fbpx

Pengusaha Peternakan Perlu Waspadai Digital Disruption

Oleh : Aris Yasin, S.Pt, M.Si

SuaraPeternakan.com – Penyebab disruption adalah perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat dan masif. Digital distruption diperkirakan akan terjadi pada 2020 mendatang. Dimana pada masa itu e-commerce akan merajai pasar dan menggeser nilai-nilai dan kebiasaan konsumen. Para pengusaha dan pebisnis yang ingin survive harus siap menghadapi perubahan dan perkembangan terknologi digital tersebut.

Sektor peternakan sangat potensial khusunya pada sektor usahanya, dari hulu sampai hilir melibatkan banyak orang. Kebutuhan produk peternakan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar misalnya kebutuhan daging, kebutuhan telur dan produk-produk olahan lainnya. Usaha warung kaki lima hingga restoran besar, semua menyiapkan sajian-sajian dari produk peternakan.

Distribusi daging untuk sampai kepada konsumen melibatkan banyak orang, mulai dari peternak, belantik, pengepul, jagal, pedagang pasar, baru sampai kepada konsumen. Era distrupsi melalui smart application akan mengurangi peran banyak pihak. Pemotongan rantai distribusi terlalu dini sehingga kondisi tersebut membuat gejolak sosial di masyarakat.

Mungkin saja akan banyak peran digantikan dengan teknologi canggih, semua dijalankan dengan distribusi pendek dan cepat. Semua pihak harus menyadari dan mempersiapkan dalam menghadapi era distrupsi. Apabila tidak berbenah menggunakan ternologi berkembang dari sekarang akan mudah tersingkir dan tergusur.

Dibutuhkan perubahan cara pandang bagaimana mengelolah usaha peternakan dan produk olahnnya. Sampai betul-betul memberikan nilai tambah mulai dari peternak, pengusaha peternakan sendiri, pembibitan dan seluruh sektor usaha peternakan.

Pentingnya bagaimana memasarkan khususnya produk peternakan dalam bentuk basis komunitas untuk pengembangan usaha. Alangkah idealnya perusahaan peternakan punya cara memodernisasi bisnisnya. Contoh kecil, ayam broiler yang sudah dipotong kemudian mengirimkan ke warung kaki lima hingga restoran besar. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat database terkait masyarakat yang ada pada tataran segmen wilayah yang akan dituju.

Database akan melakukan kalsifikasi market sharenya. Dilihat dari berapa persen untuk kelompok usaha, konsumen langsung, dan berapa persen untuk pedagang kecil. Kategori atau klasifikasi tersebut diharapkan ada inovasi yang dilakukan oleh dunia usaha peternakan.

Dalam bisnis ini kelompok atau komunitas yang telah dikalsifikasikan, juga akan mendapat keuntungan. Bukan hanya dari orang tertentu dan perusahaan besar yang mendapat keuntungan besar.

Intinya bagaimana by sistem dikelolah dengan menggunakan teknologi informasi yang memadai. Menyediakan sumber daya manusia yang terlatih  dan berprinsip inovasi, kreativitas, memiliki keberanian sehingga menjadi modal dasar untuk memasuki model bisnis dan pengembangan usaha.

Era distrupsi diperlukan suatu adaptasi dan keluwesan oleh semua pihak, sehingga disrupsi tidak menimbulkan ketidakseimbangan dalam industri peternakan.

Dalam tahap individual membutuhkan Model by sitem dimana ada pengetahuan yang lebih dalam lagi dengan mengacu pada sistem dalam menggunakan teknologi online dan merupakan pengetahuan yang sangat dasar. Bagaimana cara mengubah pola pikir untuk bisa menerima bahwa ada hal yang lebih besar dalam dunia peternakan yang bisa digali dengan sistem seperti ini.

Tahapan basis komunitas akan bergerak bersama untuk mensupport model by sistem, misalnya ketika mereka masing-masing punya saham. Misalnya memilih produk telur sebagai usaha bersama, sebab hampir semua orang mengkonsumsi telur. Dengan mengumpulkan database mulai dari berapa konsumsi telur perhari dalam satu kelurahan atau satu wilayah.

Menggunakan trand saat ini, cukup menggunakan gadget dengan membuat aplikasi, membuat komsumen mendapatkan telur hanya memakai aplikasi. Memasarkan telur atau produk peternakan secara online sangat penting. Melihat gejala yang terjadi sekarang ini, orang lebih suka belanja lewat media online.

Gagasannya adalah pengembangan komunitas peternakan berbasis dengan pendekatan disiplin teknologi informasi. Peternakan menjadi penting karena nantinya akan menghasilkan keuntungan triliunan. Menggunakan aplikasi sendiri atau bekerjasama dengan gojek atau grab online.

Perubahan besar sekarang adalah platform, bisnis dari berbasisi komoditi, penawaran dan permintaan berubah. Sumber daya yang inovasi, kreativitas dan keberanian, dan rata-rata tringer dan itu adalah kelompok anak muda.

Perlunya sarjana peternakan untuk selalu berinovasi dan menjemput usaha peternakan yang ada didaerah. Meskipun tidak memiliki modal besar misalnya tidak memiliki tanah, tanpa memiliki kandang kita bisa menjadi bagian pengembangan sektor usaha peternakan. Tidak perlu berpikir bahwa bisnis peternakan harus punya relasi dan harus punya modal dalam bentuk kandang dan sebagainya.

Mimpi kita bersama adalah dunia peternakan bisa menjadi salah satu instrument penguat. Bahwa sarjana peternakan tidak hanya terserap pada dunia usaha yang sifatnya sebagai pekerja di perusahaan besar. Anak peternakan juga bisa memulai melakukan inovasi untuk komunitas bisnis dan usaha.  Tetap berbisnis dipeternakan untuk mengembangkan sebuah aplikasi  dan menemukan sebuah sistem bayangan teknisnya mungkin misalnya daging, telur. Jadi basis utamanya ekomas, jadi produk peternakan dikelolah menjadi star up.

Era disrupsi ditandai dengan generasi milenial (1977-1995) yang terus unjuk gigi dengan karya, berlomba menghadirkan teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi usaha bidang peternakan.

Beberapa start-up bidang peternakan bermunculan dan memberikan prespektif baru, baik untuk industri peternakan maupun kepada peternak. Misalnya bantuternak.com, merupakan start-up yang digagas para mahasiswa lintas jurusan di Universitas Gadjah Mada yang bertujuan untuk menghubungkan peternak kepada investor.

Para pemilik modal yang ingin beternak tidak harus secara langsung memelihara ternak. Mereka akan mendapatkan keuntungan dari pemeliharaan ternak yang dilakukan oleh peternak. Melalui sistem baru ini, bantuternak membantu peternak untuk meningkatkan kapasitas usaha yang mereka jalankan, sehingga aplikasi ini menjadi bagian dari peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi.

Aplikasi bantuternak mampu menghubungkan pembeli untuk mendapatkan ternak secara langsung berdasarkan keinginannya tanpa melalui tengkulak (middleman). Pembeli dapat melihat harga ternak dan menyesuaikan kemampuan finansial yang dimiliki. Aplikasi bantuternak mampu memotong rantai penjualan yang selama ini menjadi momok bagi peternak. Hal ini membuat usaha peternakan dapat dijalankan secara efisien, sehingga mampu meningkatkan keuntungan peternak dengan harga yang berkeadilan tanpa merugikan pembeli.

Melihat dari dua contoh aplikasi tersebut, selain dari sisi teknologi, disrupsi juga terjadi pada konsep bisnis dimana pemilik modal tidak secara langsung memelihara ternak. Selain itu, terjadi pembagian peran yang menghasilkan hubungan saling menguntungkan, usaha tidak dikuasai secara perorangan akan tetapi secara bersama-sama (economic sharing).

Hardianti, S.Pt, M,Si

Hardianti, S.Pt, M,Si

Editor

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Pengusaha Peternakan Perlu Waspadai Digital Disruption

Oleh : Aris Yasin, S.Pt, M.Si

SuaraPeternakan.com – Penyebab disruption adalah perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat dan masif. Digital distruption diperkirakan akan terjadi pada 2020 mendatang. Dimana pada masa itu e-commerce akan merajai pasar dan menggeser nilai-nilai dan kebiasaan konsumen. Para pengusaha dan pebisnis yang ingin survive harus siap menghadapi perubahan dan perkembangan terknologi digital tersebut.

Sektor peternakan sangat potensial khusunya pada sektor usahanya, dari hulu sampai hilir melibatkan banyak orang. Kebutuhan produk peternakan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar misalnya kebutuhan daging, kebutuhan telur dan produk-produk olahan lainnya. Usaha warung kaki lima hingga restoran besar, semua menyiapkan sajian-sajian dari produk peternakan.

Distribusi daging untuk sampai kepada konsumen melibatkan banyak orang, mulai dari peternak, belantik, pengepul, jagal, pedagang pasar, baru sampai kepada konsumen. Era distrupsi melalui smart application akan mengurangi peran banyak pihak. Pemotongan rantai distribusi terlalu dini sehingga kondisi tersebut membuat gejolak sosial di masyarakat.

Mungkin saja akan banyak peran digantikan dengan teknologi canggih, semua dijalankan dengan distribusi pendek dan cepat. Semua pihak harus menyadari dan mempersiapkan dalam menghadapi era distrupsi. Apabila tidak berbenah menggunakan ternologi berkembang dari sekarang akan mudah tersingkir dan tergusur.

Dibutuhkan perubahan cara pandang bagaimana mengelolah usaha peternakan dan produk olahnnya. Sampai betul-betul memberikan nilai tambah mulai dari peternak, pengusaha peternakan sendiri, pembibitan dan seluruh sektor usaha peternakan.

Pentingnya bagaimana memasarkan khususnya produk peternakan dalam bentuk basis komunitas untuk pengembangan usaha. Alangkah idealnya perusahaan peternakan punya cara memodernisasi bisnisnya. Contoh kecil, ayam broiler yang sudah dipotong kemudian mengirimkan ke warung kaki lima hingga restoran besar. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat database terkait masyarakat yang ada pada tataran segmen wilayah yang akan dituju.

Database akan melakukan kalsifikasi market sharenya. Dilihat dari berapa persen untuk kelompok usaha, konsumen langsung, dan berapa persen untuk pedagang kecil. Kategori atau klasifikasi tersebut diharapkan ada inovasi yang dilakukan oleh dunia usaha peternakan.

Dalam bisnis ini kelompok atau komunitas yang telah dikalsifikasikan, juga akan mendapat keuntungan. Bukan hanya dari orang tertentu dan perusahaan besar yang mendapat keuntungan besar.

Intinya bagaimana by sistem dikelolah dengan menggunakan teknologi informasi yang memadai. Menyediakan sumber daya manusia yang terlatih  dan berprinsip inovasi, kreativitas, memiliki keberanian sehingga menjadi modal dasar untuk memasuki model bisnis dan pengembangan usaha.

Era distrupsi diperlukan suatu adaptasi dan keluwesan oleh semua pihak, sehingga disrupsi tidak menimbulkan ketidakseimbangan dalam industri peternakan.

Dalam tahap individual membutuhkan Model by sitem dimana ada pengetahuan yang lebih dalam lagi dengan mengacu pada sistem dalam menggunakan teknologi online dan merupakan pengetahuan yang sangat dasar. Bagaimana cara mengubah pola pikir untuk bisa menerima bahwa ada hal yang lebih besar dalam dunia peternakan yang bisa digali dengan sistem seperti ini.

Tahapan basis komunitas akan bergerak bersama untuk mensupport model by sistem, misalnya ketika mereka masing-masing punya saham. Misalnya memilih produk telur sebagai usaha bersama, sebab hampir semua orang mengkonsumsi telur. Dengan mengumpulkan database mulai dari berapa konsumsi telur perhari dalam satu kelurahan atau satu wilayah.

Menggunakan trand saat ini, cukup menggunakan gadget dengan membuat aplikasi, membuat komsumen mendapatkan telur hanya memakai aplikasi. Memasarkan telur atau produk peternakan secara online sangat penting. Melihat gejala yang terjadi sekarang ini, orang lebih suka belanja lewat media online.

Gagasannya adalah pengembangan komunitas peternakan berbasis dengan pendekatan disiplin teknologi informasi. Peternakan menjadi penting karena nantinya akan menghasilkan keuntungan triliunan. Menggunakan aplikasi sendiri atau bekerjasama dengan gojek atau grab online.

Perubahan besar sekarang adalah platform, bisnis dari berbasisi komoditi, penawaran dan permintaan berubah. Sumber daya yang inovasi, kreativitas dan keberanian, dan rata-rata tringer dan itu adalah kelompok anak muda.

Perlunya sarjana peternakan untuk selalu berinovasi dan menjemput usaha peternakan yang ada didaerah. Meskipun tidak memiliki modal besar misalnya tidak memiliki tanah, tanpa memiliki kandang kita bisa menjadi bagian pengembangan sektor usaha peternakan. Tidak perlu berpikir bahwa bisnis peternakan harus punya relasi dan harus punya modal dalam bentuk kandang dan sebagainya.

Mimpi kita bersama adalah dunia peternakan bisa menjadi salah satu instrument penguat. Bahwa sarjana peternakan tidak hanya terserap pada dunia usaha yang sifatnya sebagai pekerja di perusahaan besar. Anak peternakan juga bisa memulai melakukan inovasi untuk komunitas bisnis dan usaha.  Tetap berbisnis dipeternakan untuk mengembangkan sebuah aplikasi  dan menemukan sebuah sistem bayangan teknisnya mungkin misalnya daging, telur. Jadi basis utamanya ekomas, jadi produk peternakan dikelolah menjadi star up.

Era disrupsi ditandai dengan generasi milenial (1977-1995) yang terus unjuk gigi dengan karya, berlomba menghadirkan teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi usaha bidang peternakan.

Beberapa start-up bidang peternakan bermunculan dan memberikan prespektif baru, baik untuk industri peternakan maupun kepada peternak. Misalnya bantuternak.com, merupakan start-up yang digagas para mahasiswa lintas jurusan di Universitas Gadjah Mada yang bertujuan untuk menghubungkan peternak kepada investor.

Para pemilik modal yang ingin beternak tidak harus secara langsung memelihara ternak. Mereka akan mendapatkan keuntungan dari pemeliharaan ternak yang dilakukan oleh peternak. Melalui sistem baru ini, bantuternak membantu peternak untuk meningkatkan kapasitas usaha yang mereka jalankan, sehingga aplikasi ini menjadi bagian dari peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi.

Aplikasi bantuternak mampu menghubungkan pembeli untuk mendapatkan ternak secara langsung berdasarkan keinginannya tanpa melalui tengkulak (middleman). Pembeli dapat melihat harga ternak dan menyesuaikan kemampuan finansial yang dimiliki. Aplikasi bantuternak mampu memotong rantai penjualan yang selama ini menjadi momok bagi peternak. Hal ini membuat usaha peternakan dapat dijalankan secara efisien, sehingga mampu meningkatkan keuntungan peternak dengan harga yang berkeadilan tanpa merugikan pembeli.

Melihat dari dua contoh aplikasi tersebut, selain dari sisi teknologi, disrupsi juga terjadi pada konsep bisnis dimana pemilik modal tidak secara langsung memelihara ternak. Selain itu, terjadi pembagian peran yang menghasilkan hubungan saling menguntungkan, usaha tidak dikuasai secara perorangan akan tetapi secara bersama-sama (economic sharing).

Hardianti, S.Pt, M,Si

Hardianti, S.Pt, M,Si

Editor

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Uncategorized

Kementan : Semen Beku dari UPT Dijamin Berkualitas Tinggi

Jakarta_Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) lewat Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, terus berupaya menyiapkan kebutuhan semen beku. Semen

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch

(Visited 247 times, 1 visits today)

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Uncategorized

Kementan : Semen Beku dari UPT Dijamin Berkualitas Tinggi

Jakarta_Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) lewat Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, terus berupaya menyiapkan kebutuhan semen beku. Semen

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch

(Visited 247 times, 1 visits today)