fbpx
Suara Peternakan

Harga Anjlok hingga Rp 7.000 Per Kg, Ini Seruan UGM Selamatkan Peternak Ayam Broiler

SuaraPeternakan.com– Terkait kondisi harga ayam broiler hidup (live bird) saat ini, Amran meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk dapat menelusuri pemicu rendahnya harga ayam broiler hidup (live bird) di farm gate yang masih jauh di bawah harga acuan, sehingga menimbulkan gejolak di peternak mandiri dan UMKM.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, harga acuan Live Bird (LB) adalah Rp 18.000-Rp 20.000/kg, namun di Jawa Tengah dan Jawa Timur harga LB ada dikisaran Rp. 8000- 10.000, sedangkan harga rataan daging ayam di konsumen mencapai Rp. 35.000-Rp. 40.000.

Meski harga ayam di tingkat peternak merosot, namun harga jual kepada konsumen ditenggarai masih tetap dan belum berubah. Para Peternak ayam merasa khawatir akibat turunya harga ayam yang asalnya Rp11.000 perkilo menjadi Rp7.000 karena harga tersebut membuat para peternak rugi besar.

Kemendag menduga, anjloknya harga ayam di tingkat peternak saat ini lantaran kelebihan pasokan (oversupply) sehingga banyak produksi daging ayam yang tidak terserap di pasar tradisional.

Sejak 5 Maret 2019 lalu, peternak ayam broiler dari berbagai wilayah di Indonesia mendatangi Instana Negara dalam rangka unjuk rasa terkait harga ayam yang terlalu murah. Unjuk rasa ini dihadiri dari berbagai wilayah di Indonesia. Mulai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Kalimantan dan Sulawesi.

Selain unjuk rasa, upaya terus dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut. Pemerintah bersama stakeholder peternak ayam ras terus melakukan rapat kordinasi mengenai harga LB. Namun harga ayam tetap anjlok. Peternak teriak rugi 6 bulan terakhir.

Dikutip dari CNN.com, Gabungan Organisasi Peternak Ayam (Gopan) memperkirakan peternak ayak merugi selama paruh pertama 2019.

“Selama enam bulan terakhir, peternak ayam dalam kondisi merugi, kerugian rata-rata paling tidak Rp2.000 hingga Rp3.000 per kg,” ujar Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/6).

Menurut Sugeng, meski tahun lalu pernah meraup untung, namun harga ayam di tingkat produsen jelang Lebaran sebenarnya sempat menanjak hingga Rp20 ribu per kg karena tingginya permintaan musiman. Namun, usai lebaran, penurunan harga ayam di tingkat peternak makin tajam.

Disebutkan Sugeng, harga jual ayam di tingkat produsen Bogor hanya berkisar Rp9.000 hingga Rp10 ribu per kilogram (kg). Padahal, ongkos produksinya mencapai Rp18.500 per kg.

Harga produksi tidak sesuai dengan harga jual. Perhimpunan Insan Perunggas Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) Jawa Tengah menggelar aksi bagi-bagi ayam hidup gratis di Solo Raya, Semarang, Klaten, dan Jogjakarta dalam menyikapi anjloknya harga ayam.

Dikutip dari kompas.com, Supardal (47) merupakan peternak dari Dusun Gluntung, Desa Patuk, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta, bekerja sebagai peternak ayam potong. Menurutnya, merugikan dirinya sebagai peternak kecil, tetapi berbanding terbalik dengan pedagang yang mendapatkan keuntungan besar.

Para peternak memilih bermitra dengan perusahaan besar dan dirasakan aman. Menurut dia, membagikan ayam bukan solusi terbaik, tetapi menunjukkan kepada masyarakat jika margin antara peternak dan penjual cukup tinggi.

Menyikapi hal tersebut, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menyerukan agar pemerintah segera melakukan langkah kongkrit terkait anjloknya harga ayam broiler hidup (live bird) beberapa waktu terakhir.

Dikutip dari detik dan tirto.id, Dekan Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, Prof Ali Agus saat jumpa pers di UGM pada Rabu 26 Juni 2019. Menurutnya ada lima langkah konkret yang dilakukan pemerintah. Hal ini untuk untuk menyelamatkan para peternak ayam broiler.

Pertama, mengendalikan dan menjaga keseimbangan supply-demand daging ayam broiler. Caranya dengan mengurangi stock produksi bibit (DOC) secara transparan dan terukur.

Kedua pemerintah (harus) segera menetapkan harga acuan atas dan harga acuan bawah baik untuk DOC, pakan, live bird maupun karkas. Sehingga setiap pelaku usaha baik yang di hulu maupun yang di hilir memiliki ruang yang fair dan adil

Harga acuan tersebut secara reguler (juga harus) dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan keadaan.

Ketiga, Fakultas Peternakan UGM menyarankan agar pemerintah menjaga dan meningkatkan proporsi usaha di sektor budidaya, sehingga memungkinkan peternak ayam broiler di sektor budidaya mampu mempertahankan usahanya.

Keempat pemerintah perlu membantu memfasilitasi peternak atau pelaku usaha peternakan untuk memiliki usaha pemotongan (RPA/RPU) dan gudang penyimpanan, disamping untuk infrastruktur perkandangan yang lebih memadai.

Kelima dalam jangka menengah dan panjang (perlu) restrukturisasi industri perunggasan yang efisien, berkeadilan, dan memberikan ruang bagi pemerataan akses berusaha perlu segera dipikirkan secara komprehensif demi menjamin kepastian usaha.

Para peternak ayam boiler diketahui terancam gulung tikar. Ali menyebut hal ini karena selama dua pekan terakhir harga ayam boiler hidup jatuh hingga titik terendah. Dari peternak per kilogram hanya dihargai Rp7.000 sampai Rp9000. Sementara untuk harga produksi setiap kilogram setidaknya dibutuhkan antara Rp16.000 sampai 18.000.

“Sehingga peternak mengalami kerugian besar sekitar 10.000 setiap kilogramnya, bahkan terancam bangkrut dan gulung tikar khusunya di Pulau Jawa,” pungkas Ali.

(Visited 153 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *