumber : http://medpub.litbang.pertanian.go.id

Share This Post



Share on facebook



Share on linkedin



Share on twitter



Share on email

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best


More To Explore

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch

(Visited 32 times, 1 visits today)

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Uncategorized

Kementan : Semen Beku dari UPT Dijamin Berkualitas Tinggi

Jakarta_Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) lewat Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, terus berupaya menyiapkan kebutuhan semen beku. Semen

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch

(Visited 32 times, 1 visits today)