fbpx
Suara Peternakan

Perkandangan dan Proses Pembuatan Stup Lebah Madu

Suarapeternakan.com – Lebah madu hidup dalam suatu kelompok yang disebut koloni, dimana setiap sarang selalu hanya dihuni oleh satu koloni yang terdiri dari tiga tingkat kasta, yaitu ratu lebah, lebah pekerja, dan lebah jantan.

Ratu lebah yaitu jenis lebah yang kelamin betina, bertugas hanya menghasilkan telur.

Lebah pekerja merupakan jenis lebah berkelamin betina, tetapi tidak menghasilkan telur. Tugasnya mencari pakan dan merawat koloni.

Lebah jantan merupakan jenis lebah berkelamin jantan dan bertugas mengawini ratu lebah.

Lebah termasuk hewan yang masuk dalam kelas insekta famili Apini dan genus Apis. Spesiesnya pun bermacam-macam. Model Budidaya Lebah Madu Budidaya lebah madu di Indonesia terdiri dari lebah lokal (Apis cerana) dan lebah impor (A. millifera). Bentuk dan teknik manajemen koloni tergantung jenis lebah madu yang dikelolanya.

Menurut penelitian  Adelina dan Yumantoko (2008) bahwa budidaya menetap (Stationary Beekeeping) dan Budidaya Berpindah (Migratory Beekeeping).

Budidaya menetap (Stationary Beekeeping)  yakni jenis lebah madu yang dibudidayakan secara menetap umumnya adalah jenis lokal Apis cerana. Keberhasilan budidaya menetap sangat tergantung dari ketersediaan sumber pakan sepanjang tahun dan masa pembungaannya.

Selain itu, untuk meningkatkan produktivitas koloni maka koloni lebah harus diletakkan menyebar sedemikian rupa sehingga setiap koloni dapat memperoleh pakan secara maksimal.

Budidaya Berpindah (Migratory Beekeeping) Jenis lebah madu yang dibudidayakan secara berpindah adalah jenis Apis. mellifera. Lebah digembalakan secara berpindahpindah mengikuti musim pembungaan tanaman. Akan lebih baik apabila di satu lokasi tersedia tanaman penghasil serbuksari dan nektar dalam jumlah banyak karena akan menekan biaya angon.

Hasil produksi budidaya berpindah tergantung dari luas dan banyaknya jenis tanaman sumber pakan yang dapat dimanfaatkan untuk menggembalakan lebah madu. Budidaya berpindah membutuhkan informasi dan pengetahuan musim pembungaan tumbuhan serta peta dan data luasan tanaman pakan.

Peta dan data tersebut digunakan untuk menentukan kemana koloni lebah akan digembalakan. Hal tersebut akan dilakukan berulang setiap tahun, baik lokasi maupun tata urutan waktu penggembalaannya sehingga membentuk siklus tahunan.

Proses Pemindahan Lebah Madu

Menurut Situmorang dan Hasanuddin (2014) menyatakan bahwa, pemilihan lokasi perlebahan dan penentuan lokasi perlebahan (apiari) perlu mempertimbangkan beberapa hal diantaranya, yaitu: ketersediaan pakan, pendataan jenis-jenis tanaman penghasil nektar dan pollen, umur tanaman, kepadatan tanaman, serta kesuburannya.

Kondisi lokasi apiari sangat erat kaitannya dengan penempatan jumlah stup pemeliharaan persatuan luasnya (Ha). Hal ini dimaksudkan untuk mencapai daya dukung optimal apiari terhadap jumlah stup/koloni yang ada.

Kompetisi lebah dalam mencari pakan dapat menyebabkan turunnya produksi atau terganggunya keseimbangan populasi lebah dan bahkan memungkinkan hijrahnya lebah. Lebah madu biasanya mencari makan dalam radius 3 km dari sarang, tetapi kadang-kadang mereka melakukan perjalanan jauh jika memang harus. Syarat lokasi perlebahan yang standar yaitu:

a. Tanah harus bebas pupuk sintetis, pestisida, herbisida dan fungisida, serta bebas tanaman rekayasa genetika b. Sebaiknya jauh dari lokasi pertanian konvensional untuk mencegah potensi terjadinya kontaminasi. c. Jarak lokasi pertanian intensif sebaiknya minimal 3 km dari lokasi perlebahan. d. Sarang yang ditempatkan di wilayah pemukiman harus mendapatkan peraturan yang lebih khusus dari penduduk. e. Kawasan peternakan lebah harus memiliki drainase dan sirkulasi udara yang baik. f. Lebah membutuhkan air, jadi mereka harus dapat menemukan air dalam radius 500 m.

Areal perlebahan harus dipersiapkan sebelumnya sebelum menempatkan kotak-kotak sarang, karena aroma dari penyiangan biasanya mengganggu lebah.

Pembuatan Stup Stup yang digunakan dalam budidaya lebah madu ada dua, yaitu: Pembuatan Stup Tradisional Pada zaman dahulu orang beternak lebah dengan membuat kandang dari kayu atau dari jerami gandum yang dipintal berbentuk keranjang.

Pada umumnya masyarakat desa sekitar hutan memelihara lebah madu dengan menggunakan gelodok. Gelodok dibuat dengan meniru rumah-rumah lebah yang terdapat dirongga-rongga batang pohon besar atau gua yang terlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah tiruan itu dibuat dari batang kelapa, kayu randu, kayu pucung, atau bahan kayu lain yang berkayu lunak.

Batang yang digunakan berbentuk silinder berukuran panjang cm yang dibelah dua. Bagian tengah diambil isinya agar kalau belahan ditangkupkan terbentuk suatu rongga didalamnya. Ujungnya ditutup tempurung kelapa atau papan yang dilubangi bagian tengahnya. Gelodok digantung di wuwungan rumah, di dahan pohon yang besar, didekat pohon bambu, atau tempat lain dimana banyak lebah berkeliaran.

Setelah ditempati koloni lebah gelodok bisa dipindahkan kesamping rumah dengan digantung memakai tali. Pemindahan dilakukan ketika sore atau malam hari. Saat itu, seluruh lebah telah berkumpul didalam sarang sehingga tidak ada lebah yang tercecer. Glodok Madu yang berasal dari gelodok sulit untuk dipanen karena sisiran atau sarangnya tak dapat dipisahkan dari dinding kayu glodok. Untuk mengambil madu sarang atau sisiran harus dirusak.

Permasalahan yang dihadapi bahwa madu yang bercampur dengan larva dan telur lebah, dan memisahkan ketiganya sulit dilakukan. Akibatnya, telur dan larva lebah banyak yang mati. Gelodok kurang praktis dipakai untuk sarang lebah karena lebih banyak kerugiannya dibanding dengan keuntungannya.

Kerugiannya antara lain: a. Lebah lebih mudah meninggalkan sarang, banyak terjadi gangguan hama dan penyakit, serta produksi madunya rendah. b. Perkembangan lebah juga terganggu karena ruangannya terbatas. c. Ukuran gelodok yang berbeda-beda menyebabkan sisiran sarang tidak berkembang wajar. Peternak juga sulit memeriksa keadaan lebahnya. d. Pemetikan hasil agak sulit karena sarang lebah melekat di dinding gelodok yang melengkung.

Pembuatan Stup Modern

Mengenal Stup Modern Budidaya lebah secara modern menggunakan stup dari kayu yang berisi bingkai-bingkai sisiran. Cara ini memberikan keuntungan yang lebih baik karena mudah pengolahannya dan pemanenan madu tidak merusak tempat sarang. Pembuatannya dimulai dengan memperhatikan lebah madu di alam dalam membuat sarang. Lebah madu yabng membuat sarang yang terdiri dari sisiran yang selalu dibangun sejajar satu sama lain.

Jarak antar dua sisiran sarag selalu tetap yaitu 1,0-1,2 cm. Sisir dibuat dari malam (lilin lebah) yang dilengkapi dengan akomodasi pertumbuhan, eraman, dan penyimpanan madu serta pollen. Berdasarkan itu pembuatan kandang lebah madu berbentuk peti dengan bingkai sarang didalamnya yang dapat diangkat dan dipindah.

Keuntungan stup modern adalah praktis dipakai, perawatan lebah mudah, pengambilan hasil mudah, produksi madu yang dihasilkan berlipat ganda, dan gangguan hama dan penyakit jarang terjadi. Stup modern merupakan gua tiruan yang disusun menjadi dua tingkat atau lebih. Didalamnya diberi tempat untuk bersarang bagi lebah kondisi pembuatan kandang yang baik ini memberikan efek ratu lebah tidak bisa meninggalkan stup sarangnya.

Peristiwa lebah meninggalkan sarang secara koloni sangat jarang terjadi dengan ditempatkannya lebah disarang modern Membuat Stup Modern Stup modern terbuat dari kayu albasia. Bagian-bagiannya terdiri atas: a. Bagian dasar (alas) kotak, berfungsi sebagai pintu keluar-masuk lebah. b. Kotak sarang peneluran, berguna untuk memperbanyak jumlah anggota koloni lebah. c. Penyakat (pengasingan) ratu, berperan untuk mencegah lebah ratu berkeliaran keluar sarang. d. Kotak sarang madu, berfungsi khusus untuk memproduksi madu dan royal jelly. e. Penyekat kassa diletakkan diantara kotak sarang khusus madu dan penutup stup untuk memudahkan pengontrolan.

Penutup stup yang dilapisi seng, serta frame (bingkai) yang memberi fondasi dan alat perangkap tepung sari. Frame terdiri dari frame untuk sarang peneluran, frame untuk madu, frame untuk royal jelly, frame untuk perbanyakan ratu, dan frame untuk penyimpanan sirup gula saat paceklik bunga.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan stup modern lebah madu, yaitu: a. Bahan stup yang baik terbuat dari kayu yang sudah kering dan tidak berbau menyengat. Hal ini menghindari pindahnya koloni lebah karena tidak betah dan pengaruh dari bau kayu tersebut. b. Untuk menjaga keawetan stup, bagian luar kayu dapat dicat dengan cat eksterior berwarna terang. Hal ini bertujuan untuk melindungi kayu dari pelapukan.

c. Dibutuhkan penggantian sisiran secara reguler untuk meminimalkan paparan bahan kimia ini. Setidaknya 20% sisiran (sekitar 2-3 sisiran) dari kotak stup harus diganti setiap tahun sehingga tidak pernah ada sarang yang lebih dari 5 tahun. d. Persiapan sarang dilakukan dengan menggosok bagian dalam sarang dengan propolis atau dengan lilin lebah yang sudah diencerkan atau dilunakkan.

Kotak sarang juga dapat ditempatkan pada tanah, menggantungkannya pada batang pohon, atau ditempatkan diatas dudukan (standar). Dasar pijakan harus kuat jika ingin ditempatkan dalam posisi bertingkat. Yang diperhatikan adalah ketinggian penempatan sarang.

Langkah langkah pembuatan stup modern

Langkah-langkah pembuatan stup modern untuk lebah madu adalah sebagai berikut :

a. Mula-mula dibuat kotak dari papan setebal 2 cmdengan ukuran bagian dalamnya 34cm x 18cm x 7.5cm. bagian depan berukuran 18 x 7.5cm. disisi bawah dibuat lubang berukuran 5 x 1cm. Lubang ini nantinya dipakai sebagai jalan keluar-masuk lebah.

b. Kotak penutup alasberukuran 40 x 24cm. Alas tampak lebih menonjol dibanding dengan kotak diatasnya. Ini merupakan dasar kandang.

c. Kotak peneluran dibuat dengan ukuran bagian dalam 34 x 18 x 13cm. Bagian luar sebelah bawah kotak sebaiknya diberi bilah penghalang berkeliling. Lebar bilah penghalang 10cm, ditempelkan pada kotak selebar 4cm, sehingga tersisa 6cm. Sisa lebih ini nantinya berfungsi sebagai penyambung antar kotak penelurandan kotak dasar supaya tidak bergeser tetapi mudah diangkat atau dipindahkan.

d. Dibagian dalam kotak peneluran pada sisi bidang yang berukuran 18cm dipasang bilah dengan tebal 1.5cm dan lebar 2cm.

Bilah berguna sebagai penggantung tempat sisiran sarang pada bingkai. e. Ditengah-tengah sisi bidang yang berukuran 18 cm diberi lubang sebesar 3.7mm. dibagian bawah sebelah luarnya diberi papan tenggeran secukupnya. Papan ini dipakai untuk bertengger sementara sebelu lebah pekerja masuk lubang atau terbang mencari pakan.

f. Disalah satu dinding dibuatkan pintu untuk memudahkan perawatan. g. Buatlah kotak sarang madu yang ukuran dalamnya 34 x 18 x 15cm. Cara membuatnya sama dengan cara membuat kotak peneluran, lengakap dengan lubang keluar masuk, bilah penghalang, bilah penggantung dan pintu.

h. Antara kotak peneluran dan kotak sarang madu dibuatkan penyekat dari papan atau kawat kassa berukuran 34 x 18 cm untuk menghalangi lebah ratu masuk dalam kotak madu. Tetapi bisa diberi lubang dengan ukuran 3.7mm agar lebah pekerja tetap leluasa bergerak.

i. Membuat bingkai-bingkai untuk tempat sisiran sarang lebah. Bahan dari kayu dan bangunan segi empat. Ukurannya disesuaikan dengan kotak peneluran dan sarang madu. Tebal bingkai 1 cm dan lebar 2 cm. Bingkai yang menggantung dalam kotak dibuat menonjol kekiri 1 cm dan kekanan 1 cm.

j. Diatas bingkai kotak sarang madu diberi penyekat kawat kassa agar semua lebah tidak dapat naik keatas.

k. Bagian paling atas diberi penutup. Dibawah atap diberi ruang angin cukup lebar tetapi ditutup kawat kassa. Atap kandang diberi bilah penghalang di keliling luarnya agar mudah diangkat atau dilepaskan dan dipasang lagi pada kotak sarang madu.

Penempatan Stup Budidaya Apis mellifera

Setelah penentuan lokasi adalah penempatan stup/kotak-kotak pemeliharaan pada lokasi pemeliharaan. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan stup lebah di lokasi pemeliharaan dan/atau penggembalaan, yaitu: a. Stup sebaiknya diletakkan pada tempat-tempat terbuka, menghadap ke timur, menghadap matahari dan membelakangi jalan pemeriksaan.

Stup diletakkan di atas bangku standar dengan ketinggian ± 50 cm dari tanah. Jika lokasi berbukit, stup letaknya harus lebih rendah dari sumber makanan. c. Tiang penyangga (bangku standar) stup diberi minyak pelumas, air atau obat semut agar tidak diganggu serangga. d. Stup/koloni sebaiknya terlindung dari terik matahari dan air hujan. e. Kotak stup dapat disusun berderet dengan jarak 1 s/d 1,5 meter. f. Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka. Daerah sekitar banyak tanamtanaman yang berbunga. Tersedianya cukup pakan lebah 1,5 2 km Apis mallefera. g. Kondisi ini optimum untuk lebah melakukan segala kegiatan.

Suhu ideal yang cocok bagi lebah adalah sekitar 26 oC, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas 10 oC lebah masih beraktifitas. Di lereng pegunungan/dataran tinggi yang bersuhu normal (25 oC) seperti Malang dan Bandung.

Stup yang baik untuk produksi madu pada lebah madu adalah stup modern. Stup tradisional kurang baik untuk lebah madu, karena madu yang dihasilkan sulit dipisahkan dari sisi gelodok.

Pembuatan stup modern juga harus memperhatikan beberapa hal, yaitu suhu, letak tempat, tersedianya banyak air, jauh dari gangguan, serta jauh dari ladang sayuran yang sering menggunakan pestisida.

Sebaiknya lebah dibuatkan stup modern, karena stup modern jauh lebih baik dari pada stup tradisional. Stup modern dapat membantu lebah menghasilkan produksi madu yang tinggi dan dapat mencegah gangguan penyakit menyerang lebah.

(Visited 330 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *