fbpx
Suara Peternakan

Geliat Teknologi Digital di Bisnis Peternakan: Ternaknesia, Karapan, dan SmarTernak

SUARAPETERNKAN.COM. – Agribisnis merupakan investasi menarik bagi para pemain asing. Namun, pemerintah masih belum akan memberlakukan aturan ketat bagi penanaman modal pada sektor digital. Pengamat Pertanian Universitas Padjadjaran Rochadi Tawaf menyatakan industri 4.0 adalah wajah baru pada sektor peternakan Indonesia.

Era digital pun mengharuskan peternak rakyat turut serta dalam perkembangan zaman jika tak mau tertinggal oleh perusahaan besar yang terus berinovasi dengan teknologi.

Kewajiban peternak rakyat untuk bertahan di era bisnis digital. Infrastruktur informasi dan teknologi dalam bentuk jaringan internet. Klasterisasi wilayah sesuai spesialisasi dalam peternakan sapi seperti pembagian pembibitan, penggemukan, pemotongan, atau penghasil susu.

Mengaplikasikan teknologi ke bisnis peternakan menjadi solusi yang dilakukan oleh wirausaha muda saat ini untuk mengatasi kendala usahanya. Inovasi teknologi merupakan rintisan perusahaan dibidang peternakan yaitu Ternaknesia, Karapan, dan SmarTernak.

Dilansir dari katadata.co.id,- Inovasi yang dimuncukan inilah yang menjadi jawaban pertanyaan dan permasalahan yang kerap muncul dalam bisnis peternakan. Kunci utama dalam sukses dan berkembangnya usaha peternakan adalah teknologi.

Chief Executive Officer Ternaknesia (CEO) Dalu Nuzlul Kirom mengungkapkan bisnisnya bermula dari keinginan untuk jual hewan kurban pada saat Idul Adha yang kemudian berkembang lebih besar menjadi sebuah rantai suplai.

“Ternaknesia adalah platform digital untuk peternak dan investor peternakan yang menghubungkan akses permodalan, pemasaran, serta manajemen peternak,”kata Dalu di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Dimulai dengan skemapeer-to-peer lendingyang memungkinkan masyarakat luas menjadi investor peternakan. Ternaknesia resmi berjalan pada tahun 2017. Sudah lebih 600 orang investor telah menyuntik pendanaan sebesar Rp 6,5 miliar kepada 10 peternak yang mencakup ribuan hewan ternak seperti sapi, kambing, serta domba di Jawa Timur.

Ketika Ternaknesia berkembang ke arah sistem pemasaran. Para peternak dan investor bisa melakukan penjualan dengan cepat sesuai permintaan dalam aplikasi. Pengguna Ternaknesia juga bisa menggakses sistem laporan online yang dapat berfungsi sebagai laporan pertanggungjawaban pendanaan.

Ternaknesia menggunakan skema bagi hasil dengan jangka waktu enam bulan hingga satu tahun. Investor bisa mendapatkan keuntungan yang bervariasi antara 12% hingga 20%.

Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dapat jadi salah satu sumber investasi dengan pendampingan Ternaknesia.

Beragam layanan yangg dimiliki, bisnis ini bisa menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan di sektor peternakan. Target Dalu bisa menjaring generasi muda sebagai pengguna Ternaknesia sebab dianggap lebih cepat menyerap ide serta keterbukaan terhadap perubahan cepat.  Dengan demikian bisnis ternak berbasis digital diharapkan bisa terus berekspansi mengikuti kebutuhan masyarakat.

Ada juga Inovasi SmarTernak. Co-Founder SmarTernak Andri Yadi mengatakan pihaknya memanfaatkan teknologi untuk membaca pergerakan hewan ternak, terutama sapi.

Pengamatan perilaku hewan ternak juga dinilai dapat memudahkan peternak karena fitur yang ditawarkan bukan hanya data aktivitas sapi, tetapi juga kondisi kesehatan sapi seperti berat, suhu tubuh, temperatur, dan pengukuran lainnya berbasis Internet of Things (IoT).

Alat  pemantau yang dikalungkan ke leher sapi. Berfungsi memberikan peringatan kepada pengguna jika ada pihak lain yang mencoba memanipulasi hewan. SmarTernak juga menyewakan hewan ternak dengan harga US$ 11 per sapi per bulan dengan minimum penyewaan 100 sapi dan jangka waktu minimal 2 tahun.

Pendataan bisa digunakan untuk membaca pola perilaku ke depan. SmarTernak memiliki fitur notifikasi jika hewan ternak mengalami sakit, jatuh, atau mati.

Peralatan SmarTernak dirancang menggunakan baterei dan tenaga surya. Dalam pemasaran produknya, Andri mengaku telah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan sedang dalam proses penjajakan dengan PT Astra Agro Lestari Tbk.

Inovasi karapan merupakan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang toko peternakan online. Karapan memanfaatkan data dan riset untuk jadi mesin jasa dengan formula penggunaan sistem blockchain. Co-Founder Karapan Badrut Tamam Hikmawan menyatakan penelitian adalah kunci dalam peningkatan kinerja dan pemanfaatan kesempatan bisnis.

Selain menjual produk ternak, seperti daging sapi, Karapan juga menawarkan layanan dengan pemanfaatan pakan untuk memberi keuntungan bagi peternak. Seekor sapi misalnya, bisa menghasilkan setidaknya 20 kilogram pupuk kompos per hari dengan harga jual Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram, meski perawatannya bertambah mahal jadi Rp 50 ribu per sapi.

Keuntungan yang bisa didapat peternak dari pemanfaatan pupuk kompos untuk pakan bisa mencapai Rp 150 ribu sampai Rp 350 ribu per hari. Hingga saat ini Karapan telah bermitra dengan 3.000 peternak di Jawa Timur.

Deputi Kerja Sama Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Wisnu Wijaya Soedibjo mengapresiasi upaya digitalisasi bidang peternakan yang dilakukan ketiga perusahaan. Wisnu bahkan menyebut ketiganya sebagai pionir digitalisasi dalam sektor peternakan. Sebab, digitalisasi ekonomi bisa memberikan nilai tambah kepada sistem peternakan tradional.

BKPM memperkirakan ada lebih dari Rp 30 triliun investasi akan masuk lewat digitalisasi ekonomi, terutama yang mengarah pada perangkat aplikasi dan sumber daya manusia. Meski begitu, dia belum dapat merinci seberapa besar investasi yang terserap khusus untuk sektor peternakan berbasis digital.

Penggunaan teknologi finansial sebagai inovasi dalam akses permodalan. disrupsi teknologi akan memaksa para peternak rakyat di perdesaan untuk beradaptasi.

Namun, pemerintah harus terus mendukung masyarakat supaya memiliki daya saing dengan penyediaan infrastruktur dan kebutuhan untuk menuju digitalisasi. Salah satu program yang disorot adalah Desa Model Digital sesuai Program Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Sumber: katadata.co.id

(Visited 92 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *