fbpx
Suara Peternakan

Menangani Isu Lingkungan pada Industri Peternakan

SUARAPETERNAKAN.COM – Prospek dalam pengembangan dalam usaha peternakan yang memberi keuntungan cukup tinggi. Peternakan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di perdesaaan di Indonesia.

Pemanfaatan kotoran sapi (feses) menjadi kompos merupakan salah satu cara dalam penanggulangan dampak lingkungan di Desa Bolang Kecamatan Enrekang. Foto/Hardianti

Disisi lain peternakan juga menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan. Upaya dalam penanganan pencemaran lingkungan tersebut  adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.

Masyarakat Indonesia sebagian besar penduduknya mengandalkan sektor pertanian, namun rata-rata kepemilikan penduduk atas lahan pertanian kurang dari 0,3 hektar, terutama di pulau Jawa.

Dari kondisi kepemilikan lahan yang sempit ditambah dengan sistem pertanian yang masih mengandalkan input produksi tinggi menyebabkan petani berada dalam lingkaran kemiskinan yang tiada putus-putusnya. Petani dengan pendapatan rendah tidak akan mampu menabung, meningkatkan pendidikan dan keterampilan apalagi meningkatkan investasinya guna meningkatkan produksi.

Isu lingkungan kegiatan peternak sebagai penyumbang terbesar pemanasan global. Dilema antara usaha peningkatan produktivitas bahan pangan hewani dan gerakan cinta lingkungan. Dampak-dampak yang disebabkan oleh adanya industri peternakan tidak bisa sepenuhnya dihindari. Perlu dilakukan untuk saat ini adalah meminimalisir adanya dampak dampak merugikan tersebut.

Presfektif ekonomi makro, peternakan merupakan sumber pangan yang berkualitas. Daging ataupun susu merupakan bahan baku industri pengolahan pangan. Menghasilkan abon, dendeng, bakso, sosis, keju, mentega ataupun krim dan juga dapat menghasilkan kerajinan-kerajinan kulit tanduk ataupun tulang.

Masalah pada sektor peternakan dan lingkungan dapat dibagi menjadi empat yaitu adanya metana sebagai hasil pencernaan secara biologis pada rumen ternak poligastrik, emisi gas karbondioksida pada proses distribisi pakan dan komoditas hasil peternakan, deforestasi akibat pembukaan lahan untuk ditanami komoditas bahan baku pakan ternak, dan emisi gas rumah kaca oleh pabrik pupuk.

Limbah usaha peternakan berpeluang mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Namun memperhatikan komposisinya, kotoran ternak masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, media pertumbuhan cacing, pupuk organik, gas bio, dan briket energi.

Limbah ternak yang selama ini mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan perlu ditangani dengan cara yang tepat. Agar memberi manfaat berupa keuntungan ekonomis dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan bukan saja karena tuntutan akan lingkungan yang nyaman tetapi juga karena pengembangan peternakan mutlak memperhatikan kualitas lingkungan, sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah bagi masyarakat di sekitarnya.

Limbah ternak sebagai faktor negatif dari usaha peternakan adalah fenomena yang tidak dapat dihilangkan dengan mudah. Selain memperoleh keuntungan dalam hal bisnis, usaha peternakan juga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

 Limbah yang langsung dibuang ke lingkungan tanpa diolah akan mengkontaminasi udara, air dan tanah sehingga menyebabkan polusi. Beberapa gas yang dihasilkan dari limbah ternak antara lain ammonium, hydrogen sulfida, CO2 dan CH4.

Gas  – gas tersebut selain merupakan gas efek rumah kaca (Green House Gas)  juga menimbulkan bau tak sedap dan mengganggu kesehatan manusia. Pada tanah, limbah ternak dapat melemahkan daya dukung  tanah sehingga  menyebabkan polusi tanah.  

Sedangkan pada air, mikroorganisme patogenik  (penyebab penyakit) yang berasal dari limbah ternak akan mencemari lingkungan   perairan. Salah satu yang sering ditemukan yaitu bakteri Salmonella sp (Rachmawati, 2000) .

Eksternalitas negatif yang timbul dari pengembangan peternakan sapi perah bersumber dari kotoran sapi yang dapat mengeluarkan gas methan bahan pencemar udara, kotoran ternak sebagai sumber mikroorganisme yang mengganggu kesehatan lingkungan dan bau yang dapat mengganggu  kenyamanan manusia.

Sesuai dengan Undang – Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka setiap usaha disamping mendapatkan keuntungan atau profit hendaknya juga menjaga kelestarian lingkungan dengan meminimalkan timbulnya limbah bahkan mengolah limbah hingga menjadi produk yang bernilai.

Limbah akan dapat diatasi dan bisa menjadi bukan lagi sebuah masalah, bahkan dari limbah dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat jika dikelola dengan baik dan benar.

(Berbagai Sumber)

(Visited 27 times, 1 visits today)

Related Articles