fbpx
Suara Peternakan

Lamtoro Sebagai Tanaman Pelindung Juga Cocok Untuk Pakan Ternak

SuaraPeternakan.com – Lamtoro, petai cina, atau petai selong adalah sejenis perdu dari suku Fabaceae (Leguminosae, polong-polongan), yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi. Berasal dari Amerika tropis, tumbuhan ini sudah ratusan tahun diperkenalkan ke Jawa untuk kepentingan pertanian dan kehutanan, dan kemudian menyebar pula ke pulau-pulau yang lain di Indonesia. Tanaman ini di Malaysia dinamai petai belalang.

Sejak lama, Lamtoro telah dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber kayu bakar, dan pakan ternak. Di tanah-tanah yang cukup subur, lamtoro tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ukuran dewasa dengan ketinggian 13-18 meter dalam waktu tiga sampai lima tahun.

Selain tanaman pelindung, tanaman lamtoro juga cocok untuk pakan ternak. Sehingga kebanyakan pemerintah setempat di setiap daerah sengaja membimbing warga untuk mengembangkan tanaman lamtoro.

Seperti yang dilakukan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat saat melakukan kunjungan kerja di Desa Fatuteta, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Rabu 13 April 2019.

Di Desa ini Gubernur melakukan kegiatan penanaman kelor dan lamtoro serta meninjau potensi lahan desa Fatuteta yang sangat potensial bagi pengembangan peternakan serta sebagai lokasi penanaman kelor lamtoro teramba.

Menurutnya, potensi lahan di Desa Fatuteta ini sangat baik untuk kegiatan pertanian dan peternakan. “Potensi desa ini harus diolah dengan baik sebagai upaya mensejahterakan kehidupan masyarakat dan mengembalikan kejayaan NTT sebagai lumbung ternak. Karena itu harus tanam kelor, lamtoro teramba untuk mencukupi pakan ternak,” kata Viktor dikutip dari gatra.com pada 26 April 2019.

Saat ini kata Gubernur Viktor, Perusahaan Daerah NTT, PD Flobamor siap menampung hasil ternak sapi masyarakat dan membeli dengan harga yang pantas. “Selain Pemprov NTT akan membangun kerjasama peternakan dengan negara Jepang dalam pengembangan ternak sapi wagio yang memiliki kualitas daging yang lembut,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, kelor dan teramba merupakan pakan ternak terbaik yang perlu dikembangkan. “Kabupaten Kupang merupakan daerah yang kaya potensi seperti garam, ada pengembangan sapi, baik di kecamatan Amfoang dan Amarasi,” jelas Viktor.

Potensi lainnya kata Viktor, ke depan di Kabupaten Kupang akan dibangun 3 proyek besar yang akan membangkitkan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Antaranya Pembangunan Obsevatorium Nasional Gunung Timau, Pembangunan pipa bawah laut menuju Australia, yang butuh 2000an pekerja, serta pengembangan industri garam berkualitas dari kabupaten Kupang,” katanya.

Sementara itu Sekda Kabupaten Kupang Obet Laha menyambut positif kehadiran Gubernur NTT sehingga memberikan semangat dan motivasi nyata bagi pembangunan di Kabupaten Kupang.

“Soal lahan untuk pengembangan ternak ini pada tahun 2016 Pemkab Kabupaten Kupang sempat membangun kerja sama dengan Pemrov DKI Jakarta. Namun sampai sekarang belum teralisir,” kata Obed Laha.

Obed Laha juga memaparkan Desa Fatuteta memiliki luas lahan 2020 hektar yang potensial untuk pertanian dan peternakan. Selain itu ada lahan hutan 750 ha dan padang 552 ha. Jumlah penduduknya sekitar 715 jiwa.

Dikutip dari ANTARA, peneliti peternakan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT Dr Jacob Nulik mengatakan sejak 2014, BPTP NTT bersama para peternak dari Desa Oebola, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang telah melakukan percobaan pakan terhadap varietas Lamtoro Taramba dari Hawai, Amerika Serikat.

Hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa varietas Lamtoro Taramba mampu meningkatkan bobot berat sapi dari 15 kilogram per bulan menjadi 30-40 kg per bulan.

Atas dasar itu, Danny Suhadi meminta para peternak sapi di NTT agar membudidaya tanaman Lamtoro Taramba dalam jumlah banyak untuk meningkatkan produktivitas ternaknya.

Setiap satu kilogram benih Lamtoro Taramba bisa ditanam untuk lahan seluas tiga hektare. Jika pengembangan awal seluas 15.000 hektare, maka diperlukan sekitar 5.000 kg-6.000 kg benih atau setara dengan nilai sekitar Rp20.000.

Sumber: ANTARA / Gatra.com

(Visited 148 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *