fbpx
Suara Peternakan

Permasalahan dalam Pengembangan Ternak Kerbau di Indonesia

SUARAPETERNAKAN.COM – Salah satu keanekaragaman hayati yang perlu mendapat perhatian lebih adalah kerbau, sebab populasinya kini cenderung menurun setiap tahunnya.

Kerbau (Babalus bubalis) mempunyai keistimewaan lebih dibandingkan dengan sapi karena mampu hidup dikawasan yang relatif sulit, lebih-lebih bila pakan yang tersedia berkualitas sangat rendah.

Populasi kerbau di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 1925 menurut Wiryosuhanto (1980) dalam Praharani L. at all. (2009) dengan laju penurunan yang semakin besar.

Berdasarkan data statistik populasi dari DITJENAK (2008), sejak tahun 2000 sampai 2008 populasi ternak kerbau tidak meningkat dan cenderung menurun 8,85% dengan rataan tingkat penurunan sebesar 1,03% per tahun selama kurun waktu delapan tahun.

Penurunan populasi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain rendahnya produktivitas ternak kerbau, masih tingginya angka kematian ternak, dan pemotongan betina produktif dimana angka pemotongan betina produktif mencapai 71,77% seperti yang dilaporkan di Nusa Tenggara Barat (Muthalib, 2006 dalam Praharani L. at all., 2009).

Penyebab rendahnya produktivitas kerbau adalah sifat dari ternak yang pertumbuhannya lambat, durasi periode birahi kembali panjang, masa kebuntingannya lama (lebih panjang dari sapi) dan timbulnya gejala birahi yang sulit di deteksi.

Di samping itu disebabkan oleh terbatasnya bibit unggul, rendahnya kualitas pakan, kurangnya modal, dan rendahnya pengetahuan petani terhadap reproduksi kerbau.

Potensi kerbau tidak hanya sebagai sumber tenaga kerja, tetapi juga berperan penting dalam penyediaan daging, susu, dan pupuk.

Di Toraja ternak kerbau dijadikan sebagai ternak pelengkap pada acara sosial keagamaan. Di beberapa daerah seperti kabupaten Blora dan Banten, preferensi daging kerbau lebih tinggi dimana masyarakat lebih suka mengkonsumsi daging kerbau. Lebih dari 90% dengan sistem pemeliharaan tradisional pada skala pemilikan 2-3 ekor per rumah tangga peternak.

Pada hakekatnya kerbau memberi keuntungan terhadap peternak yaitu produk daging, susu, pupuk, tenaga kerja, dan lain sebagainya. Kerbau dapat diklasifikasikan berdasarkan bangsanya yakni kerbau lumpur dan kerbau sungai.

Banyak laporan yang telah mengumukakan hasil penelitian mengenai kemampuan produksi ternak kerbau. Kerbau mempunyai beberapa keunggulan untuk ditingkatkan perannya terutama berkaitan dengan potensi genetik dan aspek lingkungannya.

Kerbau mempunyai daya adaptasi yang sangat tinggi, terlihat dari penyebarannya yang luas, mulai dari iklim kering, lahan rawa, daerah pegunungan, dan daerah dataran rendah.

Dalam usaha peternakan rakyat, kerbau dipelihara secara ekstensif terutama di daerah pantai, dimana pemeliharaan kerbau umumnya digembalakan.

Ada dua tipe utama kerbau yakni kerbau lumpur dan kerbau sungai yang dimana masing-masing mempunyai beberapa perbedaan baik fenotipe, karyotipe dan mitokondria DNA.

Populasi kerbau di Indonesia kurang lebih 2,5 juta ekor yang mayoritasnya adalah kerbau lumpur, disamping kerbau sungai/Murrah, Nili-Ravi dan Javar Abadi dalam jumlah yang dapat dikatakan sedikit di Sumatera Utara.

Bangsa – bangsa kerbau ini dimasukkan ke Indonesia pada abad 19 dari Punjab – India, dan dipelihara oleh masyarakat keturunan India sebagai penghasil susu. Tetapi, populasinya tidak banyak meningkat karena faktor reproduksi dan intensitas inbreeding yang diduga tinggi.

Ridhwan A.B Talib dan Chali Talib (2007) menyatakan bahwa sekitar 90% populasi ternak kerbau di Indonesia terkonsentrasi di 12 propinsi yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung dan Sumatera Selatan. Di 12 propinsi ini juga hidup mayoritas sapi potong di Indonesia. Akan tetapi ternak kerbau merupakan ternak yang mungkin paling sedikit diteliti dan didayagunakan di Indonesia.

Banyak faktor penyebab yang mengakibatkan produksi ternak kerbau di Indonesia sangat lambat. Salah satunya adalah efisiensi reproduksi yang rendah jika dibandingkan dengan ternak sapi, seperti tingkat kebuntingan yang rendah, lama bunting (11 bulan) dan juga interval generasi yang lebih panjang.

Upaya meningkatkan produktivitas ternak kerbau menjadi hal yang sangat penting, bukan saja karena nilai budayanya yang sangat tinggi dalam peradaban sebagian masyarakat Indonesia (suku Toraja, Sumba, Flores dan Batak) yang menyebabkan harga ternak kerbau lebih mahal dibanding sapi potong, sehingga ternak kerbau sangat perlu untuk dikembangbiakan.

Sumber: http://muhammadmuhlisinfapet.blogspot.com/

(Visited 39 times, 1 visits today)

Related Articles