fbpx

COVID-19 : Ancaman atau Peluang Industri Perunggasan Indonesia?

Suarapeternakan.com, Makassar.  Permasalahan terbesar di usaha peternakan di negara kita saat ini adalah akurasi data dan komitmen pelaksanaan aturan yang telah ada.

Tetapi secara garis besar permasalahan dan solusi, dapat dijabarkan secara singkat dan sederhana seperti di bawah ini :

Terjadi over supplay pada moment tertentu sehingga terjadi penurunan harga hingga jauh dari HPP (harga pokok produksi). Hal ini bisa terjadi karena produksi yang meningkat dan/atau permintaan pasar yang menurun (disebabkan oleh daya beli yang menurun dan tidak ada momentum atau acara besar yang dilakukan). Perpaduan 2 penyebab diatas akan memperburuk kondisi.

Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan kontrol produksi GP, PS dan DOC di sektor produsen dengan ketat. Data 3 – 5 tahun terakhir ini sdh bisa jadi acuan untuk melakukan analisa produksi. Dengan melihat kondisi harga ayam tertinggi dan terendah pada angka berapa produksi di hulu? Kapasitas breeder dan hatchery yang sudah terlalu besar untuk kondisi saat ini karena prediksi pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada, sehingga mungkin 3 atau 5 tahun ke depan bisa sesuai dengan produksi dan kebutuhan dengan catatan ada peningkatan konsumsi yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yg sehat.

Bahan baku pakan yang masih sebagian besar impor sehingga mudah terdampak dengan fluktuasi dollar. Bahan baku utama seperti jagung, produksi dalam negeri masih belum mencukupi baik dari segi kuantitas maupun kualitas sehingga perlu sinergi untuk meningkatkan produksi secara efisien. Dengan peningkatan efisiensi produksi jagung dalam negeri secara otomatis akan menurunkan biaya pokok produksi jagung sehingga margin petani jagung tetap tinggi dan harga bisa bersaing dengan jagung impor.

Hampir sebagian besar perusahaan pakan besar menginginkan impor karena harga dan kualitas jagung impor lebih terjaga. Sehingga perbaikan di sektor pertanian jagung harus segera ditingkatkan supaya dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.(harga pokok produksi petani jagung di Brazil hampir 2x lebih efisien dibandingkan negara kita sehingga mereka dapat menjual dengan harga yang lebih kompetitif yang tentunya tetap mendapatkan dukungan dari pemerintahnya)

Perlindungan Peternak rakyat.  Permasalahan terbesar peternakan hari ini adalah efisiensi. Perusahaan besar mampu lebih unggul karena mereka melakukan efisiensi yang lebih baik dibandingkan peternak rakyat. Tentu mereka dapat melakukan efisiensi itu karena akses modal yang lebih baik, volume usaha yang lebih besar, sumberdaya manusia yang lebih baik. Peternak rakyat (kecil) kesulitan bersaing baik dari segi permodalan, volume usaha yang lebih kecil dan sumberdaya manusia yang terbatas. Sehingga pemerintah harus melindungi dengan membantu mempermudah permodalan dengan tetap melakukan pendampingan supaya bantuan permodalan tepat guna, menyatukan peternak kecil dalam satu wadah (bisa koperasi atau model lain) yang dikelola secara profesional sehingga mereka bisa menjadi seperti perusahaan dengan pemilik anggota peternak itu sendiri. Dengan terhimpunnya mereka dalam satu wadah, secara volume usaha mereka semakin besar sehingga bergaining mereka semakin kuat dan efisiensi usaha akan semakin baik.

Peningkatan sumberdaya manusia akan mudah dilakukan secara berkelompok. Proteksi pasar buat peternak kecil tetap dibutuhkan sampai mereka dapat berkembang dengan baik dengan mengontrol dengan ketat kebijakan perusahan besar wajib memiliki pemotongan yang konsumennya adalah pasar modern.

Ancaman resesi perunggasan di tengah pandemi COVID-19, Hampir semua sektor akan mengalami goncangan di tengah pandemi COVID-19 ini. Salah satu yang terancam adalah dunia perunggasan. Perunggasan memiliki peranan besar karena merupakan salah satu sumber bahan makanan pokok dan banyak menyerap tenaga kerja. Sehingga perlu perhatian pemerintah yang serius. Pemerintah perlu memberikan stimulus yang dapat membantu para peternak.

Harga produk perunggasan saat ini jauh di bawah harga pokok produksi karena menurunnya daya beli masyarakat. Efek domino dari penurunan daya beli masyarakat secara berkepanjangan tentu akan mengancam industri perunggasan secara keseluruhan. Salah satu yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah melalui bantuan non tunai kepada masyarakat melalui produk perunggasan dengan membeli dari produk peternak supaya kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi dalam kondisi wabah COVID-19 dan produksi peternak tetap terserap.

Dalam kondisi sekarang ini semua akan merasakan tekanan yang luar biasa baik peternak kecil maupun peternak besar. Semua harus mempersiakan mitigasi resiko untuk tetap bertahan ditengah ketidakpastian kondisi sekarang.

Mari saling membantu dalam melewati masa sulit ini. Selalu ada keajaiban Tuhan kepada hambanya yang tetap berusaha dan bersabar.

Ir. Andiwawang, S.Pt, IPM
Ir. Andiwawang, S.Pt, IPM

Editor

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

(Visited 181 times, 1 visits today)