fbpx
Suara Peternakan

Kisah Peternak Kambing di Purbalingga dengan Menggunakan Kandang Komunal

SuaraPeternakan.com – Peternak kambing di Purbalingga menggunakan kandang komunal untuk ternaknya dengan kapasitas 1500 an ekor kambing. Umumnya kandang berukuran terbatas yang memuat tak lebih dari 10 ekor.

Kandang tersebut milik Kelompok Tani Ternak Ngudi Dadi, yang terletak di Dusun Paduraksa Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga

Karena tak butuh banyak ruang, warga biasa mendirikannya di sekitar atau menyatu dengan rumah. Kandang yang dibangun dengan bahan kayu dan bambu.

yang dimaksud kandang komunal adalah kandang yang dimiliki dan dikelola bersama. Bukan kandang perorangan yang umumnya dimiliki warga.

Menjelang pagi, kandang ramai oleh aktifitas anggota kelompok yang tengah memberi makan ternak mereka. Suara embikan kambing yang tengah lapar menambah gaduh suasana.

Tak hanya memeberi rumput ternaknya, Dedi dan teman-temannya sesama anggota lanjut bercengkerama di kandang. Pertemuannya rutin antar peternak atau anggota kelompok, sehingga terjalin keakraban antar anggota kelompok.

Dalam pertemuan santai itu, mereka bisa membicarakan banyak hal, dari yang tak penting hingga terpenting. Kesempatan itu juga dimanfaatkan mereka untuk berbagi informasi atau pengetahuan seputar dunia peternakan.

Terlebih pengalaman setiap peternak dalam merawat ternaknya berbeda-beda. Ini pula yang membuat kualitas hasil usaha setiap peternak beragam.

Dedi mencontohkan, jika ada peternak yang menuai kendala dalam usahanya, dia bisa menanyakannya langsung ke anggota lain yang usahanya lebih berhasil saat bertemu di kandang.

Alhasil, kepemilikan bersama usaha ini bukan hanya memperkuat seduluran sesama anggota, namun juga mempercepat pengembangan usaha.

Setiap masalah tidak diselesaikan sendirian seperti halnya usaha perorangan, yang kerap menemui jalan buntu saat menghadapi masalah.

Mereka bisa setiap waktu, baik dalam pertemuan formal maupun santai untuk mendiskusikan setiap persoalan dalam usaha mereka agar mendapatkan jalan keluar.

“Bisa bagi informasi, termasuk kalau ada masalah bisa tanyakan langsung ke temannya pas ketemu,” katanya.

Merawat ribuan kambing bukan perkara mudah bagi kelompok beraggotakan 50 orang ini. Kekompakan jadi modal utama agar usaha bersama berjalan lancar.

Karena itu setiap anggota dituntut mampu memahami dan memainkan perannya masing-masing. Termasuk untuk menjaga keamanan kandang. Bagaimanapun, ribuan kambing yang menghuni kandang itu adalah aset yang mahal jika diuangkan.

Karena itu, kandang komunal tak pernah lepas dari pantauan kelompok. Setiap harinya, sebanyak 4 dari 50 anggota secara bergiliran mendapat piket ronda untuk menjaga keamanan kandang.

Mereka juga berbagi tugas dalam penyediaan pakan. Pakan yang dibutuhkan untuk menghidupi ribuan kambing itu tentunya amat banyak.

Untuk menjamin ketersediaan pakan, kelompok ini memiliki lahan 1,5 hektar yang khusus ditanami rumput. Mereka juga berbagi tugas untuk membuat pakan fermentasi setiap pekannya, sejumlah 7 anggota secara bergiliran. “Untuk keamanan setiap hari ronda. Dan untuk membuat pakan fermentasi bergantian,” katanya.

Dedi mengatakan, kelompoknya saat ini memiliki sekitar 1800 ekor kambing. Sekitar 1500 di antaranya yang merupakan bantuan dari Laznas BSM Bank Mandiri ditempatkan di kandang komunal.

Adapun 300 ekor lainnya berada di rumah masing-masing anggota kelompok. Dari jumlah itu, 500 ekor di antaranya adalah kambing khas Kejobong yang telah diakui sebagai rumpun kambing lokal oleh Kementerian Pertanian.

Seiring pengakuan tersebut, kelompoknya kini pun serius mengembangkan usaha pembibitan kambing lokal itu. Dalam memajukan usahanya, terutama untuk mempertahankan sifat unggul kambing khas Kejobong, mereka pun mendapatkan pendampingan intensif dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Semarang.

Sumber: jateng.tribunnews.com
Foto : Istimewa

(Visited 138 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *