fbpx
Suara Peternakan

Begini Cara Pemilihan Calon Bakalan dan Pembibitan Kelinci

SuaraPeternakan.com – Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup dihampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu dan sebagainya.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut penjelasan mengenai pemelihan calon bakalan dan pembibitan kelinci;

Pemilihan Calon Bakalan

Kelinci yang sehat mempunyai sifat yang lincah, aktif, gerakannya energy, mempunyai nafsu makan tinggi, mata bulat bercahaya, selaput mata bersih, serta pandangan yang jernih dan cerah. Kepala sesuai dengan ukuran badan, berkaki normal, kokoh kuat dan berkuku pendek, badan bulat, dada lebar, dan padat.

Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak.

Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:

a. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.

b. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul.

c. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.

Pembibitan Kelinci

Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara.

Betina mulai dikawinkan pada umur 5,5 bulan. Jika belum mau, hendaknya perkawinan kelinci dicoba kembali setiap 10 hari hingga umur 6,5 bulan. Betina dikawinkan kembali jika anaknya telah berumur 3-7 minggu. Seekor pejantan dusediakan untuk 10 betina dan dalam waktu 3 hari berturut-turut hanya dikawinkan sebanyak sekali saja.

Perkawinan dilakukan pada pagi atau sore hari di kandang pejantan dan dibiarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan. Setelah itu, pejantan dipisahkan. Lama kebuntingan pada induk sekitar 30-32 hari. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi, sekitar 6-10 ekor.    

Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci yang sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu.

Perawatan bibit menentukan kualitas induk yang baik pula, oleh karena itu perawatan utama yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari gangguan luar.

(Visited 42 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *