fbpx
Suara Peternakan

Ini Waktu yang Tepat Panen Sarang Walet

Suarapeternakan.com – Hasil panen dari peternakan walet ini berupa sarang yang terbuat dari air liur walet. Konon, sarang walet diyakini dapat digunakan sebagai penambah tenaga dan melancarkan peredaran darah. Oleh sebab itu, harga jualnya sangat tinggi.

Sarang walet dapat dipanen apabila kondisinya sudah memungkinkan. Untuk pemetikan sarang walet, perlu cara dan ketentuan khusus agar diperoleh hasil panen memenuhi mutu yang baik. Selain itu, proses pemanenan juga perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu kenyamanan walet yang menyebabkan walet akan pindah tempat.

Waktu panen sebaiknya dilakukan pada siang hari sekitar pukul 09.00-15.00, yaitu saat walet pergi mencari makan. Jika dilakukan saat walet berada di gedung, ditakutkan walet menjadintrauma dan kabur.

Mutu sarang birung walet ditentukan berdasarkan warna yang disukai, yaitu putih kertas; berbentuk mangkokan; dan kebersihan sarang. Ada juga sarang jenis lain, tetapi harganya lebih rendah,

Pola panen yang baik harus memperhatikan waktu yang tepat agar walet tidak mengalami stress. ada 4 cara memanen walet yaitu panen tetasan, panen rampasan, panen buang telur, dan panen pilihan.

  1. Panen tetasan : panen tetasan dilakukan setelah sarang terbentuk sempurna dan telur telah menetas. sarang di petik setelah anak walet sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotoran dan bulu walet. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.
  2. Panen rampasan : Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walet karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
  3. Panen Buang Telur : Cara ini di lakukan  setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya. dan populasi walet menjadi lambat karena penambahan walet hanya bergantung pada walet baru hasil pancingan
  4. Panen pilihan : adalah cara panen yang paling disarankan cara panen ini memilih memanen sarang yang tidak ada telur walet dan menyisakan sedikit sarang untuk membuat walet lebih betah dan akan kembali lagi ke sarang, dan tidak membiarkan walet untuk bertelur berulang – ulang dalam satu sarang yang sama.

Jangka waktu panen juga mempengaruhi hasil panen, waktu panen bisa dilakukan pemanenan setahun sekali, enam bulan sekali, tiga bulan sekali atau dua bulan sekali tergantung banyaknya sarang yang telah dihasilkan.

Tetapi jangka waktu panen yang ideal adalah panen 6 bulan sekali, karena burung walet mempunyai waktu untuk lebih mendekati waktu berkembang biak yang alami, sehingga terjadi regenerasi walet yang akan menambah populasi walet lebih cepat.

Harus di waspadai dalam panen 6 bulan sekali adalah dapat memancing datangnya pencuri walet. untuk panen dua bulan sekali juga dapat di lakukan asalkan walet tetap di berikan kesempatan untuk berkembang biak.

Saat panen usahakan tidak dilakukan pada malam hari, karena dapat menggangu walet, saat mengambil walet usahakan ada sebagian sarang yang ditinggalkan agar walet betah dan akan kembali nantinya. lakukan kontrol dan pengawasan terhadap hama di dalam gedung walet. sebelum di petik lakukan penyemprotan dengan air pada sarang yang akan dipetik agar sarang tidak pecah dan rusak. dan disayat dengan menggunakan pisau dengan hati – hati.

Apabila salah memanen, maka akan berakibat fatal bagi gedung walet dan bagi burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet akan merasa terganggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kerugian ini, para pemilik gedung walet perlu mengetahui teknik dan waktu pemanenan. Berikut adalah waktu/kesempatan dalam memanen sarang burung walet.

  1. Panen Empat Kali Setahun

Cara panen seperti ini biasanya dilakukan pada gedung walet yang berpenghuni koloni walet yang padat dan sudah lama menghuni gedung tersebut.

  • Panen pertama Dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan itu belum bertelur. Selanjutnya, burung dipaksa un tuk membuat sarang kembali dengan segera. Panen seperti ini disebut cara rampasan. 
  • Panen kedua Dilaksanakan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Selanjutnya, burung akan membuat sarang lagi dan bertelur. Panen kedua ini jangan sekali-kali dilakukan pada waktu telur baru satu butir. Cara panen seperti ini disebut cara buang telur. 
  • Panen ketiga dan keempat dilakukan seperti panen kedua. Keuntungan cara panen empat kali setahun yaitu waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus, dan total produksi sarang burung per tahun lebih banyak. 
  • Kelemahan cara ini yaitu tidak baik bagi pelestarian burung walet karena tidak ada peremajaan. Bila dilakukan terus menerus, burung walet kian menyusut jumlahnya dan lama kelamaan burung akan merasa terganggu karena burung mempunyai naluri untuk mempertahankan jenisnya. Akibatnya burung tersebut akan pindahmencari tempat baru yang lebih aman. Disamping itu, sarang menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur, sebagai bahan sarang, tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur. 

2. Panen Tiga Kali Setahun

Cara panen seperti ini dilakukan untuk gedung-gedung walet yang sudah berjalan cukup lama, tetapi masih diperlukan penambahan populasi. Dalam setahun, pengambilan sarang dilakukan tiga kali,yaitu panen pertama, kedua, dan ketiga.

  • Panen pertama Dilakukan dengan cara penetasan, yaitu setelah telur-telur walet menetas dan dapat terbang mencari makan sendiri. Biasanya, pada panen pertama ini kualitas sarang burung kurang bagus karena warna sarangnya berubah menjadi kehitam-hitaman, terutama sarang yang melekat pada dinding gua yang periode ini, bisa diharapkan populasi penghuni gedung walet semakin bertambah, dengan menetasnya telur-telur walet.
  • Panen kedua Panen kedua dilakukan dengan cara rampasan. Sarang dipetik ketika masih kosong belum terisi telur. Pemetikan dilakukan menjelang musim berbiak. Cara seperti ini dilakukan dengan maksud untuk merangsang burung tersebut agar mau membangun sarangnya dalam waktu yang lebih cepat. Dengan adanya rangsangan ini, burung walet akan melipat gandakan produksi air liurnya dan dalam waktu 40 hari sarang sudah selesai. Bila dilihat dari kualitasnya, hasil panen kedua agak baik bila dibandingkan dengan panen pertama. Sarang burung menjadi lebih putih sebab belum tercampur oleh kotoran anak burung, tetapi bobotnya ringan dan volumenya kecil. 
  • Panen ketiga Panen ketiga dilakukan dengan cara buang telur. Sarang burung dipungut sesudah berisi dua butir telur, tetapi belum menetas. Telur dibuang atau dijual. Kualitas dan bobot sarangnya lebih baik daripada panen pertama dan kedua, namun bentuk sarangnya tidak sempurna. 

Kelebihann sistem panen tiga kali setahun ini adalah sebagai berikut.

  1. Dengan cara penetasan pada panen pertama, maka telur-telurnya dapat menggantikan walet tua yang pindah tempat atau dan mati. Dengan demikian, ada peremajaan burung walet pada gedung tersebut. 
  • Hasil panen pada tahun berikutnya semakin meningkat karena populasi burung dalam gedung semakin banyak. Bertambah banyaknya populasi ini karena jumlah walet tua yang pindah atau mati lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah anak walet yang baru menetas. 
  • Dengan adanya sistem buang telur pada panen ketiga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet. Akan tetapi, dengan cara panen tiga kali setahun ini, pemilik gedung harus benar-benar jeli dalam memperhatikan musim. Biasanya, panen pertama dilaksanakan pada musim huj an karena pada musim hujan akan tersedia makanan yang berlimpah untuk anak burung yang baru menetas. Disamping itu, produksi sarang burung sepanjang tahun mutunya berbeda-beda, tergantung musimnya.

3. Panen Dua Kali Setahun

Panen dengan pola seperti ini sangat tepat untuk gedung walet baru atau yang masih perlu dikembangkan populasinya. Panen dilakukan setiap enam bulan sekali. Baik panen pertama maupun panen kedua, dilakukan setelah telur walet menetas dan anak burung tersebut mampu terbang mencari makan sendiri. Meskipun bentuk sarangnya sempurna, namun mutu hasil panennya sangat rendah, kotor, berwarna kehitam-hitaman, dan harganya sangat rendah.

Harga sarang burung walet di salah satu online marketplace mencapai Rp 350 ribu per 17 gram. Itu berarti 1 gramnya dijual dengan harga Rp 20 ribuan. Jadi, kalau sekilo, harganya bisa mencapai Rp 20 jutaan.

Sayangnya, mustahil ada yang jual sebanyak 1 kilogram. Soalnya barang ini langka banget. Minimal pembelian sarang burung walet itu 17 gram.

Harga sarang burung walet bisa semahal itu tentu bukan tanpa alasan. Burung walet sendiri dikenal sebagai burung yang unik. Burung ini mudah sekali dikenali dari bentuk sayap dan ekornya yang meruncing bagaikan sabit.

Hebatnya, burung walet menggunakan air liurnya buat bikin sarang. Usut punya usut ternyata sarang burung walet dari air liur ini punya banyak manfaat. Tentu saja ini salah satunya yang bikin harga sarang burung walet mahal.

1. Nilai gizinya sangat tinggi

Harga sarang burung walet bisa begitu mahal karena disebut-sebut punya nilai gizi yang tinggi. Dikutip dari MSN, sarang burung walet punya kandungan protein, antioksidan, kalsium, dan kolagen yang tinggi.

Di Cina sarang burung walet lebih sering dimasak sebagai sup. Diteliti lebih lanjut, ternyata sup sarang burung walet memiliki sejumlah kandungan gizi, seperti:

  • Kalori: 345
  • Lemak: 2 gram
  • Karbohidrat: 31 gram
  • Protein: 50 gram

2. Baik untuk Kesehatan dan Kecantikan

Di balik nilai gizinya yang tinggi, sarang burung walet punya beberapa khasiat buat kesehatan maupun kecantikan. Buat kesehatan, sarang burung walet dapat mengembalikan stamina tubuh wanita, terutama setelah melahirkan.

Khusus ibu hamil, mengkonsumsi sarang burung walet bisa bikin bayi dalam kandungan bersih. Kulit bayi pun jadi sehat, bersih, dan halus.

Paru-paru pun bisa bersih karena sarang burung walet mengandung glyco protein. Kandungan yang satu ini juga bermanfaat buat menjaga daya tahan tubuh dan meregenerasi sel.

3. Sajian di restotan elit

Sejarahnya, sarang burung walet dijadikan bahan olahan sup buat disajikan ke raja di Cina dimasa lampau. Cuman raja dan bangsawan yang bisa menikmatinya karena harga sarang burung walet sangat mahal waktu itu.

Kini, saking lezat rasanya, sarang burung walet dijual sebagai sajian di restoran elite. Seberapa mahalkah sajian burung walet ini?

Dari penelusuran yang dilakukan MoneySmart, Restoran Teratai di Hotel Borobudur menjual menu makanan sarang burung walet dengan harga Rp 228 ribu – Rp 480 ribu. Harga segitu pastinya bisa buat traktir beberapa teman sekaligus tuh kalau belinya bakso.

4. Hasil panen tidak banyak

Waktu panen sarang burung walet paling cepat sebulan dan paling lama tiga bulan sekali. Hasil panennya pun gak kayak hasil panen beras yang bisa berton-ton.

Panen sarang burung walet itu rata-rata 10 kilogram. Kalau lagi bagus, bisa mencapai 30 kilogram. Hasil panen yang gak sebanding dengan permintaan menjadi sebab kenapa sarang burung walet mahal harganya.

Warna dan kualitas dari sarang itu sendiri juga jadi faktor mahalnya sarang burung walet. Kebanyakan orang mencari sarang burung walet yang berwarna putih.

Selain itu, bentuknya juga mempengaruhi harganya. Misalnya aja sarang burung walet berbentuk mangkok lebih mahal ketimbang yang berbentuk segitiga. Kalau yang mangkok dijual dengan harga Rp 12 juta, sedangkan sarang berbentuk segitiga dijual dengan harga Rp 8 juta.

5. Bisnis bermodal besar

Gak nyangka kalau modal bikin sarang burung walet itu sangat besar. Malahan dengan modal tersebut kamu bisa buat beli rumah tipe 36 atau mobil SUV.

Dihitung-hitung, modal buat bikin bangunan yang menjadi sarang burung walet tembus ratusan juta rupiah. Diungkap seorang pembudidaya burung walet, Nor Salihin, kepada Tribunnews, ia menghabiskan dana ratusan juta buat membangun gedung yang jadi sarang burung walet.

Dihitung-hitung lebih rinci, kalau kamu berminat kamu harus keluarkan uang sebanyak Rp 500 juta. Rinciannya, Rp 100 juta buat modal beli tanah. Sementara Rp 400 juta lagi sebagai modal mendirikan bangunannya.

(Visited 125 times, 1 visits today)

Related Articles