fbpx
Suara Peternakan

Fermentasi Singkong – Cassapro untuk Pakan Ternak, Begini Metode Pengolahannya

SuaraPeternakan.com – Teknologi Cassapro merupakan hasil rekayasa untuk meningkatkan kandungan gizi berbagai bahan baku pakan yang bermutu rendah (cassava, onggok) dengan cara fermentasi sistem padat.

Teknologi Cassapro dapat meningkatkan nilai gizi (kadar protein dan energi, menurunkan kadar serat) dari bahan baku pakan yang bermutu rendah seperti limbah padat cassava. Cassapro dapat menghemat waktu, biaya produksi dan teknologinya mudah diadopsi baik oleh peternak kecil maupun besar.

Inukulum atau starter yang digunakan adalah kapang Aspergillus niger alami aktif. Pada fermentasi padat, tahapan gelatinasi (pengukusan) dihilangkan, sehingga waktu proses menjadi singkat dan biaya produksi menjadi hemat.

Teknologi ini potensial dikembangkan di sentra produksi casava dan kelapa sawit melalui sinergi dengan memanfaatkan limbah padat sebagai bahan baku pakan ternak bergizi tinggi.

Metode pengolahan Cassapro yaitu dengan cara singkong dikupas dan diparut, lalu keringkan dengan sinar matahari untuk menjadi sawut. Setelah menjadi sawut campur dengan air (70%) lalu kukus selama 30 menit dan dinginkan. Setelah dikukus campur dengan mineral sesuai bobot kering umbi singkong dan beri kapang Aspergillus niger 0,2-0,5% (diaduk homogen). Setelah bahan tercampur semua tempatkan pada wadah atau baki plastik ketebalan 3 cm, simpan pada suhu ruang selama 4-5 hari sampai spora (produk fermentasi dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C). Setelah semua proses dilakukan lalu digiling untuk mendapatkan hasil akhirnya.

Dengan menggunakan bahan singkong, urea, Ammonium sulfat, NaH2PO4, KCl, MgSO4 dan (FeSO4)

Teknologi Cassapro potensial dikembangkan pada sentra produksi casava dan kelapa sawit seperti melalui sinergi Program Sistem Integrasi Sawit-Ternak dengan memanfaatkan limbah padatnya sebagai bahan baku untuk dijadikan pakan ternak bergizi tinggi.

Setelah dianalisa kandungan nutriennya, antara onggok dan onggok terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 25,6 dan 18,4%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8 menjadi 36,2%.

Hal ini disebabkan karena selama fermentasi, kapang A. niger memakai zat gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%, dengan menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.

(Visited 102 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *