fbpx
Suara Peternakan

Mahasiswa Unisma Teliti Kandungan Mikroplastik dalam Bebek

SuaraPeternakan.com – Malang. Tiga mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) mendapat pendanaan PKMPE (Penelitian Eksakta) oleh Kemenristekdikti tentang Analisis Kandungan Mikroplastik dalam Bebek. Tiga mahasiswa tersebut mendapat dana hibah hingga Rp 9 Juta merupakan gabungan antara 2 mahasiswa fakultas Peternakan dan seorang mahasiswa Mipa, yang begitu prihatin terhadap pencemaran lingkungan, terutama terhadap limbah plastik.

Mereka meneliti tingkat pencemaran sampah plastik pada bebek. Hasilnya mengejutkan, dan menggugah kita semua untuk mulai mengurangi penggunaan plastik.

Studi Kajian Pencemaran Drh Nurul Humaida MKes, dosen pembimbing, menyatakan ide awalnya tentang dampak sampah plastik karena selama ini yang mendapat perhatian adalah ikan. Banyak ikan terdampar mati dan di perutnya penuh sampah plastik.

Menurutnya, mikro plastik sudah merambah bebek. Ini bisa dilihat dari isi saluran pencernaannya dan pasir atau tanah di sekitar hewan peliharaan itu hidup, antara lain di zona tanah kering dan di dalam air.

Yustian Dwi Cahyono, mahasiswa Falkultas Peternakan Unisma menyatakan, mereka meneliti di tiga tempat seperti Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Kecamatan Junrejo Kota Batu dan peternak bebek di Kota Malang.

Samplingnya mencapai 30 bebek atau 10 bebek per lokasi. Sampelnya diambil dari sistem peternakan intensif (di kandang) semi intensif (di kandang dan dilepas). Dari tiga jenis itu, ditemukan mikroplastik yang ujung-ujungnya, berdampak pada produksi telur dan pertumbuhan badan pada bebek.

“Ternyata jika dilihat dari mikro plastik yang ada di saluran pencernaan tiap bebek tersebut. Tak terduga, yang di dalam kandang pun terpapar mikro plastik,” ungkapnya.

Menurut juru bicara peneliti, Yustian Dwi Cahyono, idenya muncul tatkala ditemukan mikroplatik dalam usus ikan. Nah kemudian pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau di unggas air?

Penelitian dilakukan di tiga tempat, yakni Kasembon, Junrejo dan Kecamatan Lowokwaru kota Malang yang mengambil sample peternakan intensif. Di Kasembon sendiri peternakan bebek petelur yang saat siang, bebek tersebut dilepas bebas dekat sungai wilayah pemukiman penduduk. Dimana dalam wilayah sungai tersebut banyak ditemukan sampah plastik.

“Junrejo pemeliharan semi intensif digembalakan di sawah. Sedangkan di Lowokwaru wilayah seputar kota peternakan bebek sistem kandang tertutup,” ujar Yustian Dwi.

Penelitian ini masing-masing bebek tersebut dilihat melalui saluran mikroskop. Serta melaui sample saluran pencernaan dan sampel pasir atau tanah di lingkungan kandang.

Yustian Dwi kemudian membeberkan, bebek tersebut dibedah yang kemudian diambil mulai dari eksovakus sampai pada pangkal kolakal. Selanjutnya dibersihkan lalu dihancurkan kemudian dilarutkan dengan cairan KOH 10 %. Tujuannya untuk mengambil ekstrak larutan biologinya. Tahap berikutnya dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam penuh, dengan suhu 60 derajat Celcius. Lalu disaring menggunakan kertas saring wbmen. Hingga tinggal mikro plastik yang tersisa beserta air.

Dari tahapan tadi kemudian dianalisa menggunakan alat khusus dibawah mikroskop pembesaran 40 X dan 100 X. Ternyata dalam tiap sample terdapat mikroplastik di saluran pencernaan bebek.

Mikroplastik sendiri terdapat dua jenis, yaitu fiber  dan film. Jenis fiber merupakan hasil pembuangan plastik jenis tali yang terdapat di tali plastik maupun pakaian yang terpolimerisasi sekunder hingga menjadi fiber. Ada pun jenis mikroplastik film merupakan hasil dari fragmentasi kantong plastik. Juga botol-botol plastik yang teregradasi menjadi mikro plastik jenis film.

Menurut Yustian Dwi, dampak dari mikroplastik ini terhadap bebek sangat fatal. Zat ini akan menetap di dalam ususnya dan menghambat proses pencernaan hingga produksi telur menurun, diiringi pertumbuhan badan yang semakin mengecil. Ini lantaran nutrisi yang dibutuhkan tubuh terhambat oleh mikroplastik.

Penelitian mikroplastik ini pada 30 ekor bebek, dimana tiap jenis kandang diambil sample 10 ekor. “Semua bebek mengandung mikro plastik, namun justru yang kandang kering tingkat kandungan dalam tubuhnya cukup tinggi. Maka kecurigaan kami asal mikroplastik terdapat pada air,” tukas Yustian Dwi.

Dalam sebuah penelitian 2015 lalu, Indonesia penyumbang plastik nomer dua terbesar di dunia. Contoh kasus, ikan Paus yang terdampar di Wakatobi di dalam perutnya terdapat 9,2 Kg sampah plastik.

Yustian Dwi sebelum mengakhiri obrolan berpesan, Pemerintah punya PR besar dalam mengurai sampah plastik, yang selanjutnya mudah terurai dengan netral. Jenis plastik yang beredar di masyarakat saat ini ialah plastik yang tingkat urainya sangat sulit, lantaran plastik yang gampang terurai membutuhkan biaya produksi yang tinggi. Penguraian sampah plastik oleh alam sendiri membutuhkan waktu ratusan tahun.

Judul PKM PE ini sendiri adalah Analisis Kandungan Mikro Plastik pada Bebek. Studi Kasus Tingkat Pencemaran di Ternak Unggas Air.

Terkait pencemaran, Negara Indonesia mendapat rangking ke 2 dalam hal pencemaran lingkungan setelah Cina.

Sumber:  duta.co / unisma.ac.id

(Visited 41 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *