fbpx
Suara Peternakan

Fakultas Peternakan Unhas Terima Penghargaan pada Temu Kandang Nasional 2019

Suarapeternakan.com – PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk menggelar Temu Kandang Nasional 2019. Acara ini digelar sebagai forum komunikasi dan silahturahmi Teaching Farm antara Perguruan Tinggi dan PT. Charoen Pokphand Indonesia.

Acara yang digelar di Kantor Pusat PT. Charoen Pokphand Indonesia, Ancol, Jakarta Utara ini dihadiri oleh rektor dari beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia serta jajaran Direksi PT. Charoen Pokphand Indonesia.

Pada kesempatan tersebut Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin menerima Penghargaan Teaching Farm Closed House Ayam Broiler Berprestasi dari PT Charoen Pokphand Indonesia. Penghargaan ini diterima oleh dekan Fakultas Peternakan Unhas Prof.Dr.Ir Lellah Rahim, M.Sc pada acara Temu Kandang Nasional (16/10/2019).

Kegiatan ini dihadiri oleh 10 Fakultas Peternakan yang ada di Indonesia. Dibuka secara resmi oleh Bapak Jendral (Purn) Dr. Moeldoko, S.Ip, Kepala Staf Kantor Kepresidenan Republik Indonesia.

PT Charoen Phokpand Indonesia, Tbk juga menghibahkan tiga kandang closed house berkapasitas 20 ribu ekor ke tiga universitas untuk kegiatan riset pengembangan budidaya unggas di dalam negeri. Tiga universitas yang mendapatkan hibah di antaranya Universitas Udayana, Universitas Brawijaya, serta Universitas Sebelas Maret.

PT. Charoen Pokphand Indonesia sebagai bagian dari industri perunggasan di Indonesia selama hampir Setengah abad, merasa sudah saatnya untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada kalangan akademis, melalui metode Teaching Farm.

Melansir dari bisnisekonomi.com, Presiden Direktur Charoen Pokphand Indonesia Tjiu Thomas Effendy mengemukakan sebelumnya perusahaan  juga telah menghibahkan tujuh kandang closed house untuk tujuh perguruan tinggi dalam negeri lainnya.

“Kita tahu industri peternakan kini sudah bertransformasi. Sekarang sudah zamannya closed house,” tutur Thomas

Pemanfaatan closed house dalam pengembangbiakan unggas disebut Thomas lebih efisien dibanding sistem open house yang masih dipertahankan oleh sebagian besar peternak mandiri dalam negeri. Dengan suhu yang bisa diatur sesuai kebutuhan unggas, risiko kematian selama perawatan dapat ditekan. 

Masa penggemukan unggas sampai masa panen pun disebutnya lebih pendek dibanding perawatan dengan sistem open house.

“Kematian ayam siap potong [livebird] bisa ditekan sampai di bawah 3% dengan sistem closed house. Selain itu, untuk mencapai berat panen di kisaran 1,7 kilogram sampai 1,8 kilogram, di closed house hanya membutuhkan 30 sampai 32 hari, sementara di open house bisa sampai 35 hari,” ujarnya.

Lewat jalinan kemitraan dengan peternak plasma, Thomas menyebutkan saat ini sekitar 30% mitra emiten dengan kode saham CPIN tersebut telah memanfaatkan sistem closed house. Efisiensi perawatan unggas, sambungnya, sekaligus menjadi salah satu upaya industri perunggasan Indonesia dalam meningkatkan daya saing di tengah wacana masuknya produk unggas asal Brasil. 

Usaha perunggasan dalam negeri pun disebutnya masih mengalami kendala dalam efisiensi dalam biaya pakan.

(Visited 122 times, 1 visits today)

Related Articles