fbpx
Suara Peternakan

BUMN Peternakan Ini Raih Keuntungan Rp25 Miliar dengan Jualan Ayam

SuaraPeternakan.com – PT Berdikari (Persero) mengalokasikan investasi hingga akhir tahun 2019 sekitar Rp 100 miliar untuk memperkuat bisnis peternakan sapi dan ayam. BUMN pangan dan peternakan ini berencana akan menambah kapasitas peternakan sapi dan ayam, serta ekspansi ke bisnis pakan ayam.

BUMN Peternakan ini mencatatkan laba bersih pada semester I 2019 sebesar Rp 25 miliar. Capaian itu naik 82 persen dibanding tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp 15 miliar.

Direktur Utama Berdikari, Eko Taufik mengatakan Pendapatan ini didorong dari bisnis ayam dan sapi. Semester 1 bisnis ayam jadi tulang punggung. Peternakan sapi merubah bisnis model dengan managemen sebelumnya.

Terus ekspansi di bisnis ayam dengan rencana membuka peternakan baru. Sekarang sudah ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten dengan model kemitraan. Bentuk kemitraan kami juga tidak mengikat. Dan, pasar juga bereaksi bahwa mereka semakin secure dengan bisnis BUMN.

“Berdikari adalah BUMN dengan tata kelola yang transparan dan tidak mau merusak mata rantai industri unggas nasional. Dan, dengan masuknya Berdikari, ada kepastian harga dan pasokan, tanpa monipoli atau pemaksaan,” kata Eko.

Menurut Eko, bentuk kemitraannya  tidak mengikat. Pasar juga bereaksi bahwa mereka semakin secure dengan bisnis BUMN. Ini yang kami canangkan. Bahwa, Berdikari adalah BUMN dengan tata kelola yang transparan dan tidak mau merusak mata rantai industri unggas nasional. Dan, dengan masuknya Berdikari, ada kepastian harga dan pasokan, tanpa monipoli atau pemaksaan.

Sedangkan, untuk bisnis peternakan sapi, ujar Eko, Berdikari akan memperkuat skema kemitraan dengan peternak rakyat. Sebab, kata dia, budaya peternakan dan pertanian di Indonesia adalah bisnis skala rakyat. Meski, keberadaan industri besar diakui tetap diperlukan.

Dengan konsep itu, kata Eko, bisnis peternakan penggemukan sapi tidak lagi dikuasai oleh feedlotter besar.

“Kami juga telah mendapatkan izin dari Kementerian Pertanian untuk melakukan impor sapi bakalan sejumlah 30 ribu ekor yang rencananya akan selesai pada akhir 2019. Sampai dengan saat ini, realisasi impor sudah sekitar 9 ribu ekor sapi bakalan dari Australia,” kata Eko.

Saat ini, Berdikari memiliki dua peternakan DOC grand parent stock (GPS). Kedua peternakan tersebut berlokasi di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Pasuruan, Jawa Timur, dengan populasi masing-masing sekitar 54.000 dan 36.000 ekor GPS. 

Adapun rata-rata produksi DOC PS untuk kedua peternakan tersebut mencapai 120.000 ekor setiap bulannya. Selain peternakan DOC GPS, Berdikari tercatat telah memiliki dua farm DOC PS yang terletak di Sukabumi dan Medan dengan populasi masing-masing sekitar 25.000 ekor. Rencana penambahan peternakan DOC PS akan mengambil lokasi di Kabupaten Ciamis dengan kapasitas populasi sebanyak 25.000 ekor. 

Dari ketiga peternakan DOC PS tersebut, target produksi FS tiap bulan diperkirakan bisa mencapai sekitar 320.0000 ekor.

Eko menjelaskan bisnis peternakan ayam terintegrasi lewat pengembangan ternak baru induk ayam sendiri cukup menjanjikan terlepas dari gejolak harga ayam di sisi hilir yang sempat mengemuka beberapa waktu lalu. Permintaan akan DOC ia sebut tak terganggu karena pengadaan DOC lewat impor masih diatur pemerintah dan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri.

Dihimpun dari berbagai sumber

(Visited 84 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *