fbpx
Suara Peternakan

Kementan Dorong Penerapan Peternakan Sistem Organik

SUARAPETERNAKAN.COM – Kementrian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya mendorong penerapan sistem pertanian organik subsektor peternakan. Saat ini, konsumsi komoditas organik sekarang mulai menjadi tren gaya hidup, karena meningkatnya kesadaran masyarakat atas kesehatan.

Menurut survei data 2017 oleh Forschungsinstitut fur Biologischen landbau/Lembaga Riset Pertanian Organik dan Organisasi Organik Internasional yang menyebutkan pemasaran pangan organik secara global tahun 2015 diestimasikan telah mencapai sekitar €75 juta.

Data dari Kementan ada sekitar 179 Negara di dunia yang berkecimpung dalam kegiatan organik. Adapun, 3 negara produsen organik tertinggi, berturut-turut adalah India (585.000 unit), Ethiopia (203.602 unit), dan Mexico (200.039 unit), sedangkan konsumen organik terbesar adalah Amerika Serikat,Jerman, dan Prancis (€5,5 ).

Dengan demikian, peluang pasar komoditas organik di dunia masih sangat luas dan Indonesia harus berupaya secara maksimal untuk dapat menciptakan produk pertanian khususnya peternakan organik.

Dilasir dari bisnis.com, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani mengatakan, saat ini keberadaan produk organik lebih sering dijumpai di ritel modern. Pasalnya, proses produksi cara budi daya organik dilakukan secara khusus, bebas bahan kimia, obat-obatan dan hormon sehingga produk tersebut bebas dari zat yang membahayakan kesehatan.

Fini menambahkan, pihaknya bertujuan tumbuh dunia usaha produk organik yang mampu menghasilkan produk dengan memiliki jaminan atas integritas sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah telah mengeluarkan Permentan Nomor 64/2013 tentang Sistem Pertanian Organik.

Konsep Peternakan Organik di Indonesia

Konsep peternakan organik telah berkembang seiring dengan meningkatnya produk yang ramah lingkungan dengan memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan hewan sehingga menghasilkan produk ternak yang berkualitas.

Peternakan organik berkembang di dunia, khususnya di Eropa pada tahun 1999 yang tercantum dalam Peraturan EEC 1804/1999, yang melengkapi peraturan No. 2092/91 mengenai produksi pangan organik. Peraturan EEC menetapkan standar yang terkait dengan produksi dan melibatkan hak dalam pelabelan pangan organik, termasuk di dalamnya spesifikasi untuk kondisi kandang, nutrisi ternak dan perkembangbiakannya, serta perawatan, pencegahan penyakit dan pengobatan ternak.

Peternakan organik merupakan metode beternak yang ditujukan untuk pasar premium dengan persyaratan kualitas proses produksi dan kualifikasi manajemen yang tinggi. Peternakan organik didasarkan pada hubungan yang harmonis antara tanah, tanaman dan ternak, dengan memperhatikan kebutuhan fisiologis dan perilaku ternak dengan memberi pakan organik yang berkualitas baik.

Berbeda dengan sistem produksi peternakan konvensional, peternakan organik dirumuskan oleh pedoman dasar, yang dikembangkan pertama kali oleh asosiasi swasta pada tahun 1924. Aspek utama yang menjadi perhatian adalah peningkatan penggunaan bahan kimia (anorganik) dan pestisida. Berlawanan dengan pertanian konvensional, lahan pertanian organik dianggap sebagai suatu organisme dimana aspek integratif dan holistik menjadi bagian yang dikedepankan.

Budidaya ternak organik dipenuhi melalui kombinasi antara penyediaan pakan yang ditumbuhkan secara organik yang berkualitas baik, pengaturan kepadatan populasi ternak, sistem budidaya ternak yang sesuai dengan tuntutan kebiasaan hidupnya, serta cara pengelolaan ternak yang baik yang dapat mengurangi stress dan berupaya mendorong kesejahteraan serta kesehatan ternak, mencegah penyakit dan menghindari penggunaan obat hewan kelompok sediaan farmasetikal jenis kemoterapetika (termasuk antibiotika).

Menurut SNI 2016, produk organik diproduksi dengan memperhatikan antara lain lingkungan, kesehatan dan kesejahteraan pekerja/petani, kesetaraan gender, serta menghargai kearifan tradisional sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dinyatakan dalam panduan mutu. Ternak yang dipelihara untuk produksi pertanian organik harus menjadi bagian integral dari unit usaha tani organik dan harus dikelola sesuai dengan kaidah-kaidah organik.

Syarat yang diatur dalam peraturan tersebut mencakup bagaimana ternak harus dipelihara, misalnya dalam 1 ha hanya memelihara dua ekor sapi, proporsi penggunaan pakan konvensional, misalnya 10% untuk herbivora, tidak diperbolehkan menggunakan hormon pertumbuhan, tidak diperbolehkan menggunakan tali pengikat leher dan ternak harus mempunyai kandang dan lahan untuk pengembalaan dengan perbandingan 25:75.

Ciri-ciri utama produksi ramah lingkungan pada peternakan organik adalah adanya penolakan dalam penggunaan pestisida dan mineral nitrogen, dengan pertimbangan perlunya mengurangi jumlah ternak persatuan luas. Peternakan organik harus bergantung pada sirkulasi unsur hara yang efisien pada lahan peternakan dan mempertahankan kesuburan tanah dan produksi yang tinggi. Pengurangan polusi atau konsumsi energi dapat dicapai melalui pendekatan secara sistemik dan kausal, sementara strategi konvensional seringkali didasarkan pada tindakan teknis dan manajemen.

Perkembangan Peternakan Organik di Indonesia

Perkembangan peternakan organik di Indonesia seharusnya meningkat dengan berkembangnya pertanian organik, mengingat ternak dibutuhkan sebagai penghasil pupuk organik bagi lahan pertanian organik. Namun, berdasarkan data statistik pertanian organik Indonesia 2015, peternakan organik yang sudah tersertifikasi hanya 0,81% peternakan kambing organik dan itik organik dari total kepemilikan usaha pertanian organik.

Hal ini menggambarkan bahwa di Indonesia, perusahaan ataupun petani yang mengelola pertanian organik belum sepenuhnya menggunakan pupuk dari kotoran ternak organik. Salah satu penyebabnya adalah tersedianya pupuk bersertifikat organik yang dijual di pasar.

Beberapa kendala yang dihadapi bagi perkembangan peternakan organik terutama ternak penghasil susu di Indonesia adalah (1) Pemilik usaha pertanian organik tidak memiliki lahan penggembalaan yang cukup untuk beternak ternak perah (sapi dan kambing); (2) Peternak yang memelihara ternaknya secara organik harus memiliki lahan penghasil hijauan yang bersertifikat organik; (3) Ternak sakit yang memperoleh pengobatan farmasetika akan kehilangan status organik dan akan melalui proses konversi kembali; serta (4) Membutuhkan biaya dalam proses pembuatan sertifikat.

Ternak perah yang dipelihara dengan sistem organik memiliki produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan konvensional, tetapi harga jual susunya lebih tinggi. Walau beberapa penelitian menunjukkan sebaliknya.

Oleh karena itu produk organik menjadi produk premium yang memiliki harga lebih tinggi daripada komoditas biasa.

(Visited 75 times, 1 visits today)

Related Articles