fbpx
Suara Peternakan

Mengenal Potensi Aneka Satwa yang Dibudiayakan dengan Nilai Ekonomis Tinggi

Suarapeternakan.com – Aneka satwa merupakan ternak altematif yang dikembangkan oleh masyarakat dengan tujuan tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petemak. Aneka satwa atau satwa harapan tersebut dapat diusahakan dengan mudah, murah, dan cepat. Hingga saat ini, banyak dijumpai jenis aneka satwa yang dikembangkan oleh masyarakat, antara lain Iebah madu, ulat sutra, jangkrik, cacing, burung unta, dan rusa.

Satwa harapan adalah satwa yang belum dibudidayakan secara umum namun memiliki harapan apabila dibudidayakana secara maksimal akan memberikan nilai ekonomis atau potensi ekonomis.

Berkembangnya usaha peternaan telah sampai pada upaya perluasan jenis-jenis hewan yang diusahakan untuk diambil hasilnya. Hewan dan ternak memiliki defenisi yang berbeda. Hewan memiliki pengertian semua binatang yang hidup didarat baik yang dipelihara dan yang liar. Sedangkan ternak adalah hewan piaraan untuk dimanfaatkan daging, susu dan kulitnya oleh manusia.

Alasan utama manusia melakukan budidaya satwa liar adalah dengan beragam manfaat. Diantaranya memiliki nilai ekonomis yang berasal dari bermacam produk seperti daging, minyak, gading, tanduk, atau taring, kulit dan pemanfaatan bulu serta memiliki nilai keindahan serta memiliki kekhasan tersendiri.

Ada beberapa pola yang dikembangkan, yaitu game ranching dan game farming. Game ranching adalah penangkaran yang dilakukan dengan sistem pengelolaan yang ekstensif. Ada dua arti yang berbeda (Robinson dan Bolen, 1984).

Pertama, suatu kegiatan penangkaran yang menghasilkan satwa liar untuk kepentingan olah raga berburu, umumnya jenis binatang eksotik, kedua, adalah kegiatan penangkaran satwa liar untuk menghasilkan daging, kulit, maupun binatang kesayangan, seperti misalnya burung, ayam hutan dan sebagainya.

Pola penangkaran ini telah berkembang di Afrika, Amerika Serikat dan Australia. Di Indonesia sendiri pola ini telah di coba dikembangkan untuk jenis-jenis ayam hutan, burung, reptil (buaya, ular, penyu) dan ungulata (rusa, banteng). Pola yang kedua adalah game farming, yaitu kegiatan penangkaran satwa liar dengan tujuan untuk menghasilkan produk-produk seperti misalnya kulit, bulu, minyak dan taring/gading/tanduk.

Dalam pola ini dikembangkan juga penjinakan untuk keperluan tenaga kerja, misalnya gajah. Prinsip penangkaran adalah pemeliharaan dan perkembangbiakaan sejumlah satwa liar yang sampai pada batas-batas tertentu dapat diambil dari alam, tetapi selanjutnya pengembangannya hanya diperkenankan diambil dari keturunan-keturunan yang berhasil dari penangkaran tersebut.

Adapun jenis sata harapan lainnya beserta manfaatnya antara lain, Lebah Madu, untuk digunakan madu dan sarang yang dihasilkan, Cacing Tanah, yaitu digunakan untuk menyuburkan tanaman. Jangkrik, selama ini digunakan sebagai media untuk pakan burung burung peliharaan. Ulat Sutera, digunakan sebagai bahan dari benang sutera. Burung Cucakrawa, burung cucakrawa merupakan burung kicau yang memiliki nilai ekonomis mahal dan semakin jarang untuk ditemukan

Lintah, digunakan untuk kebutuhan pengobatan herbal. kupu kupu, dengan pemanfaatan sebagai wisata untuk menikmati keindahan berbagai macam warna dan motif dari kupu kupu. ayam hutan, ayam hutan terkenal akan pesonaya yang indah. Reptil Ular, semakin banyaknya pecinta reptil untuk memiliki hewan reptilnya sendiri semakin mendorong permintaan reptil ular di pasaran. Tentunya yang tidak dilindungi undang undang. Reptil Buaya, begitupula terjadi dengan buaya seperti ular.

Satwa tersebut merupakan satwa yang dikembangkan dan dibudiayakan dengan memiliki nilai dan harga ekonomis tinggi.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *