fbpx
Suara Peternakan

Pemanfaatan Penanganan Limbah Peternakan dalam Mengatasi Pencemaran Lingkungan

SUARAPETERNAKAN.COM – Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan.

Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media pelbagai tujuan (Sihombing, 2002).

Laporan yang dikeluarkan oleh bantuan lembaga multi Peternakan, Inisiatif Lingkungan dan Perkembangan (LEAD), mengungkapkan secara gamblang tentang biaya lingkungan yang harus dibayar akibat dari sektor peternakan dan menetapkan sejumlah cara untuk memperbaiki situasi tersebut.

Degradasi tanah – mengontrol akses dan menghilangkan rintangan di padang rumput biasa. Menggunakan metode konservasi tanah dan silvopastoralism, juga melarang ternak di daerah yang sensitif; membayar ganti rugi lingkungan atas penggunaan tanah oleh peternakan sebagai upaya untuk memperbaiki degradasi tanah.

Atmosfer dan iklim – menambah efisiensi produksi ternak dan pertanian pangan. Mengurangi pola makan hewani untuk mengurangi emisi metana dan membuat tanaman biogas inisiatif untuk mendaur ulang pupuk.

Air – memperbaiki efisiensi sistem irigasi. Mengenakan harga atau pajak tinggi untuk air yang digunakan untuk peternakan yang berskala besar di dekat kota.

Ini dan pertanyaan yang berhubungan telah menjadi fokus diskusi antara FAO dan mitranya untuk memetakan para produsen ternak dalam pertemuan global di Bangkok. Diskusi ini juga termasuk risiko kesehatan rakyat akibat pertumbuhan sektor ternak yang bertambah semakin cepat serta penyakit pada hewan yang juga mempengaruhi manusia.

Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah

Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob.

Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).

Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik

Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk organik. Penggunaan pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki struktur tanah tersebut.

Kotoran ternak dapat juga dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut .

Pemanfaatan Untuk Gasbio

Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio.

Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi.

Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K .

Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2) (Simamora, 1989).

Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari.

Pembentukan gasbio dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer.

Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amoniak.

Model pemroses gas bio yang banyak digunakan adalah model yang dikenal sebagai fixed-dome. Model ini banyak digunakan karena usia pakainya yang lama dan daya tampungnya yang cukup besar. Meskipun biaya pembuatannya memerlukan biaya yang cukup besar.

Untuk mengatasi mahalnya pembangunan pemroses biogas dengan model feixed-dome, tersebut sebuah perusahaan di Jawa Tengah bekerja sama dengan Balai Pengkajian dan Penerapan Teknolgi Ungaran mengembangkan model yang lebih kecil untuk 4-5 ekor ternak, yang siap pakai, dan lebih murah karena berbahan plastic yang dipendam di dalam tanah.

Di perdesaan, gasbio dapat digunakan untuk keperluan penerangan dan memasak sehingga dapat mengurangi ketergantungan kepada minyak tanah ataupun listrik dan kayu bakar. Bahkan jika dimodifikasi dengan peralatan yang memadai, biogas juga dapat untuk menggerakkan mesin.

Pemanfaatan Formulasi Pakan Yang Dapat Meminimalisir Gas Metana Yang Dihasilkan Pada Rumen Sapi

Gas metana yang dihasilkan oleh ternak sebenarnya dapat diminimalisir dampak negatifnya dengan cara pemanfaatan feses ternak menjadi biogas. Instalasi pembuatan biogas memiliki desain yang sederhana dan mudah untuk dibuat.

Gas metana merupakan gas yang mutlak dihasilkanoleh hewan ruminansia, karena hal tersebut merupakan bagian dari aktivitas metabolismenya. Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari masalah tersebut adalah dengan cara pemberian pakan dengan formulasi sedemikian rupa sehingga gas hasil fermentasi berupa metana yang dihasilkan oleh mikrobia dalam rumen dapat diminimalisir jumlahnya.

Sapi yang diternakkan, terutama di perusahaan-perusahaan feedlot pada umumnya akan diberi pakan dengan formulasi tertentu untuk mengoptimalkan pertumbuhannya. Pakan tersebut terdiri dari hijauan dan ransum.

Puspitasari dkk (2015) menyatakan bahwa feses sapi Friesian Holstein (FH) laktasi yang diberi pakan ransum dan rumput gajah menghasilkan gas metana dengan jumlah yang lebih rendah dibandingkan sapi yang diberi pakan ransum dan jerami padi atau ransum dan campuran jerami padi dan rumput gajah.

Artinya, pakan memiliki pengaruh terhadap produksi gas metana hewan ternak. Namun, sebagai sebuah industri, sektor peternakan juga memerhatikan efisiensi produksi. Tujuan dari industri peternakan sendiri adalah bagaimana caranya menghasilkan produk peternakan dengan waktu secepat mungkin supaya terjadi efisiensi.

Untuk itu sudah banyak sekali penelitian tentang formulasi pakan dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak. Pemberian pakan yang menghasilkan lebih sedikit gas metana menjadi sebuah dilema tersendiri karena pakan merupakan inti dari industri peternakan dimana 70% biaya produksi terletak pada pakan sehingga kenaikan biaya untuk pembuatan pakan dengan emisi metana rendah akan menyebabkan peningkatan biaya produksi yang cukup signifikan.

 Untuk itu, masih diperlukan penelitian bagaimana formulasi pakan yang dapat meminimalisir gas metana yang dihasilkan pada rumen sapi, namun tetap memberikan tingkat efisiensi yang tinggi terhadap usaha penggemukan ternak.

Emisi gas karbondioksida karena kegiatan distribusi ternak atau komoditas hasil ternak dapat diminimalisir dengan cara pembagian kuota wilayah ekspor dan impor ternak dan komoditas hasil ternak, sehingga negara eksportir hanya dapat mengekspor komoditasnya di negara yang letaknya tidak terlalu berjauhan.

 Selain itu, pengurangan kuota impor atau jual beli antar daerah ternak hidup juga dapat dikurangi dan diganti dengan impor daging beku yang lebih efisien tempat sehingga kegiatan distribusi juga menjadi lebih efisien.

Pemerataan daerah sentra peternakan juga perlu dilakukan supaya kegiatan distribusi yang terjadi pada jarak yang terlalu jauh. Selain itu penggunaan bahan baku lokal sebagai bahan baku pakan juga dapat mengurangi banyaknya kegiatan distribusi.

Deforestasi yang disebabkan oleh penanaman jagung dan kedelai sebagai bahan baku pakan dan emisi yang diakibatkan oleh pabrik pupuk kimia dapat diminimalisir dengan cara penerapan integrated farming system (IFS).

 Lahan kosong di sekitar peternakan dapat ditanami komoditas bahan pakan sehingga mengurangi deforestasi. Selain itu, sludge atau lumpur feses yang gasnya sudah dijadikan biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman bahan pakan yang ditanam di sekitar peternakan sehingga mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Jadi dari semua kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan pertanian dan peternakan dapat menciptakan lapangan kerja. Pembangunan pertanian dalam konteks otonomi daerah yang disesuaikan dengan permintaan pasar global sehingga pengembangan sistem pertanian terpadu sangatlah menjanjikan, meskipun tetap harus memperhatikan aspek agro ekosistem wilayah dan sosio kultur masyarakatnya (Sofyadi, 2005).

Pemanfaatan Lainnya

Selain dimanfaatkan untuk pupuk, bahan pakan, atau gasbio, kotoran ternak juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubahnya menjadi briket dan kemudian dijemur/dikeringkan. Briket ini telah dipraktekkan di India dan dapat mengurangi kebutuhan akan kayu bakar.

Pemanfaatan lain adalah penggunaan urin dari ternak untuk campuran dalam pembuatan pupuk cair maupun penggunaan lainnya.

Pemanfaatan limbah ternak akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan baik pencemaran air, tanah, maupun udara. Pemanfaatan tersebut juga menghasilkan nilai tambah yang bernilai ekonomis.

(berbagai sumber)

(Visited 78 times, 1 visits today)

Related Articles