fbpx
Suara Peternakan

Kenali Jenis Penyakit Sapi Bali dan Penanggulangannya

Suarapeternakan.com – Spesies sapi bali di Indonesia telah diakui secara internasional. Sapi yang memiliki banyak keunggulan dan aset nasional ini, harus dilindungi dan dilestarikan. Dalam usaha budidaya ternak sapi tidak lepas dari masalah dan kendala. Salah satu masalah yang cukup mengkhawatirkan peternak sapi bali adalah serangan berbagai jenis penyakit berbahaya. Misalnya serangan penyakit jembarana (penyakit keringat darah) yang belakangan ini menjadi isu nasional. Penyakit yang sering menyebabkan kematian ternak sapi ini diketahui dapat menular dan mewabah.

Selain itu, beberapa jenis penyakit yang sering menyerang  ternak sapi bali adalah penyakit  Septicemia Epizootica, penyakit BEF (Bovine Ephemeral Fever), penyakit diare ganas menular, penyakit berak darah, penyakit bali (bali ziekte) dan cacingan. Dari beberapa jenis penyakit sapi tersebut yang paling ganas dan menjadi penyakit khas sapi bali adalah jembarana dan bali ziekte. Berikut ini cara pencegahan dan pengobatan penyakit pada ternak sapi bali.

Penyakit Jembrana (Keringat Darah) dan Septicemia Epizootica

Sejauh ini penyakit Jembrana hanya ditemukan di Indonesia dan hanya menyerang sapi bali. Namun tidak tertutup kemungkinan penyakit jembrana dapat menyerang ternak sapi jenis lainnya.

Perlu diketahui bahwa, Penyakit Jembrana dan Septicemia Epizootica, hanya menyerang sapi Bali saja, sementara untuk jenis sapi Limosin dan Simetal penyakit tersebut tidak ada. Penyakit keringat darah (Penyakit Jembrana) ini disebabkan oleh virus jembrana (retrovirus) dan bersifat ganas pada sapi bali.  Penularan penyakit jembrana dari sapi ke sapi lainnya diperkirakan oleh serangga penghisap darah seperti lalat (lalat tapis) caplak dan nyamuk.

Sapi bali diketahui sangat rentan terhadap infeksi penyakit jembrana, pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1964. Wabah jembrana pertama kali terjadi di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng di Provinsi Bali, yang menyebabkan kematian tinggi pada sapi bali.

Penyakit Jembranan atau penyakit keringat darah pada sapi bali
foto: Istimewa

Penyakit ini kemudian juga terjadi pada sapi bali di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Ternak sapi yang rentan terjangkit penyakit jembrana adalah ternak sapi yang berumur lebih dari 1 tahun, dan paling banyak menyerang ternak sapi yang berumur 4 hingga 6 tahun. Penyakit jembrana menyebabkan Kerugian ekonomi yang cukup besar karena angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematiannya (mortalitas) yang relatif tinggi. Selain itu penyakit ini memiliki kecenderungan untuk menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga hewan rentan terhadap penyakit lainnya akibat infeksi sekunder.

Gejala penyakit Jembrana dan Septicemia Epizootica antara lain, seperti kondisi tubuh lesu dan lemah, suhu tubuh meningkat dengan cepat diatas 41ºC, tubuh gemetar, mata sayu dan berair. Selaput lendir mata hiperemik (kemerahan), nafsu makan, memamah biak, gerak rumen dan usus menurun sampai hilang disertai konstipasi. Pada bentuk busung, terjadi busung pada kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang – kadang pada kaki muka.

Gejala lain penyakit jembrana yaitu ternak sapi mengalami pembengkakan hebat pada kelenjar limfe, Terjadi luka-luka (erosi) pada selaput lendir mulut ternak sapi, Diare yang sering bercampur darah, Ternak sapi yang terjangkit seringkali mengalami pendarahan kulit (berkeringat darah). Ternak sapi yang terserang penyakit jembrana mengalami penurunan nafsu makan sehingga kenaikan berat badan sapi terhambat, Jika tidak segera ditangani, sapi yang terserang seringkali mengalami kematian.

Derajat kematian bentuk ini dapat mencapai 90 % dan berlangsung cepat (3 hari – 1 minggu).

Sebelum mati, hewan terlihat mengalami gangguan pernapasan, sesak napas (dyspneu), suara ngorok dengan gigi gemeretak. Setelah mati, dari mulut sapi itu keluar cairan seperti air ludah dan penyebarannya sangat cepat ke ternak sapi lainnya.

Pada bentuk pektoral, tanda tanda bronchopnemoni lebih menonjol. Mula mula bentuk kering dan nyeri diikuti keluarnya ingus, pernapasan cepat dan susah. Pada bentuk ini proses penyakit berlangsung lebih lama (1 – 3 minggu). Penyakit yang berjalan kronis, hewan menjadi kurus dan sering batuk,nafsu makan terganggu dan terus menerus mengeluarkan air mata, suhu badan normal tetapi terjadi mencret bercampur darah.

Namun meski demikian penyakit tersebut tidak bisa menyerang manusia. Penyakit tersebut hanya menyerang sapi bali.

Penularan Penyakit Jembrana

Penularan penyakit jembaran terjadi melalu gigitan nyamuk, lalat atau caplak. Serangga-serangga ini merupakan serangga penghisap darah. Jika serangga menggigit dan menghisap darah sapi yang terinfeksi maka virus akan terbawa dan menular ke sapi lainnya saat serangga tersebut menghisap darah sapi yang sehat. Selain itu transmisi juga dapat terjadi melalui jarum suntik bekas injeksi sapi yang terinfeksi.

Diagnosa Penyakit Jembrana

Diagnosa penyakit jembrana dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap gejala klinis yang terjadi. Peneguhan diagnosa dapat dilakukan melalui uji ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), Uji Western Blotting dan Teknik PCR (Polymerase Chain Reaction).

Penaggulangan Penyakit Jembrana

Penanggulangan penyakit jembrana dengan melakukan karantina, isolasi, sanitasi, pemeliharaan sapi, dan pemberian obat.

Karantina, yaitu memelihara ternak sapi yang baru datang dari tempat lain kelokasi peternakan secara terpisah selama beberapa hari. Isolasi, yaitu mengandangkan sapi yang terjangkit penyakit jembrana secara terpisah dari sapi lainnya. Sanitasi, dilakukan dengan cara membersihkan kandang dan lokasi sekitar kandang. Penyemprotan anti serangga, Memelihara sapi dengan baik dan benar, Vaksinasi, Penyemprotan Desinfektan, dan  Pemberian obat.

Pencegahan penyakit jembrana dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi dan peningkatan daya tahan tubuh sapi. vaksinasi dapat dilakukan dengan menggunakan antigen dari hewan yang telah sembuh dari penyakit jembrana dengan diambil serumnya (antigen) kemudian diinduksi pada hewan,  untuk meningkatkan antibodi atau kekebalan tubuhnya.

Percobaan untuk menemukan antigen sebagai bahan utama vaksinasi jembrana dari virus yang tidak aktif sampai sekarang masih mengalami kesulitan, dikarenakan virus ini hanya menekan durasi dan tingkat keparahan penyakit sampai tingkat yang bervariasi atau tertentu saja.

Vaksin penyakit jembrana

Vaksinasi jembrana diberikan dua kali setahun. Vaksin kedua (booster) diberikan satu bulan sejak vaksin pertama. Peningkatan daya tahan tubuh sapi dapat dilakukan dengan memerhatikan kesehatan ternak. Kesehatan ternak sapi merupakan faktor penting dalam menjaga keselamatan ternak dari berbagai jenis penyakit. Menjaga kesehatan sapi dilakukan memberikan pakan yang cukup, memberikan suplemen, dan memelihara sapi pada kandang yang bersih dan layak. Selain itu pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan penyemprotan pada kandang dan peralatan kandang dengan disinfektan dan anti serangga.

Peternak tidak bias memberikan vaksin secara bebas kepada sapi bali mereka. Sebab, vaksin jembrana tidak dijual bebas. Permintaan untuk vaksin bias mudah seperti permintaan kawin suntik pada mantra hewan. Karena pembuatan vaksin hanya masih dalam skala laboratorium.

Untuk wilayah yang menjadi lokasi penyakit jembrana, vaksinasi dilakukan selama tiga tahun berturut-turut untuk tiap ekor sapi. Selama tiga tahun ini, setiap tahunnya dilakukan vaksinasi dua kali. Jarak antar vaksinasi pertama dan kedua adalah satu bulan.

Penyakit BEF (Bovine Ephemeral Fever)

Foto: Istimewa

Penyakit BEF pada ternak sapi disebabkan oleh virus (Double Stranded Ribonucleic Acid). Penyakit ini ditularkan oleh serangga (arthropod borne viral disease), bersifat benign non contagius, yang ditandai dengan demam mendadak, sapi tidak mau makan dan kaku pada persendian. Penyakit dapat sembuh kembali beberapa hari kemudian.

Cara Pencegahan dan Pengobatan Penyakit BEF pada Sapi

Pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin BEF dan mengontrol serangga vector. Pemberian antibiotik, anti inflamasi, pemberian cairan dinilai cukup efektif untuk mengurangi terjadinya infeksi sekunder yang dapat memperparah kondisi hewan dan dapat berakibat fatal.

Selain pemberian vaksin BEF, manajemen yang baik perlu diterapkan dimana sanitasi kandang dan lingkungan harus diperhatikan, jumlah ternak pada satu kandang tidak terlalu padat dan alur pembuangan air dan kotoran yang baik. Sistem karantina yang ketat perlu diterapkan agar lalu lintas ternak dapat dikontrol.

Penyakit Bali (Bali Ziekte)

Foto: Istimewa

Penyakit bali ziekte yaitu kondisi gangguan kesehatan ternak sapi akibat keracunan zat yang terdapat pada tanaman Tembelekan/Saliara (Lantana camara) atau kerasi. Gejala penyakit bali/bali ziekte antara lain, ternak sapi mengalami penurunan nafsu makan, suhu tubuh ternak sapi tinggi, Gatal gatal dan ternak sapi tidak tenang, Kulit sapi dibagian tubuh yang menonjol dan ujung telinga mengering dan mengelupas.

Pencegahan dan Penanganan Penyakit Sapi Bali Ziekte

Usahakan ternak sapi tidak memakan tanaman lantana camara. Ternak yang mengalami keracunan ditempatkan pada tempat yang teduh dan terhindar dari panas matahari, ternak diberi air minum (air kelapa lebih baik) dan pakan yang cukup. Luka yang timbul diobati agar tidak terjadi infeksi.

Penyakit Diare Ganas Sapi (DGS) atau Bovine Viral Diarrhea (BVD)

Bovine Viral Diarrhea (BVD) atau Diare Ganas Sapi (DGS) adalah penyakit hewan menular yang akut dan sering berakibat fatal, disebabkan oleh virus dari genus Pestivirus dari famili Togaviridae (Dharma dan Putra, 1997). Umumnya infeksi paska kelahiran bersifat non klinis, peningkatan temperatur biphasic (terjadi dua kali peningkatan suhu badan) dan leukopenia yang diikuti peningkatan zat kebal/antibodi yang dapat dideteksi dengan uji serum netralisasi.

Infeksi dapat dilihat melalui diagnosis serologik, virologik dan munculnya tanda klinis serta adanya lesi patologik. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan vaksin hidup (modified live vaccine). Dampak kerugian ekonomi akibat BVD bersifat relatif, tergantung kepada ketepatan sistem manajemen dan waktu pelaksanaan vaksinasi serta beberapa aspek produksi.

Pencegahan Penyakit Diare Ganas Sapi (DGS) atau Bovine Viral Diarrhea (BVD)

Vaksinasi dari sapi penderita. Hewan yang telah divaksin diberikan booster vaksin tunggal setiap tahun. Tindakan pencegahan melalui biosekuriti agar tidak terbawa virus ke peternakan oleh pembawa. Melakukan pengujian dengan pemeriksaan darah pada semua kelahiran pedet sekitar 3 bulan setelah terlihat hewan pertama yang sakit BVD. Dan terus melakukan pengujian sampai 9 bulan setelah terlihat hewan terakhir yang sakit karena BVD.

Cegah kontaminasi pupuk kandang terhadap bulu, makanan, dan air. Tempat tinggal pedet dibuat sendiri. Pengujian hewan baru untuk infeksi persisten. Pedet yang baru lahir diberi kolostrum secara maksimal.

Kurangi stress pada sapi yang bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain, kekurangan nutrisi, ketidaknyamanan kandang dan kualitas air yang jelek.

Penyakit Berak Darah (Coccsidiosis)

Foto: Istimewa

Penyebab penyakit berak darah (Coccsidiosis) pada ternak sapi disebabkan oleh bakteri E. bovis, E.zurni, E. ellipsoidalis dan E. auburnensis. Gejala klinis penyakit berak darah bervariasi, tergantung spesies bakteri penyerang dan umur sapi. Sapi yang berumur dibawah 6 bulan sangat peka terhadap penyakit ini. Pada infeksi ringan ditandai oleh adanya diare ringan yang berlangsung sekitar 5-7 hari, pada infeksi berat tinja sering terlihat bercampur darah dan lendir, hewan penderita akan mengalami depresi, nafsu makan menurun sampai hilang, berat badan menurun, dehidarasi, daerah sekitar anus menjadi kotor oleh adanya tinja, dan kematian dapat terjadi selama periode akut atau kerena infeksi sekunder (pneumonia).

Cara Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Berak Darah pada Sapi

Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar kandang. Ternak sapi yang sakit segera di isolasi agar tidak menular ke sapi yang sehat. Ternak yang sakit diobati dengan preparat furazolidone, pyrimethamin, sulfonamide. Konsultasi dengan dokter hewan tentang jenis obat dan dosis pemberiannya.

Penyakit Cacingan pada Sapi

Foto: Istimewa

Cacingan merupakan penyakit yang sering dialami oleh ternak sapi. Meskipun cacingan tergolong penyakit yang mudah ditangani namun penanganan harus dilakukan segera untuk menghindari kerugian akibat penyakit ini. Cacing yang menyerang ternak sapi sangat banyak jenisnya, tetapi yang paling sering menyerang adalah cacing pita dan cacing hati. Cacingan pada sapi disebabkan oleh kondisi pakan yang tidak bersih, biasanya pada rumput hujauan yang mengandung larva cacing.

Pengobatan dan Pencegahan Cacingan pada Sapi

Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar kandang. Memberi pakan yang bersih. Segera membuang sia-sisa pakan yang ada di kandang. Memberikan obat cacing secara rutin (biasanya setiap 2 bulan sekali). Konsultasi dengan dokter hewan sebelum memberikan obat untuk memperoleh jenis dan dosis obat yang tepat.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Related Articles