fbpx
Suara Peternakan

Harga Ayam di Peternak Anjlok, Peternak Mandiri Lakukan Aksi Unjuk Rasa

Suarapeternakan.com – Jakarta. Ratusan peternak Mandiri berdemo didepan kantor Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution. Peternak mengeluhkan harga ayam hidup kembali anjlok. Kondisi aksi serupa terjadi pada Juni lalu dan diwarnai dengan aksi bagi-bagi ayam gratis diberbagai wilayah di Pulau Jawa.

Jumlah produksi ayam peternak kecil secara nasional adalah 18 juta ekor per minggu, rata-rata berat ayam adalah 1,6 kg. Total 28,8 juta kg dikalikan 52 minggu yaitu menjadi 1.497.600.000 kg per tahun. Dikalikan Rp 1.200 meruoakan estimasi kerugian adalah 1,7 triliun atau dibulatkan menjadi Rp 2 Triliun.

Misalkan populasi 1000 ekor ayam , biaya produksi siap jual Rp 25.000, karena harga anjlok sehingga terjual Rp 18.000. Artinya menanggung kerugian Rp 7.000 per ekor. Bila dikalikan 1000 ekor kerugian mencapai Rp 7 juta per bulan.

Pasokan ayam yang melebihi kebutuhan adalah penyebab gejolak harga. Alasan inilah yang kemudian mendorong Kementrian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengekuarkan kebijakan penarikan 30 persen telur tetas day old chick kelas final stock (DOC FS) dari mesin hatchery di Jawa Tengah.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi dalam orasinya di depan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Kamis, 5 September 2019 mengatakan, harga livebird selalu dibawah biaya pokok produksi peternak yang puncaknya terjadi di Juni 2019 dan kembali terjadi di Agustus 2019. Berbagai upaya dilakukan dan disuarakan peternak kepada pemerintah, termasuk upaya antisipasi untuk menjaga kestabilan harga. Namun tidak pernah ada solusi yang jitu dan berkepanjangan.

Tercatat sejak awal 2019 sampai saat ini, harga pakan berada di kisaran harga Rp6.800-7.400/kg. Untuk harga DOC FS, sejak Agustus 2018 selalu bertengger di harga Rp6.600-Rp6.100 dan berangsur turun pada Juni-Agustus ke harga 4.000.

“Harga livebird juga mencapai titik terendah, upaya pengendalian populasi lewat pemangkasan DOC FS pun ia sebut tidak berdampak banyak. Hal ini selalu diikuti dengan kenaikan harga akivat berkurangnya ketersediaan DOC bagi peternak,” ujar Sugeng dilansir dari ekonomi.bisnis.com.

“Harga livebird juga mencapai titik terendah, upaya pengendalian populasi lewat pemangkasan DOC FS pun ia sebut tidak berdampak banyak. Hal ini selalu diikuti dengan kenaikan harga akibat berkurangnya ketersediaan DOC bagi peternak,” ujarnya dilansir dari ekonomi.bisnis.com.

Dalam aksi tersebut dinilai Ada puluhan rapat koordinasi dan evaluasi yang melibatkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perekonomian sampai Bareskrim Polri untuk menstabilkan harga ayam.

Namun, hal itu dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap peternak ayam. Selain itu, ada berbagai permasalahan yang memperburuk kondisi peternak broiler. Salah satunya, harga sarana produksi ternak (sapronak) terus merangkak naik.

Oleh karena itu, peternak berunjuk rasa. Dalam aksi tersebut, ada lima tuntutan terkait harga ayam yang anjlok. Pertama, menaikan harga ayam hidup minimal di HPP peternak dalam jangka pendek.

Kedua, perlu menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk penataan iklim usaha perunggasan nasional yang berkeadilan dan melindungi peternak rakyat mandiri. Ketiga, perlindungan dan segmentasi pasar ayam segar hanya untuk peternak rakyat mandiri.

Keempat, pembenahan dan penataan hilirisasi usaha perunggasan melalui upaya kewajiban memiliki Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) bagi perusahaan integrasi, seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri (Permentan) 32 Tahun 2017.

Terakhir, membubarkan tim Komisi Ahli Unggas Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian

(Visited 46 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *