fbpx
Suara Peternakan

Kontes Kecantikan Sapi Sonok, Budaya Ekonomi Kreatif Masyarakat Madura

Suarapeternakan.com – Pulau Madura memiliki tradisi Karapan Sapi  dan Sapi Sonok. Karapan Sapi yang menonjolkan kekuatan kecepatan dalam berlari sapi jantan, Sedangkan Sapi Sonok justru menonjolkan sisi kecantikan dan keindahan sapi betina yang dihias berbagai aksesoris.

Kerapan sapi, sapinya jantan dan yang ditonjolkan kekuatan dan kecepatan berlari. Sementara Sapi Sonok didandan bak seperti pengantin dan lebih memperlihatkan keindahan dan keserasian pasangan sapi. Leggokan dan kelihaian sapi saat berjalan dari start hingga menginjakkan kakinya di ‘pattokan’ (sebatang kayu melintas) di finish tak lepas dengan iringan musik tradisional yaitu Saronen.

Sapi Sonok

Apabila tiba pementasan, adapun kategorikan sebagai Sapi Sonok, yakni, Sapi harus memiliki tinggi badan yang cukup ideal serta bentuk tubuhnya harus sempurna mulai dari mata, hidung, telinga, hingga pinggul. Penilaian tersebut harus berbeda dengan sapi yang umumnya biasa dipakai membajak, bercocok tanam atau disembelih.

Dalam menjaga nilai-nilai budaya warisan lelehur, membina dan melestarikan serta mengembangkan budaya sape sonok yang sudah menjadi warisan turun temurun.

Tradisi sapi sonok adalah tradisi Budaya Madura yang terdiri dari dua pasangan sapi betina dihias dengan beberapa aksesoris seperti kalung, salempang, berwarna kuning kombinasi merah. Pasangan sapi itu digandengkan dengan menggunakan ‘pangonong’ atau (rangkaian kayu berukir).

Sapi Sonok merupakan lambang budaya yang harus dijaga kelestariannya dan dikembangkan oleh para generasi berikutnya.

Di Sumenep, Madura, kontes Sapi Sonok digelar bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Sumenep dan juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, lebih-lebih bagi pemilik sapi.

Jangan heran mendapati sapi sonok dengan harga mahal. Sebab Sapi ini terlihat cantik tentu tidak mudah, pasti membutuhkan perawatan dan ada perlakuan husus yang dilakukan peternak.

Tradisi Sapi Sonok berawal dari kebiasan petani di pedesaan. Pada masa dahulu, masyarakat terbiasa memandikan sapi secara bersama-sama, kemudian mereka berembuk untuk “berkompetisi” mencari sapi yang paling bersih dengan cara mengikatkannya pada ‘maggenan’ atau tonggak kayu.

Dari kebiasaan seperti itu, kemudian sapi itu dilombakan untuk melihat hewan ternak yang paling bagus dan bersih atau disebut dengan ‘Cangkean’, yang kemudian dalam perkembangannya dikenal dengan kontes sapi sonok.

Menurut sejarahnya, kontes sapi sonok pertama kali digelar di Dempo, dan Waru Pamekasan. Da juga yang beranggapan di Batuputih, Sumenep.

Biaya sapi sonok terbilang mahal, sehingga peternak harus telaten dan serius agar tidak mengalami kerugian. Sebelum diikutkan kontes, Sapi Sonok biasanya dilatih lebih dahulu dan diperlakukan khusus.

Selama tiga bulan latihan, minimal dua kali tiap minggu. Tergantung seringnya sapi itu dilatih, satu bulan juga bisa. Seperti pemeliharaan sapi pada umumnya, Sapi Sonok perlu diberi nutrisi khusus. Setiap seminggu sekali, perlu dikasih jamu yang dicampur susu, madu asli serta puluhan butir telur. Sehingga wajar, jika kemudian harga Sapi Sonok mahal.

Tak hanya itu, setiap hari Sapi Sonok juga harus dimandikan supaya tetap bersih dan indah. Pun cara memandikannya lebih elit ketimbang manusia, lengkap menggunakan sampo dan sabun mandi. Tak ketinggalan, Sapi Sonok juga perlu diperiksa kesehatannya setiap saat.

Beragam keindahan dan kemolekan tubuh sapi. Harganya pun beragam, jika sapi masih kecil, harganya berkisar Rp 20 juta hingga Rp 50 juta. Sementara sapi yang istimewa harganya berkisar Rp 50 juta hingga Rp 150 juta. Bahkan jenis super bisa mencapai diatas 200 juta.

Untuk itu,  masyarakat hususnya generasi penerus agar terus peduli terhadap budaya leluhur agar tetap lestari sehingga tak hilang ditelan masa.

(Visited 55 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *