fbpx
Suara Peternakan

Inilah Potensi Bahan Pakan yang Bisa Digunakan untuk Penggemukan Sapi Potong

Suarapeternakan.com – Kebutuhan sapi potong di Indonesia, dari tahun ke tahun terus meningkat. Sementara ketersediaan sapi lokal siap potong belum mencukupi kebutuhan pasar. Karenanya, pemerintah harus menutupi kekurangan tersebut dengan sapi impor. Tentu peluang usaha yang besar ini sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan oleh para peternak. Dalam upaya ini, pemerintah juga mendorong peternak untuk menggalakkan peternakan sapi potong secara intensif di tanah air.

Salah satu modelnya ialah pengembangan penggemukan sapi potong. Sistem ini bisa diperoleh hasilnya lebih singkat, lebih menguntungkan. Usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu sektor bisnis yang paling menguntungkan dalam usaha peternakan sapi. Selain faktor keuntungan juga waktu balik modal yang lebih cepat dari pada usaha pembibitan.

Waktu yang ideal untuk penggemukkan sapi potong adalah sekitar 6-12 bulan. Semakin pendek akan semakin menguntungkan. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kejelian dalam memilih bakalan sapi yang akan digemukkan agar proses penggemukan sesuai dengan yang ditargetkan. Pemilihan target pasar juga menentukan besar kecilnya keuntungan yang diperoleh oleh peternak.

Sapi yang digemukkan memerlukan waktu yang teratur untuk pemberian pakan. Jadwal pemberian pakan yang baik adalah pagi, siang dan sore hari. Atau jam 08.00 pagi, 12.00 siang dan 17.00 sore.

Faktor yang memiliki peran terbesar adalah pakan, hampir 70% biaya penggemukkan sapi potong dikeluarkan untuk pakan. Proses pemilihan bahan pakan dan penyusunan ransum pakan menjadi faktor yang sangat krusial. Perlu dipilih bahan pakan yang nutrisinya memenuhi, harganya murah, terjangkau lokasinya, stoknya berkesinambungan dan proses penyusunan ransum pakan sesuai dengan target nutrisi pakan.

Pakan yang nutrisinya baik tetapi lokasinya jauh akan menyebabkan biaya transportasi yang besar. Stok bahan pakan berkesinambungan diperlukan agar tidak terlalu sering ganti formulasi pakan yang menyebabkan bertambahnya masa adaptasi pakan pada sapi. Formulasi yang jeli dan tepat akan memberikan imbangan nutrisi yang efektif untuk pertumbuhan sapi potong.

Dalam bisnis penggemukan sapi, pakan sapi yang diberikan harus seimbang. Yaitu seimbang dalam kandungan gizinya. Gizi pakan meliputi protein, lemak, karbohidrat dan gizi lainnya.

Adapun macam pakan yang bisa diberikan pada sapi untuk bisnis penggemukan adalah pakan hijauan dan konsentrat.

Pakan hijauan terdiri dari tumbuh-tumbuhan, yaitu daun lamtoro, rumput dan jerami. Sedangkan konsentrat adalah pakan yang mengalami proses fermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Contohnya adalah dedak padi. Selain itu untuk menghasilkan daging sapi yang maksimal, bisa melakukan campuran dedak padi sebanyak 70%, bungkil kelapa 30% ditambah dengan tepung tulang dan garam dapur dengan takaran secukupnya.

Kering (BK) pakan sebanyak 3-3,50% dari berat badan untuk setiap hari, sedangkan sapi potong berat 300 kg dengan PBBH 0,9 kg membutuhkan pakan dengan PK 10% dan TDN 70% (Tillman et al., 1998)

Melansir dari laman kementrian pertanian, berikut Potensi beberapa bahan pakan penggemukan untuk sapi potong

Potensi Onggok

Onggok adalah hasil produk samping pengolahan ubi kayu menjadi tapioka. Dari setiap ton ubi kayu bisa  menghasilkan 114 kg onggok. Jika  setengah dari produksi ubi kayu tahun 2000 yang mencapai 15.351.200 ton diolahdan diproses menjadi tepung tapioka, onggok yg dihasilkan bisa mencapai 828.965 ton. Jumlah tersebut sanagat besar untuk dimanfaatkan dan digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.

Onggok memiliki kandungan air cukup tinggi (81-85%), dan bisa menjadi sumber pencemaran atau polusi udar atau lingkungan, terutama di wilayah produksi apabila tidak ditangani dengan baik. Onggok sebenarnya memiliki potensi sangat besar sebagai bahan pakan. Tetapi mutu dan nutrisinya yg rendah (protein kasar(PK) sekitar 1,55% dan serat kasar (SK) 10,44% bahan kering), menjadi pembatas utama pemanfaatan onggok sebagai bahan pakan ternak, baik untuk ternak monogastrik seperti ayam dan bebek, maupun ternak ruminansia. Seperti sapi, kambing, dan domba. Untuk bisa digunakan sebagai bahan pakan ternak, maka mutu dan kualitas onggok perlu ditingkatkan dengan proses teknologi fermentasi.

Kulit kopi

Penelitian yang dilakukan oleh pita sudrajad, muryanto, dengan jurnal “optimalisasi usaha penggemukan sapi di kawasan perkebunan kopi” menyimpulkan bahwa,optimalisasi usaha penggemukan sapi di kawasan perkebunan kopi dapat dicapai dengan pemanfaatan pakan yang murah yaitu dari limbah kulit kopi, serta introduksi teknologi pengolahan limbah ternak untuk menghasilkan biogas dan pupuk organik.

Keuntungan yang didapatkan dari pola usaha penggemukan sapi tersebut mencapai Rp. 824.845,00 dengan B/C Ratio sebesar 1,17 dan BEP dicapai pada harga Rp. 9.738.309,63, sehingga lebih layak daripada pola eksisting.

Pollard gandum

POLLARD (dedak gandum-Triticum sativum lank), adalah produk samping dari proses milling gandum , yang berguna sebagai bahan baku untuk pembuatan produk pakan ternak karena memiliki kadar protein dan nutrisi yang tinggi Angka konversi pollard dari bahan baku sekitar 25-26%. Pollard merupakan pakan yang popular dan penting pada pakan ternak karena palatabilitasnya cukup tinggi.

Pollard merupakan salah satu pakan ternak yang popular dan nilai produksi yang dihasilkan nampaknya lebih besar daripada yang diperkirakan dari kandungan protein dan kecernaan nilai zat makanannya. Pemberian pollard biasanya dicampur dengan butiran dan dengan pakan yang kaya akan protein seperti bungkil-bungkilan. Pollard mempunyai nilai yang tinggi ketika dipakai lebih dari seperempat bagian konsentrat.

Kualitas protein pollard lebih baik dari jagung, tetapi lebih rendah daripada kualitas protein bungkil kedelai, susu, ikan dan daging. Pollard kaya akan phosphor (P), feerum (Fe) tetapi miskin akan kalsium (Ca). pollard mengandung 1,2 9% P, tetapi hanya mengandung 0,13% Ca. bagian terbesar dari P ada dalam bentuk phitin phosphor. Polaard tidak mengandung vitamin A atau vitamin, tetapi kaya akan niacin dan thiamin.

Jerami padi

Dari hasil penelitian Badan Litbang Pertanian diketahui dari satu hektar lahan sawah dihasilkan 5 – 8 ton jerami padi. Bila pada hamparan 100 ha pertanaman padi berarti dihasilkan 500 – 800 ton jerami padi yang dibakar. Dengan membakar jerami padi,  mikroba yang berguna dalam proses biologis, seperti perombak bahan organik, pengikat nitrogen, dan mikroba yang memiliki fungsi biologis lain akan ikut mati dan sukar tergantikan keberadaannya. Namun tidak semua hama tanaman akan mati pada saat jerami dibakar karena hama dewasa, seperti tikus akan berpindah tempat.

Secara tradisional pemanfaatan jerami masih sangat terbatas untuk keperluan rumah tangga dan kegiatan usahatani. Jerami padi dimanfaatkan sebagai bahan bakar tambahan pada pembakaran genting,  bata dan gerabah, juga jerami dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak. Di negeri kita dua dekade terakhir tidak lagi menggunakan jerami sebagai bahan bakar di rumah tangga. Secara tradisional, peternak menghamparkan jerami padi kering setebal 5-10 cm di kandang sapi atau kandang kerbau yang lantainya berupa tanah.

Bungkil inti sawit

Bungkil inti sawit ini adalah salah satu bagian hasill ikutan pemrosesan inti sawit ( daging sawit ditambah batoknya), hasil ini dapat mencapai 45% dari inti sawit. Jika kita liat dari nilai unsure kimianya, BIS mempunyai 14-17% protein, Serat kasar 12-18%, lemak 10,5%. Oleh karena itu, bungkil inti sawit sangat baik untuk dimanfaatkan untuk pakan ternak.   Pada sapi perah BIS ini bisa digunakan 65% dari bahan ransum, jagung 25%, dan bungkil kedelai 10%. Sedangkan pada sapi potong dapat dipakai hingga 70% pada ransum pakan ternak. Jika peternak memberikan pada domba sebanyak 30%,  dengan hanya memberikan rumput bisa meningkatkan bobot pertumbuhan dari 30g dalam satu hari, sedangkan dengan memberikan BIS, bobot domba bisa meningkat menjadi 70g/ekor/hr.

Proses Fermentasi  bungkil inti sawit untuk pakan ternak dengan Jamur dan Bakteri seperti Rhizopus oligosparus, Aspergilus niger, atau Eupenicilium javanicum bisa menurunkan nilai serat kasar, dan tentunya dengan proses fermentasi dapat meningkatkan nilai protein dari bungkil inti sawit, serta tingkat kecernaannya juga akan meningkat. Jika peternak sulit mendapatkannya, peternak dapat mengunakan probiotik yang beredar di pasaran seperti: SOC (Suplemen Organic  Cair) dari PT HCS, Probitik Tangguh, EM4, Starbio, dll.

Tepung gaplek (singkong)

Singkong merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat digunakan sebagai sumber pakan potensial untuk sapi potong karena hampir semua bagian tanaman maupun limbah agroindustrinya dapat dimanfaatkan. Selain itu singkong merupakan tanaman yang mudah hidup hampir di semua jenis tanah dan tahan terhadap hama penyakit. Umumnya ditanam untuk diambil umbinya sebagai sumber karbohidrat. Cara perkembangbiakannya sangat mudah yaitu dengan stek batang dan sudahdapat dipanen pada umur 8 bulan.

Singkong dimanfaatkan antara lain sebagai bahan baku industri dan industri rumah tangga seperti tapioka, makanan ringan, dan lain ebagainya. Limbah agroindustri singkong antara lain adalah onggok, kulit singkong, ataupun singkong afkir yang mengandung bahan kering (BK) antara 88,65 – 94,35% dan energi (TDN) antara 56,91 – 64,75% BK adalah merupakan bahan pakan yang cukup potensial digunakan sebagai sumber energi.

Bungkil kopra

Bungkil kopra adalah hasil ikutan dari ekstraksi minyak dari daging buah kelapa kering yang masih mengandung protein sekitar 16%-18% dan berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ikan. Faktor pembatas penggunaan bungkil kopra adalah kualitas nutrisi yang rendah antara lain karena kandungan lemak kasarnya agak tinggi dan mudah tengik sehingga perlu peningkatan ketersediaan biologisnya melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme.

Mikroba yang digunakan terdiri atas (A) Aspergillus niger, (B) Saccharomyces cereviceae, (C) Rhizopus sp., dan (D) Bacillus subtilis. Bungkil kopra yang sudah difermentasi kemudian dikeringkan dan ditepungkan, lalu dilakukan analisis proksimat, uji ketengikan dengan menentukan bilangan peroksidanya, dan komposisi asam aminonya. Juga dilakukan analisis kecernaannya untuk ikan bandeng ukuran sekitar 50 g dengan metode marker menggunakan krom oksida (Cr2O3).

Dari hasil penelitian ini diperoleh fermentasi dapat meningkatkan kandungan protein bungkil kopra 21%-42% dan menurunkan kandungan lemak dan serat kasarnya masing-masing 50% dan 27% pada fermentasi menggunakan Rhizophus sp., serta menurunkan bilangan peroksida 10%-47%. Nilai koefisien kecernaan protein dan lemak bungkil kopra yang difermentasi dengan Rhizopus sp., A. niger, dan S. cereviceae lebih tinggi masing-masing 10%-11% dan 9%-13% dibanding bungkil kopra yang difermentasi dengan B. subtilis dan tanpa fermentasi. Bungkil kopra hasil fermentasi dengan Rhizopus  sp. mengalami peningkatan kualitas nutrisi yang terbaik untuk bahan pakan.

Rumput

Jenis hijauan yang direkomendasikan sebagai pakan sapi potong berasal dari bagian tumbuhan yang muda (sebelum berbunga), terutama daun dan batang tanaman rumput dan kacang-kacangan. Tanaman muda yang belum berbunga punya nilai gizi yang lebih baik, entah dari kandungan karbohidrat, protein, maupun vitaminnya sebab semua kandungan gizinya belum dialokasikan untuk perkembangan bunga.

Hijauan yang umum diberikan pada ternak sapi potong diantaranya yaitu: rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria, rumput ilalang, jerami padi, dan jerami kacang tanah. Jerami padi diberikan ke sapi potong bukan karena nilai gizinya, melainkan sebab harganya yang murah dan ketersediaannya yang stabil sepanjang tahun.

(Visited 49 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *