fbpx
Suara Peternakan

Domba Palu, Ternak Lokal Asal Sulawesi Tengah

SuaraPeternakan.com – Domba Palu merupakan rumpun domba lokal Indonesia yang telah dibudidayakan secara turun temurun, sehingga menjadi kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia. Domba Palu mempunyai keseragaman bentuk fisik yang khas dibandingkan dengan domba asli dan domba lokal lain.

Domba palu menjadi ciri khas dari Tanah Kaili. Jumlah populasinya tersisa kurang lebih 500 ekor yang tersebar diwilayah lembah Palu, Sulawesi Tengah. Pengembangannya sejak tahun 1970. Hingga saat ini, populasinya semakin menurun dan tersisa ratusan ekor saja.

Bukti otentik atas keabsahan sebagai rumpun domba palu berdasarkan surat keputusan menteri pertanian RI nomor 697/Kpts/PD 410/2/2013 tertanggal 12 Februari 2013.

Adapun asal-usul domba palu yaiti pada abad ke-18 domba kirmani yang berasal dari Persia dikembangkan
secara turun-temurun.

Wilayah sebaran : Provinsi Sulawesi Tengah.
Sifat kualitatif
Warna : Kepala : putih, hitam, cokelat, putih hitam, putih cokelat.
Tubuh : putih, hitam, cokelat, dan kombinasi putih hitam, dan cokelat putih.

Bentuk Kepala : ringan dan kecil dengan profil hidung yang lurus.
Telinga : kecil sampai sedang, mengarah ke bawah sampai menukik, dan di bagian ujung mengecil.
Tanduk : jantan: panjang melebar ke samping, melingkar ke bawah dan ujung menukik ke atas, melingkar ke bawah dan betina tidak bertanduk.

Punggung : lurus, dan sebagian agak melengkung, dan semakin ke
belakang semakim tinggi sampai pinggul.
Ekor : jantan: besar (lebar), ekor gemuk ujung melingkar ke bawah, ekor gemuk ujung melingkar ke atas, ekor gemuk ujung melingkar dan mengecil,
ekor gemuk ujung melingkar ke arah bawah.
betina: tipis dan bagian ujung mengecil mengarah ke bawah.

Bulu : keriting, dan pendek lurus.
Sifat keindukan : baik.

Sifat kuantitatif :
a. Ukuran tubuh:
Tinggi pundak : jantan: 59,0 ± 0,8 cm.
betina: 57,8 ± 0,4 cm.

Panjang badan : jantan: 87,8 ± 0,9 cm.
betina: 86,4 ± 0,4 cm.

Lingkar dada : jantan: 73,1 ± 1,7 cm.
betina: 69,2 ± 0,7 cm.

Bobot badan : jantan: 30,3 ± 2,1 kg.
betina: 28,0 ± 0,7 kg.

Umur dewasa kelamin : 8-10 bulan.
Umur beranak pertama : 12-18 bulan.

Lama bunting : 150-159 hari.
Lama berahi : 24-36 jam.
Siklus berahi : 17-19 hari.

Berahi setelah beranak : 3-4 bulan.
Jumlah anak sekelahiran : 1-2 ekor.

Sistem pemeliharaan Domba Palu umumnya masih tradisional yakni digembalakan di padang penggembalaan umum disekitar kawasan pemeliharaan domba yang setiap hari hanya merumput (mengkonsumsi) hijauan pakan yang terbatas baik kualitas maupun kuantitas.

Domba lokal Palu mempunyai beberapa keunggulan antara lain:

dapat bertahan hidup dengan pakan berkualitas rendah, 
mampu bertahan hidup pada tekanan iklim relatif panas, 
daya tahan yang tinggi terhadap penyakit dan parasit.

Keunggulan Domba Palu lainnya adalah kualitas dagingnya cukup baik dengan sebaran partikel lemak (marbling) yang rendah dan tidak berbau khas sehingga daging domba ini sangat digemari oleh konsumen meskipun harga jual hidup maupun dagingnya cukup tinggi.

Tingginya angka pemotongan Domba Palu yang diikuti dengan angka kelahiran rendah mengakibatkan kecenderungan terjadi penurunan jumlah populasi. Jumlah populasi tahun 2011 hanya 8.565 ekor, menurun dratis dari tahun 2007 yang mencapai 17.457 ekor.

Domba Palu merupakan sumberdaya genetik (plasma nutfah) ternak yang dapat dikembangkan untuk pengembangan dan perbaikan mutu genetik bangsa domba secara regional dengan tetap menjaga kemurnian dan kelestariannya.

Sumber: http://bibit.ditjenpkh.pertanian.go.id

(Visited 60 times, 1 visits today)

Related Articles