fbpx
Suara Peternakan

Mengenal Budidaya Ulat Sutra, Usaha yang Sangat Menjanjikan

Suarapeternakan.com – Melihat kebutuhannya yang cukup tinggi serta harganya yang maksimal, usaha budidaya ulat sutra sebagai penghasil bahan utama untuk benang sutra pastinya akan sangat menjanjikan.

Usaha budidaya atau ternak ulat sutra untuk menghasilkan kepongpong yang serat didalamnya di jadikan kain di negara kita sudah di kenal cukup lama. Pemerintah juga ikut mendorong bidang ini dengan berupaya membangun pabrik-pabrik pemintalan benang sehingga bisa menampung hasil panen dari pembudidaya ulat sutra. Ditambah pasar ekspor yang juga bisa menyerap produk kepompong ulat sutra pun masih terbuka lebar.

Ulat sutra (Bombyx mori) adalah ulat atau larva kupu-kupu yang termasuk dalam famili Bombycidae. Secara ekonomis, ulat ini amat panting karena dapat menghasilkan sutra. Pakan ulat sutra sematamata hanya daun-daun pohon murbai (Morus alba) yang mampu dikonsumsi sepanjang pagi dan malam hari.

Telur-telur akan dihasilkan setelah 10 hari berada di penetasan. Jika warna kepalanya menjadi gelap, menunjukkan bahwa akan terjadi pergantian kulit. Setelah berganti kulit sebanyak 4 kali, badan ulat sutra menjadi sedikit kuning dan kulitnya menjadi lebih rapat. Larva menutup diri dalam kokon dengan sendirinya sebagai bahan baku sutra yang diproduksi dalam kelenjar liur. Beberapa binatang Lepidoptera memang dapat memproduksi kokon, tetapi hanya Bombycidae dan Satuniidae yang mampu berproduksi dalam jumlah besar.

Ulat sutra mempunyai sepasang kelenjar air liur yang disebut sericteries. Kelak, air liur ini digunakan untuk memproduksi cairan Jernih, kental, dan mengandung protein yang tinggi, disebut spinneret. Jika terkena udara, cairan kental ini akan mengeras. Ukuran diameter spinneret sangat menentukan tebalnya benang sutra.

Adapun taksonomi ulat sutra sebagai berikut.
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
0rdo : Lepldoptera
Famili : Bombycidae
Genus : Bombyx
Spesies :B. mori

Pemilihan bibit Ulat Sutra

Persiapan teknik budidaya ulat sutera ialah menyediakan bibit ulat sutera. Pemilihan Jenis bibit ulat sutra tergantung pada ketinggian daerah. Untuk daerah yang berada pada ketinggian sekitar 700 m dpl, biasanya menggunakan bibit yang bermutu tinggi, berasal dari Jepang. Pada daerah yang agak rendah (< 700 m dpl), bibit yang digunakan merupakan hasil persilangan antara jenis lokal dan jenis Jepang. Daerah tropis yang baik untuk digunakan sebagai tempat budidaya ulat sutra yaitu daerah pegunungan.

Biasanya 1 kotak bibit ukuran berat 11,7 g berisi kira-kira 20.000 bibit telur. Pada pemeliharaan musim kemarau, bibit tersebut dapat menghasilkan 25-30 kg kokon basah. Untuk menghasilkan 1kg kokon diperlukan kira-kira 20 kg daun murbai. Oleh karena cocok dipelihara di daerah pegungungan, ulat sutra pada musim hujan dapat menghasilkan kokon basah yang lebih besar.

Perkandangan Budidaya Ulat Sutra

Pemeliharaan ulat sutra dilakukan dalam peti (box rearing) dengan ukuran (95 x 70 x 12) cm yang terbuat dari kayu, seng, atau alumunium. Untuk kenyamanan ulat sutra, peti tersebut dilengkapi dengan sirkulasi udara yang cukup. Suhu dalam peti berkisar 27-28 derajat Celcius dengan kelembapan udara 90%. Untuk mempertahankan kelembapan, peti dapat dilapisi dengan kain kasar di bagian dasamya. Selama pemeliharaan, pencahayaan perlu diatur. Dalam sehari, 16-18 jam peti dalam keadaan terang dan 6-8 jam dalam keadaan gelap. Ulat sutra lebih suka pada keadaan cahaya lemah. Dalam keadaan gelap, ulat sutra lebih aktif bergeral, kokon lebih berat, dan bagian benang sutra pun lebih besar.

Kandang ulat sutera berbentuk ruangan dengan rak didalamnya. Sebaiknya disediakan juga dua ruang yang berbeda untuk teknik beternak yang ditujukan untuk ulat sutera kecil dan ulat sutera besar. Pastikan ruangan mempunyai ventilasi dan jendela dan didesinfektan 2 atau 3 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai dengan memakai larutan kaporit 0,5% atau formalin (2-3%) disemprotkan secara merata ke seluruh raungan tempat pemeliharaan.

Tata laksana pemeliharaan

Produksi kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sangat tergantung pada lklim setempat dan cara pengelolaan. Sebaiknya, lokasi untuk pembudidayaan ulat sutra memiliki iklim dan tanah yang cocok dengan pertumbuhan daun murbai. Dengan demikian, ulat sutra mampu memproduksi kokon berkualitas. Ulat sutra sebaiknya dipelihara oleh orang yang memiliki kemauan dan kemampuan yang tinggi, terutama pada stadia ke-5 sampai waktu mulai mengkokon. Pada saat ini, diperlukan ketelatenan peternak karena ulat sutra memerlukan daun murbai dalam jumlah banyak.

Pemeliharaan ulat sutra kecil yang paling baik yaitu dengan cara gabungan. Mulai dari saat menetas hingga memasuki stadia ke-3, anakan ulat sutra perlu dijaga dari serangan semut, tikus, dan lalat. Suhu dan kelembapan udara perlu dijaga agar kondisinya stabil. Selain itu, pada saat ini ulat sutra juga membutuhkan udara bersih dan segar karena bernafas dengan 18 alat pernafasan yang terletak di samping kanan dan kiri tubuhnya.

Ulat sutra juga mempunyai pipa udara yang bercabang-cabang sehingga bisa menyalurkan oksigen ke dalam darah dan membuang karbondioksida dan gas-gas lain yang tidak berguna ke luar tubuhnya. Ulat sutra tidak menyukai cahaya yang terlalu terang atau terlalu gelap, tetapi lebih suka pada cahaya yang lemah

Pemberian pakan Ulat Sutra

Pakan yang diberikan berupa daun murbai segar yang dipetik pada pagi hari. Dengan demikian, daun murbai tersebut mengandung air, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral dalam jumlah memadai. Daun yang sudah layu atau kering tidak baik untuk ulat sutra. Kebutuhan air pada ulat sutra hingga stadia ke-5 tidak terlalu banyak. Kebutuhan air mulai meningkat ketika ulat sutra akan membentuk kokon. Selain air, untuk membuat kokon juga diperlukan daun murbai yang mengandung banyak protein.

Pada ulat sutra kecil, sebaiknya daun murbai yang diberikan diiris terlebih dahulu. Sementara daun murbai untuk ulat sutra yang sudah besar tidak perlu diiris, bahkan juga bisa ditambahkan cabang dan ranting-rantingnya. Pemberian daun murbai disesuaikan dengan kebutuhannya yang selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan ulat sutra.

Hal yang tidak kalah pentingnya di dalam berternak ulat sutera adalah pakan atau makanan ulatnya. Selain tanaman murbei, ulat sutera juga mempunyai kemamupuan lain untuk memakan tanaman selain tanaman murbei. Pakan tersebut adalah dari daun singkong.

Sebelum melakukan budidaya ulat sutera pemakan daun singkong ini sebaiknya dilakukan penanaman singkong terlebih dahulu supaya ketersediaan pakan ulat sutera saat sudah menetas dan berkembang bisa terpenuhi dengan baik. Dalam hal melakukan penanaman singkong untuk budidaya ulat sutera terdapat 2 metode yaitu Stek mata untuk hasil umbi yang bagus, lalu jarak tanam rapat 5 cm x 5 cm untuk hasil daun singkong yang banyak.

Pembibitan

Pada kehidupan stadia 1-4, ulat sutra kecil akan lebih cepat tumbuh jika dipelihara di tempat gelap daripada di tempat terang. Bila ulat-ulat kecil dipelihara di tempat gelap, berat kokon akan bertambah dan ukuran benang sutra lebih besar daripada dipelihara di tempat terang. Pada keadaan terang, ulat sutra akan lebih aktif bergerak, cepat naik ke bagian atas daun murbai. Dengan demikian, sebaiknya pencahayaan dilakukan bergantian, kadang gelap, kadang terang.

Ulat sutra yang telah berganti kulit selama empat kali dan mengonsumsi daun murbai dalam jumlah cukup banyak akan memiliki kelenjar sutra yang berukuran besar. Selain itu, badannya menjadi tembus cahaya dan dari mulutnya keluar serat sutra. Ulat sutra seperti ini dikatakan sudah matang untuk mengokon.

Untuk menghasilkan kokon yang berkualitas, suhu ruang pengokonan berkisar 22-23 derajat Celcius dengan kelembapan 66-70%. Jika kelembapan udara mencapai 90%, kualitas benang sutra menjadi rendah. Kenaikan kelembapan ini dapat terjadi oleh adanya cairan atau kotoran yang dikeluarkan oleh ulat-ulat matang yang cepat menguap jika tidak segera dibuang.

Pemeliharaan kesehatan

Ulat sutra sering mengalami penurunan nafsu makan, berak ulat tidak sempuma, sakit nanah, dan diare yang disebabkan oleh bakteri. Sakit nanah terjadi karena serangan virus jenis N yang memasuki darah. Kulit menjadi mudah sobek dan mengeluarkan nanah seperti susu. Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga suhu dan kelembapan, terutama saat ulat sutra itu dalam keadaan tidur.

Blood poisoning merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang masuk melalui pembuluh darah. Gejala penyakit ini ditandai dengan penurunan nafsu makan, badan mengerut, dan memuntahkan getah lambung.

Polihedral desease adalah jenis penyakit pada ulat sutra yang disebabkan virus jenis C. Virus ini diduga termakan oleh ulat sutra melalui daun murbai yang jelek. Selain itu, munculnya penyakit ini juga dipicu oleh fluktuasi suhu udara yang tinggi. Gejala penyakit ini ditandai dengan kulit kepala menipis, berwama bening sehingga isi kepala terlihat, nafsu makan berkurang, dan gerakan melemah. Jika dibedah, di dalam usus terlihat bintik-bintik berwama putih, hitam, atau cokelat.

Panen dan hasil panen

Hasil yang bisa dipanen dari ulat sutra yaitu kokon dan serat sutra. Kualitas kokon dan serat sutra dipengaruhi oleh jenis ulat sutra dan kondisi selama pemeliharaan dan pengokonan. Setelah 4 hari, kokon akan berubah menjadi pupa. Awalnya, kulit pupa ini lemah dan mudah luka sehingga kokon menjadi kotor dan kualitasnya menurun. oleh karena itu, sebaiknya pupa-pupa diambil tepat pada saat kulitnya telah cukup keras. Jika terlambat, waktu pengeringan pupa menjadi pendek dan akan mempengaruhi kualitas kokon.

Kriteria kokon yang baik adalah berwama putih, bentuknya sesuai sifat dari jenis ulat, ukurannya besar, kerut kokon halus, berat maksimal, ketegangan bagus, dan persentase kulit rendah. Panjang serat sutra yang dapat digulung dari sebutir kokon ada hubungannya dengan kelancaran pekerjaan pemintalan. Sementara berat dan ketebalan serat sutra erat hubungannya dengan kualitas benang sutra.

Hal ini djnyatakan dalam satuan denier (d). Satu (1) denier kokon sama dengan 450 m dengan berat 0,05 g. Selain itu, kokon juga sebaiknya memiliki daya tarik bagus, sekitar 3,5-4,0 g / denier.

Ulat Murbei atau yang lebih dikenal dengan ulat Sutra adalah salah satu jenis ngengat yang bisa menghasilkan serat atau benang sutra/ sutera. Ulat ini hanya memakan daun Murbei, sehingga untuk membudidayakannya maka peternak harus punya pasokan daun Murbei yang baik.

Dalamperkembangan menjadi ulat, sebutir telur ulat sutera butuh waktu 10 hari agar menetas. Setelah telur tersebut menetas dan menjadi ulat, maka akan terbentuk kepompong mentah.

Kepompong tersebutlah yang nantinya dipintal menjadi benang sutera yang panjangnya bisa mencapai 300 meter hingga 900 meter dengan diamater 10 mikrometer.

Dalam hidup Ulat Sutera terjadi empat fase ganti kulit. Ketika warna kulit ulat Sutera telah kekuningan dan lebih ketat, maka ini menandakan bahwa ulat Sutera tersebut akan segera membungkus diri dan berubah menjadi kepompong.

*Berbagai Sumber

(Visited 164 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *