fbpx
Suara Peternakan

Pemotongan Ternak Kurban Idul Adha, Begini Tata Caranya

Suarapeternakan.com – Idul Adha jatuh setelah 70 hari Idul Fitri atau tepatnya 10 Dzulhijah. Idul Adha berawal ketika Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba.

Menjelang hari raya idul adha, masyarakat muslim melakukan ibadah dengan menyembelih ternak kurban yaitu Sapi, kerbau, unta, kambing, dan domba. Namun perlu diketahui bahwa, stres yang dialami ternak khususnya sapi, kambing dan ternak kurban lainnya akan menyebabkan menurunnya kualitas daging. Daging menjadi tidak empuk dan akan cepat membusuk.

Hal yang dilakukan untuk mencegah hal tersebut sebaiknya ketika pemotongan ternak kurban dipisahkan dengan ternak lainnya, agar ternak yang masih hidup tidak mencium bau amis darah. Menurut peneliti produk halal Fakultas Peternakan UGM, Ir. hanung Danar Dono, yang dikutip dari cendananews.com bahwa, kondisi pemicu stres pada ternak kurban adalah mencium bau amis darah, ternak hidup tidak boleh melihat rekannya dikuliti dan tidak boleh melihat genangan darah.

Ternak yang stres dapat dilihat ketika menggerakkan ekornya, sebagai penanda ternak tersebut dalam kondisi gelisah. Kondisi hewan yang stres, sesaat sebelum penyembelihan, akan menghasilkan daging yang kurang enak. Kondisi tersebut bisa dilihat dari warna daging setelah dipotong-potong. Warna daging agak gelap dan pucat.

Perlu diperhatikan pemotongan ternak kurban sesuai dengan syariat islam dan mengacu pada kesejahteraan hewan yang terpenuhi yaitu daging yang diperoleh tetap halal, sehat, bersih dan higienis.

Sebelum proses penyembelihan yang harus dilakukan adalah mengistirahatkan ternak sebelum disembelih, sebaiknya dipuasakan selama 12 jam agar proses penyemblihan menjad lebih mudah. Pemuasaan sangat efektif agar ternak kurban tidak agresif. Pemuasaan juga akan mengurangi isi rumen (perut).

Hal yang perlu diperhatikan pada saat penyembelihan ternak kurban, lokasi tempat penampungan dan penanganan daging harus terpisah. Tempat penyembelihan haruslah diberikan pembatas atau penutup agar tak dilihat orang banyak maupun ternak kurban lainnya. Sediakan pisau dan pengasahnya, untuk sapi panjang mata pisau minimal 30 cm, kambing/domba minimal 20 cm). Ketajaman pisau bisa dicoba dengan cara membelah kertas A4 secara vertikal maupun sekali tebas

Tersedia lubang penampungan darah dengan ukuran:
• Panjang x lebar untuk domba/kambing dan sapi/kerbau 0,5 m x 0,5 m (setiap 10 ekor hewan;
• Kedalaman 0,5 m untuk domba/kambing dan untuk sapi/kerbau 1,0 m (setiap 10 ekor hewan);

Tersedia penyangga kepala untuk memudahkan
penyembelihan, dapat terbuat dari balok kayu atau
bahan lain yang sesuai dengan ukuran ukuran 7 cm x 15 cm x 75 cm

Lantai/alas tempat penyembelihan tidak licin dan tidak langsung menyentuh tanah, tali tambang dengan diameter minimal 2 cm. Sarana air bersih yang cukup dan sabun untuk
membersihkan peralatan dan tangan.

Berikut proses penyembelihan ternak secara benar:

  1. Saat penyembelihan berlangsung, penyembelih mengusahakan agar bisa memotong tiga saluran yang terdapat pada leher bagian depan. Tepatnya saluran yang berada di bawah jakun, yakni saluran nafas, saluran makanan dan pembuluh darah arteri karotis dan vena jugularis.
  2. Proses penyembelihan tidak boleh memutus saluran sumsum tulang belakang. Karena kepentingan pemompaan darah agar cepat keluar, apabila terputus, darah akan banyak menumpuk sehingga daging lebih mudah membusuk.
  3. Sebelum ternak benar-benar mati dilarang menusuk jantungnya, mengguliti, memotong kaki dan memotong ekornya.
  4. Mengecek ternak yang sudah mati dengan melihat reflek mata, reflek ekor dan reflek kuku. Apakah berkedip atau reflek ekor bergeser atau tidak saat dipegang. Jika hewan tidak bereaksi ketika dipencet-pencet batang ekornya, artinya sudah mati.

Refleks selanjutnya yang dapat diperiksa adalah refleks kuku. Sapi, kerbau, unta, kambing, dan domba adalah hewan berkuku genap (ungulata). Di antara kedua kuku kaki hewan-hewan tersebut, terdapat bagian yang sangat sensitif. Tusuk pelan bagian itu menggunakan ujung pisau yang runcing. Jika masih bereaksi, artinya hewannya masih hidup. Namun, jika diam saja, artinya ia sudah mati.

Menurut Danar Dono, daging ternak halal yang disembelih secara syariat bisa menjadi haram. Oleh karena itu, sebelum benar-benar mati dilarang untuk memotong kaki, ekor dan menggulitinya artinya sama halnya mengguliti hidup-hidup. Ternak bisa kesakitan, dan mati bukan karena disembelih, namun karena kesakitan.

(Visited 46 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *