fbpx
Suara Peternakan

Aman dari Virus Flu Babi, Indonesia Siap Perbesar Pangsa Ekspor

Suarapeternakan.com – Upaya pencegahan terus dilakukan menyusul mudahnya penularan virus Flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) pada populasi babi, salah satunya dengan memperketat proses pengawasan melalui badan karantina. ASF telah menyebar ke sejumlah negara Asia Tenggara, namun sampai saat ini belum ditemukan di Indonesia.

Direktur kesehatan hewan Kementrian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengemukakan bahwa, pihaknya belum menerima laporan kematian ternak babi akibat virus tersebut.  Upaya pencegahan terus dilakukan menyusul mudahnya penularan virus ini pada populasi babi, salah satunya adalah memperketat proses pengawasan melalui badan karantina.

Dikutip dari bisnis.com ketut Hari Suyasa, Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI)  Bali, khusus untuk Bali pada 2018 tercatat populasi babi diangka sekitar 690.095 ekor. Bahwa wabah tersebut belim merambah di Indonesia.

Wabah ini sudah menyebar ke berbagai negara Asean. Meski sejauh ini Indonesia masih tergolong bebas dalam kategori flu babi afrika. Namun hal ini tidak disepelekan. Risiko perlu diwaspadai sebab masuknya olehan daginh babi yang dibawa oleh turis dari negara-negara dengan laporan wabah tersebut.

Adapun media penyebaran virus lainnya bisa melalui tra sportasi umum, sisa makanan (swill feeding) dari transportasi umum, seperti pesawatbterbang dan kapan yang dimanfaatkan untuk pakan ternak babi.

Pemanfaatan makanan sisa tersebut merupakan bisnis yang cukup besar, lengkap dengan pelaku usaha yabg berkecimpung didalamnya. Namun makanan sisa tersebut harus melalui proses pemanasan terlebih dahulu untuk menghentikan perkembangan virus.

Swill feeding berbahaya jika sisa makanan tersebut berasal dari penerbanhan atau pelayaran dari negara dengan kasus ASF. Swiil feed ini besar, namun ada yang memanfaatkan makanan sisa ini untuk bisnis pakan.

Seperti diberitakan oleh Reuters yang dikutip dari bisnis.com, bahwa Filipina adalah negara terbaru Asia  Tenggara yang melaporkan dugaan masuknya ASF setekah biro industri hewan setempat melihtat adanya peningkatan jumlah kematian babi di peternak.

Telah ada Puluhan negara yang masuk daftar larangan daging babi ke negara beribu kota di Manila termasuk daging dari Vietnam, Laos, China dan Mongolia.

Dengan demikian, kesempatan untuk Indonesia dalam eksport daging babi. Kendati demikian, kalangan peternak babi menilai perlu adanya pembenahan dalam tata kelola peternakan dalam negeri, apabila pemerintah ingin menggenjot ekspor komoditas tersebut dengan tetap menyertakan peternak rakyat.

Malaysia yang sangat serius menggarap pasar ekspor yang sudah disiapkan sejak 10 tahun lalu. Malaysia telah membuat kawasan khusus peternakan babi dan biosecurity dN pengolahan limbah yang modern. Dukungan dari pemerintah malaysia yang menjamin dan memudahkan akses dan penyediaan infrastruktur tersebut.

Menurut Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyana, persyaratan ekspor tidak mudah. Ada standar kelayakan yang harus dipenuhi seperti tata kelola biosecurity dan pengolahan limbahnya. Peernakan babi dalam negeri didominasi oleh peternak rakyat, seperti di Bali masih didominasi sistem semi tradisional dan semi modern.

Apakah manfaat ekspor dinikmati juga dengan masyarakat rakyat, bukan hanya pelaku peternak besar saja. Karena kelompok pelaku usaha skala besar yang memiliki kualifikasi pengiriman ke luar negeri. Hari berharap, pemerintah dapat merangkul peternak rakyat jika rencana perlias ekspor berjalan. Peremajaan genetik juga perlu dikembangkan dikalangan peternak.

Selain di Afrika virus ASF telah ditemukan di negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja.

Menurut Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani mengatakan, produksi babi di Indonesia surplus di negara tujuan ekspor mana pun. Pasar utama ekspor babi dalam bentuk hidup dan daging dipegang oleh Singapura.

Kementrian Pertanian mencatat nilai ekspor babi ke negara tersebut sejak 2014 samoai semester I/2019 mencapai Rp3,04 triliun. Sementara nilai total ekspor babi hidup dari BPS menunjukkan nilai Rp4,31 triliun (kurs Rp14.00/US$) sepanjang 2013-2017.

Indonesia mayoritas berpenduduk Islam, sehingga daging babi buka sumber protein utama. Rata-rata konsumsi daging babi, menurut BPS, hanya berkisar Diangka 0,22 kg per kapita pertahun selama periode 2013-2017 dengan konsumsi tertinggi pada 2017 diangka 0,26 kg per kapita per tahun.

Konsumsi daging babi merupakan bagian dari budaya yang tak terpisah dari masyarakat Bali. Konsumsi babi juga tren di daerah Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Sumber : Bisnis.com

(Visited 42 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *