fbpx
Suara Peternakan

Mengenal Jenis Burung Puyuh yang Diternakkan di Indonesia

Suarapeternakan.com- Burung Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, dan berkaki pendek.

Burung Puyuh adalah hewan unggas yang memiliki ukuran badan kecil dan gemuk. Berbeda dengan burung lainnya, Burung Puyuh tidak membuat sarang di atas pohon namun bersarang di permukaan tanah.

Burung Puyuh merupakan ternak berdarah panas dari genus Coturnix yang tersebar luas di seluruh daratan Eropa, Asia, dan Afrika. Di Indonesia burung ini mulai dikenal dan dibudidayakan akhir tahun 1979.

Ternak  puyuh ternyata berkembang pesat di tengah-tengah dominasi ayam ras, walaupun tidak sebesar ayam petelur, namun ternak puyuh menjadi sumber penghidupan masyarakat. Menjadi alternatif bisnis yang menguntungkan, setidaknya sebagai usaha sambilan sekaligus memberi tambahan pendapatan bagi yang mengusahakannya.

Burung yang telurnya biasa dimanfaatkan untuk berbisnis terutama bisnis kuliner. Manfaatnya bagi kesehatan dan rasanya yang lezat serta sebagai pelengkap saat sarapan.

Telur puyuh mengandung protein sebesar 13,1%, lemak 11,1%, dan Vitamin A sebesar 543 µg, sehingga tidak kalah dibandingkan dengan telur ayam.

Selain telurnya, puyuh yang telah lewat masa produktif juga memiliki kandungan gizi yang cukup besar. Kandungan gizi pada daging burung puyuh terdiri dari protein sebesar 20-23,4%, lemak sebesar 1,0-3,4% dan zat mineral 1,2-1,6% (Ribarski dan Genchev, 2013).

Burung puyuh mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur. Beberapa diantaranya dapat bertelur lebih dari 300 butir dalam satu tahun produksi pertamanya. Berat telur puyuh sekitar 8% dari berat badan induk, berbeda dengan ayam berat telurnya hanya 3% dari berat badan induknya.

Uniknya, burung yang memilik telur bercorak ini merupakan burung yang menyukai kebersihan. Burung puyuh aktif selalu menjaga bulunya tetap bersih pada siang maupun malam hari. Di alam liar, burung puyuh dapat bertahan hidup selama 3-5 tahun. Istimewanya lain dari burung ini juga memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit.

Usaha ternak burung puyuh memang menjanjikan, karena burung puyuh dalam sekali bertelur mampu menghasilkan 10-20 butir telur. Setelah kurang lebih satu tahun setengah, burung puyuh yang tidak produktif lagi dijual untuk dimanfaatkan dagingnya.

Taksonomi

Menurut Pappas (2002), klasifikasi puyuh adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub-phylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Galivormes
Famili : Phasianidae
Sub-Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix japonica

Bangsa (Jenis) Burung Puyuh

Terdapat empat bangsa (jenis) burung puyuh yang ada di Indonesia dan tersebar di dunia. Keempat jenis burung puyuh itu diantaranya puyuh jepang (Contrunix japonica), Cross brreding (puyuh batu, puyuh gonggong jawa) dan bobwhite. Khusus di Indonesia kebanyakan berjenis gonggong jawa dengan corak vairasi garis dan totol dan spesies Coturnix-coturnix japonica.

Namun banyak juga ternak burung puyuh di Indonesia yang menggunakan burung puyuh jepang. Karena berbeda dengan spesies puyuh lainnya, burung puyuh jepang mampu menghasilkan sekitar 300 telur per tahun dengan bobot telur sekitar 10 gram per butirnya.

Bob white, berasal dari Amerika Serikat dan dapat dipelihara selama 6-16 minggu. Coturnix-coturnix japonica berasal dari jepang ini dengan masa pemeliharaan selama 6 minggu. Sedangkan Puyuh gonggong jawa dan puyuh batu termasuk Cross breeding masa pemeliharaan selama 6 minggu.

Adapun ciri-ciri puyuh jantan dewasa terlihat dari bulu bagian leher dan dadanya yang berwarna cokelat muda. Puyuh jantan mulai berkicau pada umur 5-6 minggu. Selama musim kawin normal, puyuh jantan akan berkicau setiap malam.

Puyuh betina memiliki warna tubuh mirip puyuh jantan, kecuali bulu pada leher dan dada bagian atas yang berwarna cokelat terang serta terdapat totol-totol cokelat tua. Bentuk badannya kebanyakan lebih besar daripada puyuh jantan.

Berat badan  puyuh jantan pada umur empat minggu berkisar 86,95-89,66 g dan berat badan pada populasi hasil seleksi  puyuh jantan berkisar 109,68-122,41 g (Kuswahyuni, 1983).

Pada umur empat minggu, berat badan  puyuh betina pada populasi yang diseleksi berselang dari 86,97-103,33 g dan berat badan  puyuh betina pada umur enam minggu berkisar 121,89-138,24 g. Burung puyuh betina yang sudah mengalami dewasa kelamin memiliki berat badan 72,00-159,67 g.

Persentase kematian burung puyuh secara kumulatif meningkat terus secara linier sampai umur 100 minggu, kemudian bergerak horizontal. Woodard et al. (1973) menyatakan bahwa  puyuh betina lebih banyak mati pada umur muda daripada jantan khususnya pada peternakan pembibitan.

Burung puyuh jantan hidup lebih lama daripada betina. Kematian  puyuh dipengaruhi oleh cara memelihara, makanan, pemberian makanan, sanitasi, temperatur, kelembaban, dan bibitnya (Rasyaf, 1981).

Romanoff dan Romanoff (1963) menyatakan bahwa mortalitas kelompok antar ayam petelur akan berhubungan dengan produksi telur. Penurunan produksi telur karena rendahnya vitalitas. Mortalitas banyak terjadi setelah melewati puncak produksi.

(Visited 1.296 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *