fbpx
Suara Peternakan

Peternak di Italia Budidayakan Ayam Petelur di Hutan

SUARAPETERNAKAN.COM – Ayam Petelur atau juga akrab disapa Ayam Layer, diternak untuk diambil telurnya. Setiap ekor ayam akan menghasilkan satu telur setiap harinya. Jika ingin beternak ayam petelur, paling tidak dimulai dari penyiapan anakan ayam sebagai bakal induk petelur.

Sementara cara budidaya ayam petelur yang lebih intensif lagi dimulai dari pemeliharaan induk khusus serta dikawinkan dengan jantan. Jadi telur yang dihasilkan dapat ditetas. Anak ayam yang dihasilkan kemudian dipisah dengan induknya hingga menjadi ayam petelur.

Beternak ayam petelur memang sangat ribet. Namun, mereka juga makhluk hidup dan tentunya punya naluri untuk menghidupi dirinya sendiri asalkan terpenuhi sandang pangannya.

Walaupun saat ini banyak peternak ayam petelur baru bermunculan. Tetapi permintaan pasar yang terus meningkat, sehingga supply telur kepasarpun belum tercukupi.

Untuk memulai usaha ayam petelur, yang harus disiapkan mulai dari perkandangan, pembibitan hingga ayam siap bertelur. Ayam petelur kebanyakan di Indonesia khususnya ayam layer, dipelihara secara modern yaitu dengan dikandangkan. Normalnya ayam petelur dipelihara di peternakan dalam kandang-kandang sempit dengan cahaya matahari minim.

Dengan proses pemeliharaan dengan pola dikandangkan, yang harus diperhatikan pakan, kebersihan kandang, dan penjegahan penyakit. Agar ayam didalam kandang tidak mudah terjangkit penyakit. Walaupun begitu, ini adalah situasi yang sulit dihindari jika peternak dituntut untuk menyediakan daging dan telur dengan harga murah.

Dilansir dari merdeka.com, Ada peternak di Italia punya cara berbeda untuk mengembangbiakkan ayam-ayam petelurnya. peternak tersebut adalah Massimo Rapella (48 tahun) menjalankan peternakan yang benar-benar berbeda. Dia membudidayakan lebih dari 2000 ekor ayam di tengah hutan Alpen, tanpa kandang atau kurungan.

Ayam-ayam petelurnya tampak lebih sehat, karena bebas berkeliaran di hutan dan beraktivitas di bawah siraman cahaya matahari seperti ayam liar. Makanan mereka berasal dari alam, berupa biji-bijian, serangga, cacing, atau dedaunan. Akibatnya, telur yang mereka hasilkan pun lebih kenyal dan lezat.

Telur-telur yang dihasilkan di peternakan hutan Rapella dilabeli merek Uovo di Selva yang berarti telur hutan. Dijual langsung ke konsumen dan restoran terkemuka.

Awal Rapella menjadi peternak karena kebetulan, Rapella dan istrinya waktu itu mengelola yayasan nirlaba berbasis pendidikan di Valtellina. Tetapi krisis moneter 2008 membuat pemerintah menghentikan bantuan kepada yayasannya. Mereka pun pindah ke pegunungan dan mulai memelihara beberapa ekor ayam untuk dikonsumsi sendiri.

Rapella membiarkan ayam-ayam tersebut berkeliaran di hutan dan lama-kelamaan merasa betah di sana. Mereka pun berkembang biak secara alami.

“Saya mulai berpikir apakah saya bisa membawa lebih banyak ayam dan menciptakan ‘telur Alpen’ untuk dijual di pasar lokal,” katanya dilansir dari Atlas Obscura.

Kini suami-istri Rapella telah memelihara 2100 ekor ayam petelur produktif di hutan seluas dua hektar. Setiap hari Rapella bisa memanen sekitar 1300 telur.

Sumber: merdeka.com

(Visited 472 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *