fbpx
Suara Peternakan

Empat Tahun, Program Upsus Siwab Sukses Tingkatkan Populasi Sapi

SuaraPeternakan.com – Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) merupakan gerakan nasional sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun sebelumnya guna lebih mendorong pertumbuhan sapi dan kerbau yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Upsus Siwab akan memaksimalkan potensi sapi indukan di dalam negeri untuk dapat terus menghasilkan pedet(anak sapi) dalam rangka menambah populasi ternak nasional.

Upsus Siwab mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka).

Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan Presiden Joko Widodo tercapai pada 2026 mendatang serta mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Terobosan baru Kementerian Pertanian untuk peningkatan sumber protein hewani adalah melalui program Upsus Siwab. Melalui Upsus Siwab dapat meningkatkan populasi sapi sebesar 30% dengan perbaikan genetik dan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.

Propinsi Bali termasuk lokasi awal dalam Sosialisasi Upsus Siwab yang mulai diluncurkan pada tahun 2017. Hal ini dikarenakan Bali sebagai Sentra Pembibitan Sapi Bali.

Program Upsus Siwab yang dikembangkan oleh Kementan berhasil memenuhi kebutuhan daging secara nasional. Program ini juga sebagai solusi permanen dalam menjawab tantangan pemerintah terkait masih rendahnya produksi daging.

“Tanpa terobosan semacam ini, maka populasi ternak sapi dalam negeri akan terus terkuras dan semakin merosot. Karena itu, Upsus SIWAB adalah solusi permanen,” ujar Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa.

Menurut Kariyasa, penyediaan daging wajib dilakukan seiring meningkatnya konsumsi masyarakat. Selain itu, penyediaan ini juga sebagai salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat swasembada protein.

“Maka itu, kebutuhan daging yang berkualitas dan terjangkau harus tetap tersedia dengan baik. Terlebih pendapatan masyarakat juga semakin meningkat,” katanya.

Selain Upsus SIWAB, upaya peningkatan populasi juga dilakukan melalui pengendalian pemotongan sapi betina produktif. Hasilnya, upaya ini mampu menekan pemotongan sapi betina sampai 43 persen.

“Pada tahun 2017, pemotongan sapi betina produktif tercatat 21 ribu ekor dan pada tahun 2018 tinggal 12 ribu ekor. Upaya pengendalian ini akan terus dilakukan agar penambahan pupulasi sapi Indonesia semakin banyak,” katanya.

Kariyasa menambahkan, saat ini pemerintah juga melakukannya kebijakan pengadaan sapi indukan impor, dimana setiap impotir wajib mengimpor 1 ekor indukan betina.

“Yang jelas, Program ini ditujukan untuk mewujudkan komitmen pemerintah dalam pemenuhan pangan asal hewan,” katanya.

Berdasarkan Survei Antar Sensus yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 mencatat, peningkatan populasi ternak sapi dan kerbau mencapai 25,8 persen atau bertambah 3,7 juta ekor untuk periode 2013-2018.

Pada tahun 2013 sendiri populasi sapi dan kerbau hanya 14,24 juta ekor. Namun pada tahun 2014, 2015 dan 2016 jumlahnya meningkat menjadi 14,61 juta ekor, 15,30 juta ekor dan 16,07 ekor. Bahkan pada tahun 2017 bertambah lagi menjadi 16,69 juta ekor atau nyaris 1 juta ekor dibandingkan tahun sebelumnya.

“Demikian juga pada tahun 2018 peningkatan populasi sapi dan kerbau meningkat sekitar 1 juta ekor, yaitu menjadi 17,91 juta ekor,” tandasnya.

Sumber: pertanian.go.id

(Visited 42 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *