fbpx
Suara Peternakan

Kapal Khusus Angkutan Ternak, Wujud Implementasi Tol Laut

Kapal ternak merupakan salah satu instrument untuk mengetahui suplai dalam negeri dari daerah produsen kedaerah konsumen. Kekurangan suplai dalam negeri merupakan dasar penentuan kebutuhan daging yang berasal dari impor.

Pemanfaatan kapal ternak akan menjadi lebih efektif dalam menekan harga daging sapi di konsumen dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu kontinuitas pengangkutan sapi hidup, frekuensi keberangkatan kapal, serta penambahan jumlah unit kapal untuk daerah sumber pasokan sapi yang potensial selain dari NTT seperti dari NTB, Sulawesi Selatan, Bali, Lampung dan Jawa Timur.

Kapal khusus angkutan ternak merupakan salah satu wujud implementasi Tol Laut, mengangkut ternak dari daerah asal ternak kedaerah konsumen sebagai penerima ternak. Keberadaan kapal ternak mampu menjamin kelangsungan pendistribusian ternak melalui angkutan laut dengan kaidah animal welfare selama pengangkutan. Salah satu dampak yang terjadi adalah pengurangan tingkat stress ternak serta berpengaruh terhadap minimalnya susut bobot dan kualitas daging dari ternak yang diangkut.

Tabel Rute dan Jaringan Trayek Kapal Khusus Ternak Tahun 2018

Kapal khusus ternak pertama diluncurkan pada akhir tahun 2015 dengan nama KM Camara Nusantara I dan sampai dengan tahun 2018 telah beroperasi sebanyak 6 armada kapal untuk melancarkan distribusi ternak. Tahun 2018  tercatat dari 77 pelayaran seluruh trayek kapal ternak dari daerah NTT, NTB dan Bali ke wilayah Jabodetabek, Bengkulu, Kalsel, Kaltim dan Sulsel telah diangkut 30.803 ekor ternak sapi dan kerbau.  Loading factor mencapai 88%.

Efektifitas Kapal Ternak

Membahas efektifitas pemanfaatan kapal ternak, juga perlu memperhatikan kondisi bahwa rantai pasok ternak hidup antar wilayah selama ini dinilai tidak efisien dan terlalu panjang sehingga biaya operasional yang harus ditanggung pelaku usaha semakin besar dan mengakibatkan harga daging menjadi mahal. Panjangnya rantai pasok saat ini perlu adanya pembenahan sehingga dampaknya dapat menekan biaya operasional yang dikeluarkan pelaku usaha.

Panjangnya rantai tata niaga ternak tersebutjuga berdampak terhadap farm share (keuntungan) yang diterima peternak menjadi lebih kecil. Biaya distribusi ternak dari daerah produsen ke daerah konsumen sangat tinggi terutama perdagangan antar pulau. Sebagai ilustrasi pasokan sapi hidup dengan menggunakan kapal ternak dapat memperpendek rantai pasok distribusi sapi hidup, namun belum efektif dapat menekan harga di tingkat konsumen akhir. Kebutuhan pemotongan ternak di DKI Jakarta mencapai 336.000 ekor pertahun(920 ekor per hari), Pemda DKI Jakarta mencukupi kebutuhannya sebagian besar dipasok dari sapi ex impor (feed lotters)  90%, dan sapi lokal masih berkisar di 10%.Dengan pasokan ternak  melalui Kapal Ternak ke DKI Jakarta th 2018 sebesar 28.432 ekor (78 ekor per hari)  maka rasio pasokan 8,4%.

Provinsi NTT merupakan sentra pengirim ternak paling dominan, sebanyak 23.187 ekor atau 75 % dari total Loading Factor. Sedangkan pasokan dari NTB lebih banyak dilakukan saat persiapan IdulAdha, menuju DKI Jakarta. Selain itu juga belum terintegrasinya antara kegiatan produksi dengan kegiatan pasca panen dan pemasaran seperti pasarternak, Rumah Potong Hewan (RPH), pasar ritel dan industri pengolahan dengan peternak/gapoktan/koperasi peternak dalam suatu sistem supply chain management yang baik.

Perbaikan system pemotongan di RPH dilakukan dengan melakukan grading daging berdasarkan jenis potongan-potongan yang terstandar. Preferensi konsumen terhadap daging saat ini mulai berkembang untuk mengkonsumsi berdasarkan bagian-bagian daging tertentu yang mendorong berkembangnya industry kuliner dengan permintaan daging berdasarkan potongan dan bagian tertentu. Seekor sapi akan memiliki nilai tambah yang tinggi jika semua kompenen pada seekor sapi tersebut dimanfaatkan dengan baik. Berkaitan dengan hal tersebut, kedepan harus diterapkan SNI karkas dan daging sapi supaya ada kesamaan dari RPH untuk menghasilkan daging.

Grading daging sapi berdasarkan potongannya secara umum digambarkan pada gambar di bawah ini :

Optimalisasi muatan balik

Pemanfaatan muatan balik masih belum dioptimalkan, mengakibatkan biaya operasional/ tarif  yang tinggi. Pemanfaatan muatan balik berupa produk-produk atau hasil industri dari daerah konsumen ternak kedaerah penghasil ternak. Muatan balik yang dapat diangkut oleh kapal ternak adalah muatan yang bersifat tidak terkontaminasi oleh aroma kandang sapi dan tidak merusak kandang sapi itu sendiri dengan penerapan tarif menggunakan tarif komersial berdasarkan harga pasar. Disamping dapat membantu mengurangi biaya operasional kapal ternak, juga mendukung terciptanya kondisi jaringan perdagangan antar pulau. Sehingga pembangunan ekonomi menjadi lebih merata.

Adanya kepastian fasilitas transportasi laut yang regular jadwalnya mampu menciptakan Pertumbuhan ekonomi antar wilayah : Ships follow the trade, Ships promote the trade. Untuk itu perlu ditekankan komitmen dari Pemerintah daerah dan K/L terkait serta para pelaku usaha dalam rangka optimalisasi pemanfaatan kapal ternak.

Achmad Wiroi, S.Kom, MM – Kasie Informasi Pasar Direktorat PPHNak

Sumber : http://pphnak.ditjenpkh.pertanian.go.id

(Visited 66 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *