fbpx
Suara Peternakan

Peran Air dalam Proses Nutrisi pada Ternak

SuaraPeternakan.com – Fungsi air untuk pemenuhan kebutuhan ternak yaitu sebagai komponen utama dalam metabolisme dan faktor Utama dalam mengontrol suhu tubuh.

Apabila ternak kekurangan air akan terjadi kematian dengan cepat bila dibandingkan bila kekurangan zat makanan lainnya. Sebab air sangat esensial untuk kehidupan. Seluruh reaksi biokimia yang terjadi pada ternak membutuhkan air.

Beberapa fungsi biologis air tergantung pada air sebagai pelarut berbagai senyawa. Beberapa senyawa kimia terionisasi dalam air. Selain itu, air sebagai media transportasi zat makanan dalam saluran pencernaan dan di darah. Air juga membantu proses eksresi sisa metabolit melalui sekresi diginjal berupa urin dan keringat.

Air juga terlibat dalam berbagai reaksi kimia. Pada proses hidrolisis, air sebagai substrat dalam reaksi, pada proses oksidasi, air sebagai produk reaksi kimia.

Air metabolis adalah air hasil oksidasi komponen organik dalam sel. Sebagai contoh, oksidasi 1 mol glukosa membutuhkan 6 mol oksigen CO2 dan menghasilkan 6 mol CO2 dan 6 mol H2O (air). Jumlah O2 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi karbohidrat (pati), lemak dan protein.

Air metabolis adalah air hasil oksidasi komponen organik dalam sel. Sebagai contoh, oksidasi 1 mol glukosa membutuhkan 6 mol oksigen CO2 dan menghasilkan 6 mol CO2 dan 6 mol H2O (air). Jumlah O2 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi karbohidrat (pati), lemak dan protein.

Dari tabel diatas, diketahui bahwa untuk mengoksidasi lemak membutuhkan oksigen lebih banyak dibanding karbohidrat atau protein. Air metabolis yang dihasilkan juga lebih banyak pada lemak.

Proses hibernasi, ternak mendapatkan air pada proses katabolisme jaringan tubuh dan air metabolis yang dihasilkan nampaknya cukup untuk menjaga fungsi normal tubuh.

Sifat air yaitu berefek pada pengaturan suhu tubuh ternak. Untuk mengontrol suhu tubuh , prosesnya dapat melalui paru-paru, kulit dan pembuluh darah.

Sebagai contoh 1 g air berubah dari bentuk cair sampai menjadi uap (melalui pernafasan atau berkeringat) membutuhkan 580 kal panas. Sebuah penelitian pada sapi, panas tubuh yang hilang melalui proses berkeringat 21%, konduksi/konveksi melalui kulit 16% dan evaporasi melalui pernafasan sebanyak 5%.

Air diserap pada saluran pencernaan. Pada ruminansia, penyerapan terjadi di rumen dan omasum, sedangkan di abomasum, air diserap dan juga diproduksi. Pada monogastrik, penyerapan terjadi pada ileum, jejunum, caecum dan usus besar, akan tetapi jumlah yang diserap tergantung spesies dan jenis ransum.

Mekanisme absorbsi air tergantung pada tekanan osmotik. Beberapa faktor yang menurunkan penyerapan air adalah pektin, serat kasar dan kondisi diare pada ternak.

Water turnover adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan kecepatan air dikeluarkan dan digantikan dalam jaringan. Pada sapi turn over rate adalah 3,5 hari.

Pada ternak non ruminansia, laju turnover lebih cepat karena non ruminanansia memiliki air yang lebih sedikit dalam saluran pencernaan. Ternak yang lebih toleran terhadap pembatasan air (misalnya unta dan beberapa bangsa domba) laju turnover lebih lambat. Water turnover dipengaruhi faktor klimatik (suhu dan kelembaban) dan senyawa pada pakan (misalnya NaCl yang meningkatkan urinasi pada ternak)

Adapun Sumber air yaitu: air minum, air yang terkandung dalam pakan, air metabolik, air yang dibebaskan dari hasil polimerisasi asam amino, air hasil katabolisme tubuh (bila terjadi neraca energi yang negativ).

Tabel diatas menunjukkan hubungan konsumsi air dengan kadar air pada hijauan. Semakin tinggi kadar air pakan, konsumsi air pada ternak menurun. Kehilangan air dari tubuh ternak melalui urin, feses, penguapan melalui paru-paru dan kulit serta keringat.

Pengaturan konsumsi air melibatkan proses fisiologi yang komplek. Ketika ternak merasa haus, laju saliva menurun. Hal ini menimbulkan rasa kering dimulut dan tenggorokan yang merangsang ternak untuk minum. Selain dipengaruhi pula oleh osmotik reseptor didalam mulut.

Kebutuhan air pada ternak dipengaruhi oleh faktor yaitu Faktor makanan, Faktor lingkungan (suhu dan kelembaban), Faktor lain seperti kesanggupan menahan air, aktifitas ternak dan kondisi fisiologi ternak (sedang tumbuh, bunting, laktasi)

Faktor Makanan dipengarui oleh konsumsi bahan kering akan mempengaruhi konsumsi air minum pada kondisi suhu lingkungan nyaman. Namun pada kondisi stres panas, ternak akan meningkatkan konsumsi air dan menurunkan konsumsi pakan. Kandungan air pakan. Kandungan protein, lemak dan garam dalam pakan. Semakin tinggi kandungan nutrien tersebut, konsumsi air meningkat.

Faktor Lingkungan dipengaruhi oleh Suhu dan kelembaban yang tinggi menyebabkan ternak stres panas, hal ini akan meningkatkan konsumsi air minum. Selain itu, desain, kebersihan tempat minum dan jarak ke sumber air juga mempengaruhi konsumsi air pada ternak. Secara umum volume air yang diperlukan ternak adalah 2 – 5 kg/kg BK pakan (bila kondisi tidak stres).

Bila suplai air terbatas maka akan berdampak pada penurunan konsumsi pakan dan produktivitas ternak. Selain itu, urin dan air feses menurun, ternak akan kehilangan berat badan karena dehidrasi. Akibat dehidrasi terutama pada suhu panas, maka akan meningkatkan denyut nadi, suhu rektal dan konsentrasi darah. Selain itu ternak akan kehilangan air didalam dan di luar sel, kesulitan menggerakkan otot, kehilangan kestabilan emosi dan kematian.

Kualitas air akan mempengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak. Kualitas air yang rendah akan menurunkan konsumsi air yang akan berdampak pada penurunan konsumsi pakan dan produktifitas ternak. Zat-zat zang menurunkan kualitas air adalah: berbagai garam termasuk yang berikatan dengan logam berat, nitrat, flouride, mikroorganisme patogen (bakteri, protozoa, fungi), alga, hydrocarbon, pestisida dan zat-zat industri kimia.

Keracunan air bisa terjadi pada beberapa spesies (manusia, anak sapi) karena mengkonsumsi air dalam jumlah besar secara tiba-tiba setelah ternak kekurangan air selama waktu tertentu. Akibatnya adalah kematian karena adaptasi yang lambat dari ginjal.

Sumber: Church and Pond 1988. Basic Animal Nutrition dan Feeding IIIrd Ed.

(Visited 80 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *