fbpx
Suara Peternakan

Kapal Khusus Ternak Tekan Risiko Penyusutan Bobot Sapi

SUARAPETERNAKAN.COM – Dukungan terhadap pembangunan kapal khusus pengangkut ternak ini merupakan hasil penelitian dan Kajian Kebijakan Tata Niaga Komoditas Strategis dari Direktorat Penelitian dan Pengembangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Upaya Perbaikan Pada Kebijakan Tata Niaga Komoditas Strategis Daging Sapi yang salah satu usulannya. Mendorong pengembangan industri daging sapi di sentra produksi melalui revitalisasi rumah potong hewan dan pasar ternak serta membangun sarana dan prasarana transportasi dalam kelancaran distribusi daging dan ternak sapi.


Kapal Ternak PT Pelni Turunkan 450 Ekor Sapi di Pelabuhan Tanjung Priok . Foto: beritatrans.com

Kapal khusus ternak didesain khusus sesuai kaidah kesejahteraan hewan (animal welfare) sehingga menekan tingkat stres ternak. Bobot ternak bakal terjaga dari susut yang berlebihan. Jaminan asuransi setiap tarif angkutan ternak yang dibayar, pemilik ternak lebih terjamin terhindar kerugian di dalam setiap pelayaran.

Tersedia  dokter hewan di kapal tersebut,  sehingga kesehatan ternak betul-betul dijaga dengan baik. Sapi-sapi juga bisa duduk, nyaman, tenang, dan kondisi itu sangat mempengaruhi kualitas daging dan ototnya nanti tidak menjadi keras.

Kementerian Pertanian mengungkapkan sejak adanya trayek angkutan kapal ternak dari program tol laut telah berdampak pada penurunan risiko penyusutan bobot sapi hingga menjadi 9%.

Sebelum ada kapal khusus ternak, banyak terjadi kasus penyusutan bobot sapi selama perjalanan laut.

Dilansir dari sumatrabisnis.com, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan, Fini Murfiani mengatakan, Saat ini dari 78 pelayaran yang ada, loadfactornya sudah 80%. “Nah itu sebabnya kenapa ternak terutama sapi harus diangkut dengan pelayaran khusus agar tidak stres,” ujarnya saat Seminar Nasional Tol Laut, Senin (4/2/2019).

Saat pengiriman sapi dari NTT ke Jakarta terjadi penyusutan bobot sapi bahkan hingga 15%-20%. Namun setelah ada kapal khusus ternak, penyusutan maksimal hanya 9%.

“Kalau kita tahu data suplai dalam negeri, nanti kita juga akan tahu, berapa sih impor sapi yang dibutuhkan,” imbuh Fini.

Kapal khusus ternak siap melayani pengangkutan ternak agar proses distribusi ternak dari daerah produsen ke daerah konsumen.  Jumlah kapal khusus ternak menjadi 6 (enam) unit yang akan beroperasi dari daerah NTT, NTB dan Bali ke wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Sejak 2016 hingga kini, kapal khusus ternak Camara Nusantara 1 tercatat telah berlayar 48 kali dan telah mengangkut ternak sebanyak 24.235 ekor dari Pelabuhan Tenau Kupang ke Pelabuhan Tanjung Priok, DKI Jakarta. Ada pun loading factor kapal mencapai 100 persen

Pemerintah menyiapkan 6 kapal khusus ternak yang siap melayani pengangkutan ternak untuk memperlancar distribusi ternak dari daerah produsen ke daerah konsumen.

Adapun konektivitas trayek angkutan ternak tahun ini ada 6 rute, yakni KM. Camara Nusantara 1 oleh PT Pelni (Kupang – Waingapu – Tanjung Priok – Cirebon – Kupang), KM Camara Nusantara 3 oleh PT Pelni (Kupang – Waingapu – Tanjung Priok – Cirebon – Surabaya-Dumai- Cirebon-Kupang).

Selanjutnya KM. Camara Nusantara 2 oleh PT ASDP (Kupang – Wini- Atapupu- Tanjung Priok – Kupang), KM. Camara Nusantara 6 oleh PT Subsea (Bima – Badas – Parepare – Palu – Balikpapan/Samarinda – Bima), dan rute yang terakhir KM. Camara Nusantara 5 oleh PT ASDP (Celukan Bawang – Tanjung Priok – Kupang – Wini – Atapupu – Samarinda – Celukan Bawang).

Pada Mei 2018, kapal yang telah beroperasi yaitu KM Camara Nusantara 3 dengan trayek Kupang, NTT menuju Tanjung Priok Jakarta dan Bengkulu dan KM Camara Nusantara 4 dengan trayek NTB (Bima-Badas-Lembar) menuju Pare-pare, Sulawesi Selatan dan Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selain itu, KM Camara Nusantara 6 juga telah beroperasi yang akan memperkuat trayek NTB menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selanjutnya, pada 25 Mei 2018 lalu telah diluncurkan pelayaran perdana 2 kapal ternak yaitu KM Camara Nusantara 2 dengan trayek NTT (Kupang–Wini–Atapupu) menuju Tanjung Priok Jakarta dan KM Camara Nusantara 5 yang berpangkalan di Celukan Bawang Buleleng Bali menuju Tanjung Priok Jakarta dilanjutkan menuju Kupang NTT kemudian menuju Samarinda Kalimantan Timur.

Sosialisasi Keberadaan kapal ternak memang harus disosialisasikan agar calon pengguna kapal mengetahui biaya dan manfaat yang bisa diperoleh bila menggunakan modal transportasi itu.

Pemanfaatan kapal khusus ternak ini juga akan dioptimalkan untuk mengisi muatan balik kapal dengan produk yang dibutuhkan di daerah produsen sehingga terjadi peningkatan hubungan perdagangan yang lebih baik antar-daerah.


Sumber: Kompas.com, sumatrabisnis.com

(Visited 42 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *