fbpx
Suara Peternakan

Kisah Sukses Peternak Sapi Perah Tulungagung dapat Kesempatan Mengikuti Pelatihan di Belanda

Suarapeternakan.com – Mita Kopiyah, perempuan berusia 30 tahun. Sukses mengolah peternakan sapi perah mandiri bersama suaminya, Slamet.  Sapi perah yang dimiliki higga kini sebanyak 15 ekor,  dengan produksi sekitar 75 liter/hari. 

Memulai karir dalam dunia peternakan sapi perah sejak tahun 2005. Mita melanjutkan  profesi peternak dari keluarganya. Namun, orangtua Mita berkecimpung dalam peternakan sapi potong.  Awalnya Mita melihat saudara atau tetangga yang dulu beralih menjadi peternak sapi perah. Sepertinya mereka mempunyai penghasilan lebih setiap bulan. Sementara jenis sapi pedaging harus menunggu lebih lama lagi.

Modal membeli sapi perah didapatkan dari memelihara sapi perah milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Perlahan, pendapatan dari sistem ini mampu membeli satu sapi sendiri.

Cara Beternak Mita             

Mulanya Mita beternak seperti kebanyakan dilakukan peternak di wilayahnya. Sapi dikeluh (ditali), kandang model tinggi di bagian tempat pakan, minum sapi dijatah, sapi dimandikan dua kali sehari. Produksi susu dengan pola seperti itu hanya 12 liter per ekor per hari.

Hingga pada 2018, Mita bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia melalui Koperasi Bangun Lestari. Ia mengikuti program Farmer2Farmer dan terpilih mengikuti studi banding antarpeternak ke Belanda selama dua pekan.

“Saya belajar manajemen kandang, pakan, dan mencatat perkembangan sapi. Ilmu baru dilaksanakan setelah pulang dan terbukti bisa meningkatkan produksi menjadi 15-18 liter per ekor per hari,” jelasnya.

Lahan yang dimiliki seluas satu hektar di perbukitan sekitar tempat tinggalnya. Perbaikan pola beternak juga didukung dengan tata kelola, dengan fokus untuk menanam jagung dan rumput gajah di kebun miliknya.

Saat panen melimpah, kata Slamet, jagung difermentasi untuk persediaan musim sulit pakan. Demikian pula jumlah hijauan (rumput gajah) maupun konsentrat diberikan sesuai takaran.

Kesuksesan beternak Mita dengan pola pemeliharaan, sapi tanpa keluh (tali), kandang pendek ditempat makan, penyediaan air minum permanen, ketersediaan pakan fermentasi, hinga pola memandikan sapi. Hal tersebut banyak ditiru oleh warga. Maaf pola tersebut adalah produksi susu meningkat.

Sebagai gambaran, harga susu di tingkat peternak Rp5.000 per liter. Sapi milik Mita menghasilkan 12-18 liter per hari per ekor. Adapun sapi yang berproduksi 8 ekor. Sehingga bila dihitung produksi minimal dalam sehari penjualan susu sekitar Rp480.000.

Mita Belajar Peternakan Sapi di Belanda

Pada 2018, Mita resmi bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui Koperasi Bangun Lestari, dengan mengikuti program Farmer2Farmer. Pada tahun berikutnya (2019), dirinya terpilih menjadi salah satu dari 4 peternak yang diberangkatkan ke Belanda dalam naungan program tersebut selama dua pekan untuk mengikuti berbagai pelatihan langsung dengan peternak Belanda.

Di sana, Mita diajarkan manajemen kandang serta sistem pemeliharaan dengan standar “Good Farming Practices For Animal Production Food Safety” yang ditetapkan oleh FAO. Standar penilaian keberhasilan usaha peternakan sapi perah menurut FAO terdiri dari beberapa aspek teknis antara lain: aspek pembibitan dan reproduksi, pakan dan air minum, pengelolaan, kandang dan peralatan, kesehatan dan kesejahteraan ternak.

Mita belajar mengenai kesehatan sapi, cara pemberian rumput, konsentrat dan air minum, hingga pola bentuk kandang yang tepat. Satu hal lagi yang paling penting adalah kebiasaan untuk mencatat atau diary sapi.

Adanya pencatatan untuk mengetahui produksi dan perkembangan sapi setiap hari. Sebelum mengikuti F2F, produksi susu dari peternakan biasanya hanya di angka 8-12 liter/ekor/hari. Setelah program F2F, produksi biasanya stabil di angka 15-18/liter/ekor/hari. Bahkan beberapa hari bisa mencapai 26 liter. Dari segi pendapatan juga mengalami kenaikan pesat.

Kompetisi Farmer2Farmer 2019 merupakan bagian dari program Farmer2Farmer dari FFI. Program berkelanjutan ini bernaung di bawah Dairy Development Program (DDP) oleh perusahaan induk, Friesland Campina, dan merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan tujuan perusahaan, yaitu Nourishing by Nature ke dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut dilakukan dalam mencapai tujuan jangka panjang perusahaan yaitu memberikan nutrisi yang lebih baik kepada dunia, meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah lokal di negara-negara perusahaan beroperasi, serta membangun dunia yang lebih baik untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

Tahun 2019 merupakan tahun ketujuh dari implementasi program Farmer2Farmer. Secara nasional, kompetisi ini dimulai dari awal tahun dengan melibatkan para peternak sapi perah lokal yang berasal dari empat koperasi peternak sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Timur, yaitu Koperasi Peternakan Sapi Bandung Selatan (KPSBS) Pangalengan dan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang di Jawa Barat, Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur dan Koperasi Bangun Lestari di Tulungagung Jawa Timur.

PT Frisian Flag Indonesia (FFI) bekerjasama dengan Koperasi Bangun Lestari Tulungagung dan para pakar peternakan menyelenggarakan bincang-bincang Bewara di Tulungagung untuk memperingati hari pangan sedunia, Jumat (18/10/2019).

Melalui kegiatan ini, FFI kembali menekankan pentingnya kemitraan dan kolaborasi untuk meningkatkan pemberdayaan peternak lokal dalam mencapai visi misi bersama, yaitu memberikan ketersediaan pangan nasional untuk SDM unggul Indonesia.

Susu merupakan sumber protein hewani yang mengandung banyak gizi penting. Dari sisi hilir, Indonesia merupakan salah satu negara yang konsumsi susunya tergolong rendah dengan angka konsumsi susu masyarakat Indonesia sebanyak 16,5 kg per orang per tahun. Sementara di sisi hulu, produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional sebanyak 4,5 juta ton.

Saat ini, global tengah berada pada Revolusi Industri 4.0 atau dikenal dengan Era Disrupsi. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mengantisipasi tantangan era ini melalui kompetensi 4C. Communication pemenuhan proses interaksi sosial, Collaboration menjalin kerjasama, Critical Thinking membangun tradisi pemikiran kritis dan Creativity mendorong proses kreatif.

Dalam hal inilah, kompetensi komunikasi dan kolaborasi dapat direalisasikan dalam sebuah proses kemitraan. Dengan demikian, kemitraan menjadi salah satu faktor penting bagi dunia usaha dalam menghadapi Era Disrupsi.

(Visited 40 times, 1 visits today)

Related Articles