fbpx
Suara Peternakan

Peluang dan Tantangan Industri Penggemukan Sapi Potong Nasional 2019

SuaraPetermakan.com – Jumlah penduduk tiap tahunnya terus megalami peningkatan, sehingga konsumsi daging juga semakin meningkat.

Proyeksi pertumbuhan konsumsi dan produksi daging sapi dari tahun 2016 hingga 2026 mengalami peningkatan pesat. Dari data statistik pada tahun 2016 hingga 2026 antara konsumsi dan produksi daging tidak pernah mencukupi karena seiring berjalannya waktu konsumsi daging semakin meningkat sedangkan produksi menurun.

Hal tersebut disampaikan oleh ketua umum PB ISPI, Ir. Didiek Purwanto pada seminar nasional peternakan. Bertajuk “Membangun Sumberdaya Peternakan di Era Industi 4.0”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pengurus Cabang ISPI Sulsel di Hotel Dalton Makassar, Sabtu (27 April 2019).

Data Kementan, tahun 2016 perkiraan produksi peteranakan sapi dalam negeri sekitar 550 ribu ton per tahun setara 3.03 juta ekor dari populasi sekitar 15,7 juta ekor. Sedangkan kebutuhan 684 ribu ton setara 3,76 juta ekor, sehingga terdapat kekurangan suplai sebanyak 134 ribu ton atau setara 0,74 juta ekor.

” Dengan adanya kekurangan tersebut, ini menunjukkan bahwa kita sebagai sarjana peternakan punya tanggungjawab besar dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat Indeks kemajuan di Asia Tenggara masih tergolong rendah. Sehingga Potensi dan peluang peternakan sapi potong di Sulawesi Selatan sangat bagus untuk dikembangkan,” ujar Didiek.

Didiek memaparkan mengenai prognosa perhitungan ketersediaan dan kebutuhan daging sapi tahun 2018, Dengan jumlah penduduk 265,015 ribu jiwa konsumsi perkapita yaitu 2,5 kg/tahun. Adapun kebutuhan nasional 662, ribu ton dengan produksi dalam negeri hanya 429,41 ribu ton setara dengan 2.785.193 ekor sapi lokal. Sedangkan kekurangan sebanyak 233,13 ribu ton dengan total impor 233,13 ribu ton.

“Apabila terjadi kekurangan daging sapi maka akan terjadi impor daging. Tahun 2018, impor sapi bakalan sebanyak 600 ribu ekor setara dengan 119,62 ribu ton daging sapi. Sedangkan impor daging kerbau dan daging sapi yaitu 113,51 ribu ton,” Ujarnya.

Didiek menyebutkan juga mengenai fenomena industri sapi potong yaitu peningkatan kebutuhan daging lebih tinggi dibanding peningkatan produksi dalam negeri. Pola pengembangan peternakan ditingkat petani masih belum berubah.

Fenomena lainnya yaitu program yang dikembangkan belum berorentasi jangka panjang dan susteinableitas serta kurang membumi. Comuditas sapi potong belum bisa tergantikan dengan komuditas lain, mempunyai kekhasan tersendiri yang tidak mudah serta merta digantikan. Habibat konsumen daging masih memilih daging segar.

Konsusumsi daging Indonesia masih rendah dibanding dengan negara tetangga. Pertumbuhan ekonomi berdampak langsung terhadap peningkatan konsumsi daging perkapita per tahun.

Kenaikan harga daging cukup bombastis sejak tahun 2012 dan belakangan bertahan diharga yang tinggi disetiap bulan, bahkan dapat merubah image bahwa harga daging sapi tinggi hanya pada bulan tertentu (HBKN).

Penyebaran populasi sapi/ruminansia besar tidak merata & populasi yang banyak berada di wilayah pada penduduk hal ini memicu kompetesi pakan.

Didiek mengatakan, Sapi betina besar tidak boleh dipotong kecuali yang sudah afkir. Jantan yang layak potong adalah jantan dewasa.

Menambahkan, Ketika kebutuhan daging sapi meningkat dibanding produksi yang rendah akan terjadi impor.

“Peran ISPI sangat diperlukan profesinya, ini merupakan Peluang sekaligus tantangan. Fenomena peningkatan kebutuhan daging lebih tinggi dibanding pengingkatan produksi. Harus kita akui peningkatan produksi kita tidak bisa mengejar dari pada kenaikan konsumsi, dan kedua pola pengembangan peternakan masih belum berubah,”

Komoditas sapi potong belum bisa digantikan misalnya bakso sapi masih lebih enak dibanding dengan bakso ayam atau bakso ikan.

Masalah mendasar yang tidak pernah tuntas diselesaikan yaitu ketidak mampuan produksi lokal memenuhi kebutuhan daging nasional. Disebabkan Gab supply demand semakin tinggi, arah pembangunan tidak jelas dan jauh dari prinsip berkesinambungan, ego kedaerahan setelah era otonomi daerah. Pola beternak yang masih belum banyak berubah ditandai dengan lemahnya kinerja agrobisnis sapi potong di Indonesia.

“Trend atau pola perkembangan harga daging sapi dari tahu ke tahun selalu menujukkan kenaikan. Tahun 2015, mirip dengan trend harga di tahun 2011 dan 2012 yang mengalami kenaikan cukup signifikan di Bulan Agustus. Tahun 2017 harga daging segar stabil diangka 110 ribu hingga 120 ribu rupiah per kg,” ujarnya.

Peran peternakan sapi potong dalam pembangunan ekonomi yaitu angka pengganda outputnya cukup tinggi sebanyak 2,35 daging dan jeroan, serta untuk produk daging olahan sebanyak 1,89. Artinya jika permintaan daging dan produk olahannya naik sebesar satu rupiah maka output nasional secara total akan meningkat untuk sektor daging, jeroan dan sejenisnya sebesar 2,35 rupiah, untuk produk daging olahan sebesar 1,89 rupiah.

Selain itu, angka pengganda daging dan jeroan menurut data I/O, 2005 berada pada urutan pertama dari 175 sektor, sedangkan produk daging olahan dan awetan pada rangking 29. Memiliki keterkaitan terhadap 120 sektor ke hulu maupun ke hilir.

Hal ini merupakan indikator bahwa peternakan sapi potong memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk menciptakan pengganda output dalam perekonomian nasional.

“Peningkatan populasi sapi potong atau ruminansia besar juga tidak dibarengi dengan ketersediaan pakan. Hal ini diantaranya disebabkan peningkatan penduduk yang cukup tinggi akan memicu kompetisi ketersediaan pakan ternak.”

Geografis Indonesia mempunyai dua musim (pakan melimpah pada musim hujan dan paveklik pada musim kering). masih banyak hasil ikutan industri yang belum termanfaatkan secara optimal serta export dalam bentuk bahan pakan ternak. management pakan masih bersifat konservatif.

“Kita mesti sudahi mitos bahwa pola beternak sapi potong sebagai tabungan yang mudah dikonversi kedalam cash (uang tunai) saat membutuhkan. Beternak sapi potong adalah industri,”

Tindakan nyata dan harus segera percepatan peningkatan populasi (produksi dalam negeri/lokal) yaitu. arahan pembangunan peternakan yang terstruktur, sustaianble, kesamaan bahasa serta partisipasi aktif semua stake holeder.

Harmonisasi regulasi interdepartement sejalan dengan perundangan, peratutan pemerintah serta tetap memperhatikan keputusan mahkamah konstitusi. Pemberdayaan dan perlindungan peternak lokal.

Merubah pendekatan kebijakan keproduksi bukan harga. Harmonisasi data perhitungan prognosa supply demand daging sapi nasional.

Mendorong segmentasi produk di pasar (daging sapi dan kerbau) untuk menghindari oplosan. Meninjau kembali impor daging kerbau India (setelah ditemukan beberapa daerah yang belum bebas PMK). yang terakhir adalah pemerintah perlu mengkaji ulang untuk merevisi Permentan 02 tahun 2017.

Sumber: suarapeternakan.com

(Visited 283 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *