fbpx
Suara Peternakan

Karapan Sapi, Pesta Sekaligus Tradisi Kebanggaan Masyarakat Madura

Suarapeternakan.com – Karapan sapi telah banyak membawa citra Madura sebagai daerah yang memiliki tradisi dan budaya yang luar biasa. Lomba karapan sapi di Kabupaten Sumenep tiap tahun adalah wujud perhatian dan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya karapan sapi.

Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yaitu sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.

Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura biasanya menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahunnya. Dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan,Pemekaan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Pada bulan November tahun 2013, penyelenggaraan Piala Presiden berganti nama menjadi Piala Gubernur.

Awal mula kerapan sapi dilatarbelakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan mata pencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang.

Pelaksanaan Karapan Sapi dibagi dalam empat babak, yaitu: babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya.

Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi di kelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang menempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.

Babak ke tiga atau semifinal. Pada babak ini masing-masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan juara I, II, dan III dari kelompok kalah.

Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis.

Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang.

Karapan sapi betina memang diadakan oleh petani menjelang musim tanam. Alat seperti bajak sawah digunakan untuk membantu menggemburkan tanah sawah. Selain itu karapan sapi betina ini biasanya memang diadakan di lahan-lahan petani yang akan ditanami.

Setelah semua sapi siap, aksesoris karapan dilepas agar tak mengganggu pergerakan sapi. Semua sapi digiring ke arah arena pacuan. Semua yang akan mengikuti karapan diarak mengelilingi lapangan diiringi musik tradisional ‘saronen’. Baru kemudian sapi-sapi tersebut dikarap atau diadu kecepatannya.

Alat pemacu hanya berupa pecut kecil. Sangat beda pastinya dengan karapan sapi jantan yang hampir seluruh bagian tubuh sapi diolesi berbagai ramuan yang panas dan pedas. Pemacunya pun alat yang bisa melukai sapi jantan.

Tidak hanya menjadi pesta rakyat bagi masyarakat Madura, tradisi Kerapan Sapi Merah menjadi daya tarik sendiri sehingga banyak turis yang datang spesial datang untuk melihat tradisi lokal ini.

(Visited 74 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *