fbpx
Suara Peternakan

Pemeliharaan Kesehatan Kelinci

SuaraPeternakan.com – Kelinci merupakan salah satu pilihan hewan peliharaan yang menggemaskan. Dulunya kelinci termasuk hewan liar yang hidup di Afrika hingga daratan Eropa. Di Indonesia, kelinci berasal dari bahasa Belanda, yaitu konijntje yang berarti “anak kelinci”. Hal ini menunjukkan bahwa kelinci dibawa ke Indonesia bersama dengan pemerintah kolonial.

Kelinci adalah hewan peliharaan yang unik. Mereka memiliki kebutuhan khusus untuk menjalani hidup yang panjang, bahagia dan sehat. Pada umumnya umur kelinci mencapai 5 hingga 10 tahun bahkan bisa lebih.

Menjaga kelinci-kelinci kesayangan tetap dalam keadaan sehat adalah merupakan salah satu tugas dalam memelihara atau beternak kelinci. Memperhatikan kesehatan kelinci merupakan bagian dari yang baik dan benar.

Dalam merawat kelinci termasuk jenis angora perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Umur kelinci, cara merawat kelinci yang masih kecil (anak) sudah pasti berbeda dengan kelinci dewasa. Perawatan anak kelinci jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan perawatan pada kelinci dewasa bahkan indukan sekalipun.

2. Jenis kelinci, setiap kelinci memiliki karakteristik sendiri, yang berasal dari eropa (daerah dingin) biasanya memiliki bulu yang panjang. Dan kelinci asia biasanya memiliki bulu yang pendek.

3. Karakteristik ini menyebabkan perbedaan pada teknik perawatan terutama dalam hal menjaga kebersihan bulu.

4. Kelinci hamil, pada kondisi ini mereka membutuhkan asupan mineral 2 kali lebih banyak dari biasanya.

5. Kondisi kesehatan, cara merawat kelinci yang lagi sakit berbeda dengan yang sehat. Pada konsisi sakit maka peternak harus mengetahui secara pasti penyakit yang diderita tersebut. Caranya dengan membawa ke dokter hewan atau petugas kesehatan hewan di daerahnya. Pada saat sakit tentu saja banyak hal yang harus dihindari, seperti; memandikan kelinci, memberi pakan jenis tertentu (tergantung pada penyakitnya).

Adapun Penyakit yang sering timbul dalam pemeliharaan kelinci sebagai berikut;

a. Bisul, terjadi karena gumpalan darah dibawah kulit. Pengobatan yang bias dilakukan yaitu membedah dan mengeluarkan darah dalam bisul. Untuk mencegah timbulnya infeksi, bekas luka sebaiknya dioleskan dengan Iodium.

b. Eksim, penyebabnya adalah kotoran yang menempel di kulit. Untuk pengobatan, salep atau bedak salicyl bias digunakan.

c. Kudis, penyebabnya yaitu Darcoptes scabiei, tandai dengan munculnya koreng ditubuh. Pengobatan kudis pada kelinci bias dilakukan dengan salep antibiotik.

d. Mastitis, susu yang keluar tidak maksimal atau tidak dapat keluar. Selain itu, putting juga tampak mengeras dan panas jika dipegang. Hendaknya, kelinci dihindarkan untuk tidak menyapih anak terlalu mendadak.

e. Pilek, penyebabnya virus dengan gejala hidung berair. Untuk mengobati pilek, bias dilakukan dengan menyemprotkan antiseptic pada hidung kelinci.

f. Radang paru-paru, penyebabnya bakteri Pasteurella multocida dengan gejala sesak nafas serta mata dan telinga kebiruan. Pengobatannya bias dilakukan dengan memberikan Sul-Q-nox.

g. Berak darah, penyebabnya protozoa Eimeira dengan gejala napsu makan hilang, berat badan terus menurun, perut membesar, dan diare darah. Jika kelinci terserang berak darah, segera obati dengan Sulfaquinxalin. Dosis yang digunakan 12 ml dalam 1 liter air. Aplikasi dengan cara diminumkan.

(Visited 55 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *