fbpx
Suara Peternakan

Evolusi, Domestikasi Dan Adaptasi Pada Ternak

Suarapeternakan.com – TeoriDarwin mengenai seleksi alam, telah banyak memberi sumbangsih yang sangat berharga bagi pemahaman tentang mekanisme terjadinya evolusi. Dalam kurun waktu evolusi, domestikasil dan adaptasi, saat ini kita mengenal beragam jenis spesies bangsa ternak yang termasuk dalam kelas hewan mamalia dan aves.

Dalam kurun waktu tersebut, telah terjadi interaksi antara iklim, tanah, tanaman dan hewan. Masa lalu, pergetakan kulit bumi telah menyebabkan perubahan letak geografis dan topografis, distribusi lautan dan datatan, pergerakan udara dan iklim. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan perubahan distribusi dan mewujudkan keberagaman hewan maupun tanaman yang kita kenal sekarang.

Dalam keberagaman tersebut tedapat kesamaan dalam proses (fisiologis) yang berlangsung dalam tubuh. Proses-proses tersebut pada dasarnya mengikuti kaidah-kaidah fisika dan kimiawi, yang ditujukan untuk mempertahankan keadaan lingkungan internal tubuh relatif tetap, homeostasis, sebagai respons yang sesuai yang dipicu oleh perubahan keadaan eksternal tubuh.

Keadaan fisiologis seekor hewan-ternak adalah bagian dari fenotipe-nya yang merupakan hasil interaksi antara bangun genetiknya, genotipe, dengan lingkungan. Genotipe adalah produk dari perubahan secara evolusioner dalam suatu kelompok organisme populasi atau spesies yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Seekor hewan-ternak dapat merubah perilakunya sebagai akibat belajar dari pengalaman, atau respons fsiologisnya karena terjadi modifikasi fenotipe. Pada akhirnya, fenotipe (struktural, fungsional, dan perilaku). Dalam interaksinya mempengaruhi interaksi lingkungannya.

Sekelompok organisme dalam suatu populasi, fenotipe yang berbeda dapat menimbulkan perubahan genotipe. Respon fisiologis ternak atau hewan dengan lingkungan atau hidupnya merupakan fentipnya. Respons-respons fisilogis tersebut bukan hanya ditentukan oleh genotipe, akan tetapi juga oleh bagaimana gen diatur, terutama dalam memberikan respons terhadap lingkungan luar.

Genotipe satu individu memiliki kapasitas menghasilkan banyak variasi sifat-sifat yang berbeda mulai tingkat seluler sampai pada tingkat organisme. Sekalipun setiap sel yang dihasilkan setelah fertilisasi memiliki gen yang sama, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, sel-sel tersebut berkembang menjadi jaringan-organ yang berbeda. Proses pembentukan jaringan-jaringan, morfogenesis, berlangsung dengan pola tertentu.

Contohnya pada perkembangan telur katak setelah fertilisasi menjadi Seekor berudu, yang memiliki insang dan ekor. Proses perkembangan Selanjutnya, metammfosis, adalah memicu pembentukan jantung dan kaki, dan kematian sel-sel yang membentuk insang dan ekor. Sehingga genotipe senantiasa mengendalikan rangkaian proses perkembangan tersebut.

Genotipe melakukan kontrol perubahan fenotipe dalam responsnya terhadap keadaan fisiologis dan lingkungan. Seperti pada perubahan ekspresi gen-gen memungkinkan ukuran dan kekuatan otot berubah sesuai dengan latihan yang dilakukan. Perbedaan-perbedaan dalam genotipe diantara hewan nampaknya merupakan pusat keberagaman fenotipe di mana seleksi alam berlangsung.

Potensi yang dimiliki setiap genotipe dapat diekspresikan dalam multi-fenotipe, bergantung pada kondisi lingkungan di mama hewan berada, dan sering kali arahnya tidak dapat diperkirakan. Misalnya jika ternak kembar identik dipelihara pada tempat yang berbeda, terdapat kemungkinan bahwa yang seekor bertumbuh lebih tinggi dibandingkan kembarannya. Banyak faktor lingkungan yang memungkinkan terjadinya perbedaan fenotipe dari kedua hewan kembar tersebut. Yaitu ketersediaan pakan, iklim, dan manajemen. Kemampuan satu genotipe menghasilkan lebih dari satu fenotipe disebut phenotypic plasticity. Tergantung pada keadaan lingkungan, perkembangan plastisitas fenotipe ini dapat bersifat reversibel dan irreversible.

Secara biologis, sekelompok individu hewan yang memiliki kemampuan untuk berkembang biak (bereproduksi secara seksual) antara satu dengan lainnya dan atau dapat ,berkembang biak dengan kelompok lain dari spesies yang sama. Anggota dari spesies yang sama memiliki Ciri-ciri morfologi, fisiologi dan ekologi yang sama, menghuni daerah geografis yang sama, dan memiliki mekanisme isolasi yang sama yang secara alami mencegah perkawinan dengan spesies lain.  

Anggota dalam satu populasi cenderung untuk melakukan perkawinan di antara mereka sendiri, dan setiap anggota memiliki pool gen, yaitu kumpulan semua gen dan alela yang dimiliki oleh semua individu dalam suatu populasi. Pool gen merupakan unit evolusi terkecil. Perubahan dalam pool gen (pasangan dan frekuensi) merupakan sumber variasi dan terdapat dalam keseimbangan; akan tetapi, sebagian besar populasi di alam ini terdapat di bawah pengaruh salah satu atau lebih dari empat kekuatan yang mempengaruhi keseimbangan dan membentuk variasi baru, yaitu mutasi, migrasi, seleksi alam, dan penyimpangan genetik (genetic drift).

Genetic drift merupakan penyimpangan genetik yang terjadi secara acak, yang menyebabkan perubahan frekuensi genotipe tertentu dari satu populasi, dan berakibat pada perubahan yang substansial dalam fenotipe. Genetic drift ini kebanyakan terjadi pada populasi yang kecil, dan terjadi secara kebetulan bukan merupakan wujud dari ketegaran (fitness).

Sebagai ilustrasi, suatu kebakaran hutan telah menyebabkan kematian sebagian besar anggota populasi; beberapa yang berhasil tetap hidup setelah peristiwa menunjukkan perbedaan frekuensi genotipe dengan populasi tetuanya.

Setelah berlangsung dalam sejumlah generasi, karakteristik populasi yang dihasilkan menunjukkan perbedaan dari populasi tetuanya yang terjadi bukan karena seleksi alami ataupun ketegaran. Seleksi alum merupakan satu-satunya kekuatan yang membawa variabilitas gen yang terdapat dalam keselarasan dengan lingkungan, menghentikan dampak negatif kekuatan lain, dan hasilnya tergantung pada interaksi antara lingkungan dan populasi.

Lingkungan tidak merata, “seleksi disruptif atau seleksi keseimbangan menghasilkan populasi polimorf, kehadiran beberapa fenotipe.

Price (2002} mendefinisikan domestikasi sebagai proses di mana satu populasi hewan menjadi teradaptasi terhadap manusia dan terhadap lingkungan tangkapan (captivity) oleh beberapa kombinasi perubahan genetik yang terjadi dari generasi ke generasi, dan telah menginduksi perkembangan yang terjadi selama setiap generasi. Genetik dan lingkungan berinteraksi menghasilkan adaptasi fenotipe. Adaptasi fenotipe terhadap lingkungan tangkapan berlangsung berdasarkan proses evolusi.

Hanya sedikit tempat di permukaan bumi ini yang terus menerus secara alami menjadi tempat yang optimum bagi ternak dan hewan domestik lainnya. Dalam kehidupan di alam bebas, hewan memiliki kemampuan untuk berpindah dan memilih lingkungan hidup yang nyaman baginya dapat hidup dan berkembang biak. Untuk kepentingan memenuhi sementara kebutuhan manusia, lingkungan memberikan pengaruh.

Lingkungan mencakup unsur-unsur klimatik dan campur tangan manusia. Pengaruh langsung iklim terhadap produktivits ternak dapat berlangsung melalui beberapa jalan, yaitu :

(a) reseptor kulit dalam hubungannya dengan sistem saraf pusat yang menyalurkan rangsangan untuk mempengaruhi sistem neuro-endokrin melalui hipotalamus dan pituitari;

(b) perubahan suhu tubuh yang mengakibatkan perubahan suhu darah yang memasuki daerah hipotalamus; dan

(c) perubahan suhu tubuh menyebabkan perubahan aktivitas metabolisme. Hipotalamus menempati posisi kunci dalam regulasi proses tirotropin dihambat; atau

(d) impuls saraf aferen yang menuju pusat pendinginan di hipotalamus anterior menghambat produksi tirotropin.

Penurunan fungsi kelenjar pituitari anterior mungkin sekali merupakan akibat utama dari suhu lingkungan yang tinggi. Ketidak-cukupan produksi dan sekresi gonadotropin (FSH dan LH) selanjutnya menyebabkan ketidak-cukupan produksi dan sekresi estrogen maupun progesteron, dan sebagai konsekuensi menyebabkan kegagalan reproduksi. Penurunan LH dapat menyebabkan kegagalan ovulasi disertai kegagalan perkembangan korpus luteum, atau attopi sel-sel interstitial pada testis.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, I.W., and Goldstein, L. 1972. Nitrogen Metabolism and Environment. Academic Press, London, New York.

Cosh, DE, and Sinervo, B. 2004. Field PhysiOIOgy : Physiological insight from animal in nature. Ann. Rw.Physiol., 66 : 209-238.

Dawson, W.R., Pinshow, B., Bartholomew, G.A., Seely, M.K., Shkolnik, A., Shoemaker, V.H., and Teeri, LA. 1989. What’s special about the physiological ecology of desert organism‘L [Arid Environments, 17 : 131-143.

Drever, 1.1. 1997. GeochemistryafNatuml Water : Surface and Underground Water Environments. 3″ ed., Englewood Cliffs, Prentice Hall, NY.

Feder, M.E., Bennett, A.F., and Huey, RB. 2000. Evolusionary Physiology. Ann.Rw.Ecol.Sys., 31 2 315-341

(Visited 10 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *