fbpx
Suara Peternakan

Begini Cara Mengenali Penyakit Ngorok pada Ternak Sapi, Kerbau, Kambing, Domba dan Kuda

SuaraPeternakan.com – Penyakit ngorok atau Septiceamia Epizootica (SE) merupakan penyakit yang sangat akut, tingkat kematian ternak sangat tinggi. Apabila ternak telah menunjukkan tanda-tanda klinis kematian bisa mencapai 90%.

Penyakit ini timbul secara dadakan (tiba-tiba) dan jika sudah terkena penyakit ini sulit sekali atau kecil kemungkinan untuk dapat disembuhkan.

Penyakit ini merupakan jenis penyakit yang menular dan ternak yang diserangnya adalah ternak sapi, kerbau, kambing, domba dan kuda.

Penularannya melalui kontak langsung, makanan, minuman, dan alat-alat yang tercemar bakteri Pasteurella multocida.

Gejala Penyakit Ngorok

Pada penyakit ini dikenal dengan tiga bentuk yaitu busung, pektoral dan intestinal. Pada bentuk busung terdapat dibagian kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang-kadang pada kaki dan muka.

Pada bagian dubur dan alat kelamin juga mengalami busung. Tingkat kematian yang sangat tinggi hingga 90%, hanya tiga hari dan kadang sampai 1 minggu.

Sebelum mati, utamanya pada kerbau gangguan pernafasan akan seperti sesak nafas (dyspnoe) dan suara ngorok, merintih dengan gigi gemeretak.

Pada bentuk pektoral, tandanya yaitu bronchopneumonia lebih menonjol dimulai dengan keluarnya ingus di hidung, pernafasan cepat dan susah bernafas. Gejala tersebut berlangsung lama antara 1-3 minggu.

Apabila penyakit berjalan kronis akan mengakibatkan ternak menjadi kurus dan sering batuk, nafsu makan terganggu, mata sayu serta secara terus menerus mengeluarkan air mata. Suhu tidak berubah, tetapi terjadi mencret degil (sulit disembuhkan) yang bercampur darah.

Pencegahan Penyakit Ngorok

Upaya yang dianggap efektif pencegahannya adalah dengan memaksin agar tubuh menjadi kebal. Apabila peternak mendapatkan ternak yang memperlihatkan gejala penyakit ngorok, segera laporkan ke petugas peternakan.

Pisahkan ternak yang sakit atau diduga terserang penyakit ngorok dengan ternak yang sehat.

Perlu adanya vaksinasi yang rutin setiap tahunnya. Ternak yang diduga terkena penyakit ngorok seharusnya disuntik dengan antibiotik pada dosis pencegahan.

Perlu adanya sanitasi atau kebersihan kandang secara rutin. Kandang sebaiknya disanitasi dengan benar dengan menjaga kebersihannya.

Pengawasan terhadap keluar masuk ternak yaitu dengan cara ternak yang baru datang harus dikarantina sebelum disebarkan kepada masyarakat.

Apabila mendapatkan ternak mati akibat penyakit ngorok segera dikubir atau dibakar. Jangan dihanyutkan kesungai karena akan mengakibatkan masalah lingkungan dan aan menular pada ternak lain.

Pengobatan Penyakit Ngorok

Pengobatan dapat dilakukan dengan seroterapi dengan serum kebal homolog dengan dosis 100-150 ml untuk ternak besar dan 50-100 ml untuk ternak kecil.

Antiserum homolog diberikan secara IV atau SC. Sedangkan antiserum heterolog diberikan secara SC.

Penyuntikan dengan antiserum memberikan kekebalan selama 2 sampai 3 minggu dan hanya baik bila dilakukan pada stadium awal penyakit.

Sebaiknya pemberian seroterapi dikombinasikan dengan pemberian antibiotika atau kemoterapetika.

Apabila antiserum tidak tersedia, pengobatan dapat dilaukan dengan preparat antibiotika, kemoterpetika atau gabungan kedua preparat tersebut. Atau bisa menggunakan Sulphadimidine (suphamezathine) sebanyak 1 gram tiap 15 lb bw.

Sumber: kabartani.com

(Visited 85 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *