fbpx
Suara Peternakan

Kementan: Info Telur Palsu adalah Hoaks

SUARAPETERNAKAN.COM – Maraknya isu telur palsu di media sosial sangat meresahkan konsumen. Isu tersebut juga akan sangat merugikan peternak ayam petelur. Kementrian Pertanian dan Satgas Pangan Mabes Polri bergerak cepat dalam menyikapi beredarnya Isu tersebut.

Dilansir dari facebook Ditjen PKH Kementan RI, dalam konfrensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (16/3/2018), Direktur Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Syamsul Maarif menegaskan, isu yang viral mengenai telur palsu adalah hoaks.

Setelah turun langsung di lapangan dan diteliti dan melakukan pengujian di laboratorium, telur yang diduga palsu dipastikan bahwa telur tersebut asli.

Syamsul mengatakan mungkin Cuma sudah erlalu lama. Makanya kita jangan simpan telur terlalu lama, lebih dari empat minggu. “Adanya telur palsu sangat tidak mungkin. Menurutnya, secara akal sehat, harga telur yang dipalsukan pasti lebih mahal.” Ujarnya.

Dalam membuat telur palsu membutuhkan teknologi untuk merekayasa produk bilogisnya, harganya bisa mencapai 1,5 kali lebih tinggi dari harga aslinya.

Telur yang disimpan terlalu lama atau ayam yang sakit sangat mempengaruhi kondisi telur. Ketika kita menemukan telur-telur dengan ciri tidak normal seperti kuning yang lembek, putih telur terlalu cair, atau tidak lengket ditangan.

Telur yang disimpan lama akan mempengaruhi konsistensinya. Ketika ada telur yang disimpan lebih dari seminggu, begitu juga telur bebek, ketika bertelur sebaiknya keesokan harinya langsung didistribusikan ke konsumen.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Sugiono  mengatakan, “Telur produk biologis, tidak akan dapat dipalsukan, harga telur per kilogram jelas Rp 20-23 ribu,” ujarnya.

Isu telur palsu pertama kali diketahui di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kemudian, polisi setempat melakukan penyelidikan dan ditemukan bahwa informasi itu tidak benar.

Namun, semakin lama isu telur palsu kian berkembang dan semakin banyak.

Setyo mengatakan, hal ini sangat mengganggu situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Para peternak ayam akan merugi karena masyarakat jadi takut membeli telur.

Setyo mengingatkan masyarakat untuk tidak lagi menyebarkan informasi telur palsu di media sosial. Jika kedapatan bisa dijerat dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

“Jangan unggah ke medsos karena ada Undang-Undang ITE. Siapa yang mengunggah berita palsu (bisa dikenakan) pasal 28, dia diancam hukuman maksimal enam tahun dan denda Rp1 miliar,” pungkasnya.

Sumber: facebook Ditjen PKH Kementan RI
(Visited 41 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *