fbpx
Suara Peternakan

Peternak Tolak Produk Unggas dari Malaysia, Disebabkan Hal Ini

Suarapeternakan.com – Kini, peternak tolak produk unggas dari Malaysia. Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) meminta pemerintah untuk tidak membuka kembali keran impor daging bebek dari Malaysia. Diketahui bahwa produk unggas di negara tersebut telah terbebas dari avian influenza (AI) atau flu burung.

Menyusul kekalahan Indonesia atas gugatan yang diajukan pemerintah Brasil ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), maka ayam impor asal negara itu diperkirakan bakal segera menyerbu pasar dalam negeri. Meskipun kalangan peternak mandiri ayam ras dalam negeri telah melayangkan penolakan impor ayam ras dari Brasil, hal tersebut dinilai tak bisa dihindari lagi.

Himpuli mendesak Kementerian Pertanian untuk tidak memberi persetujuan impor daging bebek Malaysia. Menurut Ketua Himpuli Ade M Zulkarnain khawatir jika keran impor kembali dibuka, akan memukul peternakan bebek, khususnya peternak tradisional di dalam negeri.

Ade menjelaskan saat ini, sudah ada importir asal kota Medan yang mengajukan permohonan impor daging bebek asal Perak, Malaysia. Untuk itu, dia meminta agar Kementerian Pertanian selaku pihak yang berhak memberi rekomendasi untuk izin impor tidak menyetujui permintaan tersebut.

Pada 2017 lalu, peternak bebek dalam negeri tampak mulai bergairah yang ditunjukkan dengan perbaikan produksi. produksi daging bebek dalam negeri mencapai 56 ribu ton. Angka ini naik dari rata-rata produksi pada tahun-tahun sebelumnya yang tercatat hanya sebanyak 45 ribu ton per tahun.

Adapun ditutupnya keran impor ini lantaran virus flu burung yang merebak di negara tersebut.

Namun, belakangan serapan pasar untuk daging unggas ini berkurang. Ade tidak merinci penyebab berkurangnya serapan pasar ini, tetapi pihaknya mencatat konsumsi selama 2018 hanya mencapai 52 ribu ton.

Selain itu, tekanan pun akan muncul dari sisi harga. Pasalnya, saat ini, harga bebek produksi dalam negeri tercatat mencapai Rp 35 ribu per kilogram (kg) dengan biaya produksi mencapai Rp 30 ribu per kg, sementara harga bebek impor asal Malaysia ditengarai hanya sekitar Rp 30 ribu per kg. “Karena ini pasarnya terbatas, harusnya jadi porsi peternak lokal,” ucapnya seperti dilansir dari Bisnis.com.

Disisi lain, Dewan Pembina Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) Sigit Prabowo menyatakan, potensi masuknya impor ayam ras dari negara lain tak bisa dihindari menyusul kekalahan Indonesia atas gugatan yang diajukan Brasil di WTO. Melihat hal ini, Sigit menilai perlu ada kerja bersama antara industri dan peternak mandiri untuk membangun gerakan efisiensi nasional.

Sigit menyebutkan harga jagung sebagai bahan baku pakan merupakan salah satu faktor utama yang mengakibatkan produksi ayam ras dalam negeri tak bisa seefisien ayam impor. Hal ini diikuti pula dengan harga bibit ayam alias day old chick yang juga mahal.

Dalam surat yang ditujukan terhadap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tertanggal 17 Juli lalu, Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko menyatakan keprihatinan atas keputusan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang menyebutkan bahwa Indonesia telah melanggar empat gugatan Brasil mengenai importasi ayam ras beserta turunannya.

Sumber: Bisnis.com

(Visited 74 times, 1 visits today)

Related Articles