fbpx
Suara Peternakan

Berkas Perkara Penyelundup Satwa Dilindungi Asal Lampung Dilimpahkan Ke Kejaksaan

SuaraPeternakan.com – Berkas perkara empat tersangka penyelundup 40 satwa dilindungi, telah diserahkan Balai Penegakan Hukum Kementrian Lingkungan Hidup (Gakkum KLHK) ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau. Dalam berkas tersebut memuat empat orang tersangka. Keempat tersangka ditangkap saat hendak menyelundupkan 40 ekor satwa dilindungi ke negeri Jiran Malaysia pada akhir Maret 2019 lalu.

Dikutip dari Antara, Kepala Balai Gakkum Wilayah Sumatera Eduwar Hutapea mengatakan, Berkas tahap satu sudah kita serahkan ke Kejaksaan, keempat tersangka berasal dari Lampung. Saat ini masih menunggu petunjuk jaksa.

“Selain empat tersangka YA (28), TR (21), AN (24) dan SW (36), petugas juga mengamankan EF (48) warga Bengkalis,” kata Eduwar, Senin (15/4/2019). Namun, EF masih berstatus saksi karena hingga saat ini Gakkum KLHK belum memiliki alat bukti kuat untuk menjerat EF sebagai tersangka. Sebelumnya, Petugas Bea dan Cukai Kota Dumai serta TNI AL berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 40 satwa dilindungi.

38 diantar satwa itu merupakan jenis unggas yang terdiri dari tujuh ekor cenderawasih minor (Paradisea minor), dua ekor cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), dua ekor cenderawasih raja (Cicinnurus regius), dua cenderawasih botak (Cicinnurus republica).

Dan ada juga jenis burung kakak tua raja (Probosciger aterrimus) dan tiga ekor burung julang emas Sulawesi (Acetos cassidix). Eduwar juga turut menyebut nama seorang pelaku lainnya berinisial E. Ia diduga kuat sebagai orang yang menyuruh para pelaku untuk membawa satwa tersebut dari Provinsi Lampung menuju Kota Dumai. “Pemiliknya masih kita gali terus. Untuk sementara ada seorang nama inisial E. Itulah yang order dua unit kendaraan tersebut,” jelasnya.

Lebih jauh, dari pemeriksaan sementara juga terungkap, ternyata 38 jenis unggas dan dua primata itu berasal dari Jawa Timur. Hewa tersebut dikirim ke Lampung. Setiba di Lampung, baru kemudian dikirim ke Riau.

Namun, Edo mengatakan ada dua tim berbeda yang menjalankan pengiriman itu. “Berbeda mereka, yang dari Jawa Timur ke Lampung dan Lampung ke Riau itu berbeda orangnya. Seperti sistem terputus,” pungkasnya.

Sumber: ANTARA

(Visited 45 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *