fbpx
Suara Peternakan

Pemuda Minang Lulusan IT dari Australia, Pulang Kampung jadi Peternak

SuaraPeternakan.com – Budaya merantau sangat identik bagi orang Minangkabau. Baik untuk mengadu nasib di ranah bisnis maupun melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, setelah meraih gelar sarjana, tidak banyak yang kembali pulang ke kampung.

Seperti yang dilakukan oleh Perdana Agusta, dari tenaga IT jadi peternak. Perdana Agusta, yang akrab disapa Agung, lulus jurusan IT (information technology) dari Monash University, Australia, pada 2004.

Setelah meraih kelulusannya, Agung bukanlah bekerja dibidang IT murni, namun keinginannya untuk berbisnis. Menurutnya kuliah bukanlah serta merta harus bekerja sesuai dengan apa yang kita pelajari. Kuliah itu untuk membangun karakter. Pembentukan pola kita berpikir, kita belajar untuk ambil keputusan, bagaimana riset, dan mengembangkan karakter diri.

Agung berkeinginan untuk dekat dengan orang tua, Agung pun pulang ke Payakumbuh. Dia yakin, bisnis di daerah punya peluang lebih besar untuk berkembang.

Menurut Agung kehidupan di luar negeri sendiri kehidupan orang stagnan sebenarnya. Jadi, dengan penghasilan besar, biaya hidupnya juga besar. “Lebih mungkin untuk kaya di daerah. Kalau di Jakarta terlalu banyak persaingan. Di daerah (Payakumbuh) potensinya besar, tetapi tidak dilirik banyak orang,” tutur Agung dikutip dari bbc.com.

Bisnis yang ditekuninya adalah beternak ayam. Melihat banyak orang yang beternak ayam petelur di Payakumbuh. Agung pun mulai membuka bisnis penjualan obat untuk hewan. Dua tahun menjalani bisnis ini membuatnya kerap bertemu peternak ayam. Pada 2007, Agung membeli sebuah peternakan ayam yang memiliki 60.000 ekor ayam petelur produktif.

“Kalau dagang biasa, kita hanya berhubungan dengan pelanggan. Kalau jadi peternak, kita juga berhubungan dengan makhluk hidup lain, yang kompleks pemeliharaannya, saya jadi tertarik, tertantang.”

Tahun 2008, ketika dia ingin mencari cara bagaimana agar produktivitas telur melonjak. Dan setelah melakukan riset panjang ditambah kunjungan ke Malaysia dan Thailand, Agung menyimpulkan dia harus mengubah peternakan tradisionalnya menjadi peternakan teknologi tinggi, dengan sistem serba otomatis.

Di sinilah pendidikan masa kuliahnya terpakai. Dia mengaku “tidak mengalami kesulitan” untuk menggunakan teknologi yang diimpornya dari Jerman. “Di Sumatera Barat, kami yang pertama menggunakan sistem peternakan otomatis ini. Bahkan di seluruh Indonesia baru 3-5% yang menggunakan sistem otomatis.”

Dengan sistem otomatis, suhu kandang ayam bisa diatur optimal untuk bertelur (18-20 derajat Celcius) dan pemberian pakan dilakukan oleh mesin “sehingga lebih sedikit pakan yang terbuang”.

“Produktivitas meningkat drastis. Untuk ternak tradisional, di lahan dua hektar misalnya, hanya punya populasi 40.000 ekor ayam. Tapi kalau di sini (sistem otomatis), lahan dua hektar bisa menampung 350.000 ekor ayam.”

Alhasil, Agung bercerita, setelah menggunakan teknologi otomatis profitnya meningkat sampai 100%. Saat ini, sebagai salah satu peternak ayam petelur terbesar di Payakumbuh, Agung memiliki 500.000 ekor ayam di delapan peternakan, dengan produksi 400.000 butir telur per hari. “Omzetnya sekitar Rp13 miliar rupiah sebulan.”

Pasarnya pun tak tanggung-tanggung. Selain menyalurkan telur secara lokal, 60% telur yang diproduksi peternakan Agung, dikirim ke Jakarta. Agung pun teringat masa-masa ketika dia masih dipandang sebelah mata.

“Satu hal yang membuat saya berbeda adalah, meski sama-sama ternak ayam, saya produksi dan jual dengan cara berbeda, berdasarkan pengalaman yang ditempa. Konsepnya berbeda. Dan sekarang terlihat, hasilnya juga berbeda, terbukti,” tutup Agung.

Sumber: bbc.com

(Visited 53 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *