fbpx
Suara Peternakan

Pemanfaatan dan pengolahan Bahan Pakan Lokal untuk Ternak Unggas

SUARAPETERNAKAN.COM – Pemanfaatan bahan pakan inkonvensional berupa hasil ikutan produk pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, limbah industri dan pangan. Bahan pakan tersebut digunakan sebagai bahan pakan pembatas.

Faktor yang mempengaruhi bahan pakan pembatas inkonvensional adalah kandungan zat-zat nutrisi yang rendah, kandungan zat anti nutrisi, serat kasar yang tinggi dan faktor musim. Dalam mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan tesebut perlu adanya alternatif pengembangan dan penerapan teknologi.

Meningkatkan kandungan nutrisi dan biologisnya serta perpanjangan lama penyimpanan. Proses pengolahan yang dilakukan adalah cara pengeringan, pendinginan dan fermentasi.  Pengolahan bertujuan dalam meningkatkan kandungan nutrisi dan mengurangi kerusakan bahan pakan tesebut.

Kerusakan bahan pakan disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme diataranya bakteri, ragi, jamur dan aktivitas enzim penyebab terjadinya oksidasi dan hidrolisa.

Produk teknologi pengolahan bahan pakan lokal sebagai sumber protein nabati yaitu Cassapro (Cassava berprotein tinggi) dan Fermentasi ampas tahu. Adapun bahan pakan lokal sebagai sumber protein hewani yaitu Ikan rucah dan sisa olahan ikan dan tepung bekicot. Olahan ikan dapat berupa Silase ikan asam, silase ikan biologi, tepung silase (tepsil) ikan, dan tepung ikan.

Cassapro (Cassava berprotein tinggi)

Kandungan protein kasar umbi singkong berkisar 1-3% sehingga pemanfaatannya sebagai sumber protein cukup rendah.  Proses fermentasi umbi singkong dengan menggunakan kapang Aspergillus niger yang produk fermentasinya dikenal dengan nama Cassapro.

Selama proses fermentasi, aktivitas mikroba akan mengubah nitrogen anorganik menjadi protein sel, sehingga terjadi peningkatan kadar protein substrat ubi kayu.  Kandungan protein kasar cassapro pada skala kecil mencapai 36,7% lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran skala

besar yaitu 18-20%.

Perbedaan disebabkan proses fermentasi pada skala kecil dikerjakan sangat teliti, sehingga proses fermentasi berlangsung lebih baik.

Metode pengolahan cassapro dengan cara, Singkong dikupas dan diparut; Dikeringkan dengan sinar matahari untuk menjadi sawut; Sawut dicampur dengan air (70%); Dikukus selama 30 menit; Didinginkan; Dicampur mineral sesuai bobot kering umbi singkong; Susunan mineral yaitu 7,2% ZA (amonium sulfat), 4% urea, 1,5% NaH2P04, 0,076% FeSO4, 0,50% MgSO4; Diberi kapang Aspergillus niger 0,2-0,5%;Diaduk homogen; Tempatkan pada wadah atau baki plastik ketebalan 3 cm; Simpan pada suhu ruang selama 4-5 hari sampai spora

terbentuk; Produk fermentasi dikeringkan dalam oven pada temperatur

60°C; Digiling.

Fermentasi ampas tahu

Ampas tahu merupakan limbah dari industri pembuatan tahu yang belum dimanfaatkan secara optimal terutama untuk pakan unggas yang disebabkan serat kasar yang tinggi dan kecernaan yang rendah. Ampas tahu dihasilkan dengan kandungan air dan protein kasar yang cukup tinggi, sehingga mudah busuk bila  tidak segera digunakan atau dikeringkan.

Salah satu cara untuk meningkatkan kandungan nutrisi ampas tahu adalah fermentasi dengan menggunakan ragi tempe yang mengandung Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae dan Rhizopus stolonifer.

Metode pengolahan ampas tahu: Ampas tahu basah dicuci dengan air bersih, Ditekan (diperas) untuk mengurangi kadar air, Dikukus selama 15 menit, Diangin-anginkan selama 45 menit, Diberi ragi tempe sebanyak 0,3% dari berat ampas tahu, Dibungkus dalam kantong plastik berlubang, Diperam selama 48 jam, Dikeringkan sampai kadar air 14%,  Digiling menjadi tepung

Ampas tahu basah Ampas tahu kering

Ikan rucah dan sisa olahan ikan

Bahan pakan sumber protein hewani mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan dengan protein nabati, karena mengandung zat-zat nutrisi yang lebih tinggi, diantaranya adalah asam amino metionin dan lisin, kalsium dan fosfor, kadar vitamin B-kompleks dan vitamin B12.

Beberapa kendala dalam pengolahan tepung ikan lokal adalah jenis ikan yang digunakan beragam, kuantitas, kualitas dan kontinuitas sumber bahan baku belum stabil, bersifat mudah

tengik dan berjamur yang disebabkan proses oksidasi, hidrolisis dan ketonik, daya simpan rendah karena kerusakan bahan baku secara internal dan eksternal, kandungan zat-zat nutrisi tepung ikan lokal lebih rendah dari tepung ikan produk impor.

Sebelum menggunakan bahan baku untuk pengolahan ikan, maka perlu diketahui bahwa jenis ikan berdasarkan lingkungan hidupnya terdiri dari ikan Pelagis yaitu jenis ikan yang hidup di

lapisan air (bagian atas) dan ikan Demersal yaitu jenis ikan yang hidup di dasar perairan. Kandungan zat-zat nutrisi ikan cukup bervariasi, yaitu protein kasar (15-20%), lemak terdiri dari lemak rendah (3-5%), lemak sedang (6-10%) dan lemak tinggi (>10%).

Persyaratan bahan baku ikan rucah untuk menghasilkan tepung ikan yang kualitas baik adalah ikan rucah yang memiliki ukuran kecil dengan kandungan lemak rendah, kesegaran bahan baku harus baik, proses pengolahan cepat, semua bahan baku dan peralatan harus bersih, komposisi kimia ikan rucah tidak terlalu bervariasi, pengemasan dan penyimpanan harus baik.

Beberapa bentuk pengolahan ikan rucah yang dapat digunakan dalam formulasi pakan anatara lain adalah silase ikan asam, silase ikan biologi, tepsil ikan dan tepung ikan.

Metode pengolahan dari masing-masing produk ikan rucah

tersebut seperti yang diuraikan di bawah ini:

1. Silase ikan

a. Silase ikan asam

· Ikan rucah/sisa olahan dicincang dan digiling;

· Campurkan asam formiat dan asam propionat (1,5 L F

+ 1,5 LP/100 kg ikan);

· Disimpan selama 24 jam;

· Dipres/ditekan;

· Digiling (langsung digunakan sebagai pakan);

· Dikeringkan.

b. Silase ikan biologi

· Ikan rucah/sisa olahan dicincang dan digiling;

· Karbohidrat pencampur (tetes abu (molase)/gaplek/

dedak padi dll.).

Formulasi I

· Bahan baku ikan dicampur dengan bahan pencampur

(1:1);

· Ditambah 5% ragi dan 2% starter bakteri asam laktat;

· Langsung digunakan sebagai pakan.

Formula II

· Bahan baku ikan (80%);

· Karbohidrat pencampur (15%);

· Ragi (5%);

· Starter Bakteri Asam Laktat (2%);

· Garam dari ikan (4%);

· Digiling (langsung digunakan sebagai pakan);

· Dikeringkan.

2. Tepung Silase (Tepsil) ikan

· Ikan rucah/sisa olahan dicincang, digiling halus;

· Masukkan ke dalam tong;

· Ditambah 3 liter asam formiat + 3 kg garam + air/100 kg

ikan;

· Diaduk, ditutup dan didiamkan selama 24 jam;

· Dipres (air + ampas);

· Ampas dikeringkan.

3. Tepung ikan

· Ikan rucah/sisa olahan digiling;

· Direbus dan dihentikan setelah mendidih ± 15 menit;

· Pengepresan (kadar air 50-55%);

· Pengeringan secara mekanik/sinar matahari;

· Penggilingan.

Untuk mencegah ketengikan dari produk olahan ikan dapat dipergunakan anti oksidan/bahan pengawet yang diperoleh dari pabrik/toko obat-obatan, seperti butylated hidroxy toluene

(BHT), butylated hidroxy anisol, tokoferol (Vitamin E), etoksikuin dan Vitamin E merupakan bahan pengawet yang paling mudah didapat dan murah harganya.

Pengemasan tepung ikan dapat disimpan pada karung plastik kapasitas 75 kg. Untuk mengetahui informasi produk maka ditempel label (berat (kg), tanggal produksi, tanggal kadaluarsa dan kandungan nutrisi). Sedangkan produk silase ikan disimpan ke dalam drum/tong plastik yang dilapisi plinkud, peralatan yang digunakan adalah alat pengaduk dari kayu, timbangan geser kapasitas 2 kwintal, alat pencacah, sarung tangan plastik dan masker pelindung muka dan mata. Semua produk pengolahan ikan rucah tersebut dapat disimpan selama 6-12 bulan.

Tepung bekicot

Bekicot dapat digunakan sebagai pakan karena mengandung protein yang tinggi dan zat-zat lainnya yang bermanfaat untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi ternak. Kombinasi tubuh

bekicot terdiri dari air 70%, cangkang 15% dan daging 15%.

Kandungan zat-zat nutrisi daging bekicot yaitu protein kasar 46,63-60%, lemak 3,79-8,00%, kalsium 31,54%, fosfor, VITAMIN A, VITAMIN B, asam-asam amino esensial dan

nonesensial (Kompiang dan Cresswell 1980; Sihombing 1999).

Metode pengolahan bekicot sebelum diproses menjadi

tepung bekicot atau silase bekicot adalah sebagai berikut

(Sihombing 1999):

1. Bekicot dipuasakan selama 2 hari;

2. Dicuci bersih;

3. Dicungkil dan di pisahkan cangkang dan daging;

4. Daging yang terdiri dari kepala, kaki dan isi perut ditaburi

abu arang;

5. Dicuci bersih;

6. Direbus dalam air mendidih selama 30 menit;

7. Diberi beberapa tetes cuka 5 menit sebelum diangkat dari

air mendidih;

8. Daging bekicot siap diolah menjadi bahan pakan dalam

bentuk segar, tepung dan silase bekicot.

(Visited 147 times, 1 visits today)

Related Articles